Prolog.

36 9 2
                                        


"Lihat, Ma! Jakarta pindah alamat, noh!"

Yang diajak bicara ikut menoleh. Melihat kearah yang ditunjuk oleh teman disampingnya itu.

Benar saja. Pemandangan didepannya saat ini memperlihatkan kemacetan dan padatnya halaman sekolah mereka pagi ini. Sudut-sudut halaman diisi dengan banyak kendaraan  beroda empat. Hanya sebagian kecil yang mengendarai roda dua. Ya, jelas ini seperti kondisi lalu lintas di Jakarta pada pagi hari. Meski tetap tidak separah aslinya.

Alma menggeleng pelan. Turun dari sepeda dan menuntunnya perlahan. Ia tau akan sulit memasuki kawasan sekolahnya jika ia tetap bertengger diatas sepeda putihnya itu.

"Ngga usah alay deh, Ra. Inikan tahun ajaran baru, jelas aja kalo sekolah kita rame. Lagian setahun sekali doang," ujarnya tenang.

Shara mengikuti gerakan temannya. Menuntun sepedanya pelan, "Gue sumpek liatnya. Rasanya kalo hari pertama ditahun ajaran baru gue pingin bolos aja sekalian,"

Alma mendecak, "Kalo lo masih ribut, gue tinggal,"
Segera Alma mempercepat langkahnya dengan terus menggandeng sepedanya itu.

Shara mengikuti dengan terus menggumam kesal.

Tiba ditempat parkit dengan susah payah keduannya mencari tempat mendiamkan sepedanya. Berbeda dengan Alma, Shara memiliki tempat favorit untuk meletakkan sepeda intense carbine factory 29er miliknya.

Sepeda dengan dominan warna hitam orange itu adalah sepeda kesayangannya. Ia mendapatkannya ketika ulang tahun yang ke empat belas. Sekitar lima tahun yang lalu.

Mata Shara terbelalak ketika mendapati tempat favoritnya telah ditempati. Sepeda feminim united TC3650, terdiam manis disana. Warna pinknya didominasi oleh abu monyet.

Sebelumnya tak ada seorangpun yang berani menempati singgasana sepedanya. Semua siswa tau siapa Shara. Tapi kenapa pagi ini ada sepeda asing didepan matanya??

"Wah, Ra, ada yang nantang lo, nih?" Alma yang melihat Shara bersungut-sungut mulai menggodanya.

"Jelas ini bukan sepeda cowok. Tapi kalo cewek siapa orangnya?"

Alma mengedikkan bahunya. Tak tau.

Tanpa berpikir lebih panjang, Shara segera mengangkat sepeda  united TC3650 keluar dari tempat parkir. Dan dengan cekatan meletakkan sepeda  intense carbine factory 29er miliknya disana. Belum puas dengan tingkahnya, Shara sengaja mendiamkan sepeda united TC3650 didepan area parkir.

Ia tersenyum puas melihat hasil kerjanya.

"Ra, lo, seriusan taroh sepeda itu disana?"

"Emang gue pernah main-main, ya?" jawab Shara enteng.

Alma menggeleng cepat, "Tapi ntar kalo kena razia, gimana? Itu ngga masuk tempat parkir,"

Razia sepeda. Diperuntukkan bagi sepeda-sepeda yang tidak diatur dengan benar didalam tempat parkir. Atau yang diletakkan di luar area tempat parkir. Khusus bagi para siswa-siswi SMA Harapan Bangsa.

Shara menyeringai jahil, "Bagus lah kalo kena razia,"

Setelah mengatakan itu ia beranjak meninggalkan Alma yang masih menatap heran dengan tingkah teman yang satu itu. Sebelum ia mengikuti langkah Shara, Alma memejamkan mata dan memanjatkan doa sebentar agar semua yang dilakukan Shara  tidak mengundang masalah baru pada awal tahun ajaran baru ini.

CKITTT..  BRAK!  BRAK!

"Wah, awas!"

"Ada sepeda woyy!"

"Yahh..!"

"Waduh, parah,"

"Kak sepeda gue.. "

Alma menoleh ke sumber kegaduhan dibelakangnya. Matanya membulat penuh, menyaksikan keadaan diarea parkir yang baru beberapa detik lalu ia tinggalkan.

Doanya tidak terkabul.

Lihatlah, sepeda united TC3650 yang baru saja Shara tinggalkan itu telah terguling dari posisinya. Dan yang lebih menyedihkan adalah ban kanan belakang mobil sedan silver tengah bertengger indah diatasnya.

Ya, sepeda united TC3650 manis itu hancur terlindas. Bahkan lebih parah daripada terazia oleh pihak sekolah.

"Shara!"

Panggil Alma cepat. Ia masih bisa melihat punggung Shara dari tempatnya berdiri.

Shara menoleh. Menaikkan sebelah alisnya. Mengisyaratkan -apa-lagi?-

Melihat respon Shara yang tak bersahabat. Alma hanya meneguk ludahnya dengan susah payah. Perlahan telunjuknya mengarah pada sepeda kejadian dibelakangnya.

Shara mengikuti telunjuk Alma. Matanya terasa ingin keluar dari tempatnya. Bagaimana mungkin sepeda united TC3650 itu bisa rubuh? Terlindas mobil pula?

Shara mendecak. Alma sudah berada tak jauh darinya. Terlihat sekali bahwa Alma menahan rasa gusar dalam hatinya.

"Lari!" bisik Shara.

Tanpa aba-aba lagi, ia segera menarik tangan Alma. Menjauh dari tempat kejadian. Pasti tidak akan ada yang melihatnya.

Kenapa mereka lari seperti itu?

Batinnya ketika melihat dua gadis dengan jilbab lari tunggang langgang. Mereka seperti menutupi sesuatu.

Matanya awas, menangkap gerak yang mencurigakan dari dua gadis yang baru saja meninggalkan area parkir itu

Perempuan didepannya sibuk memandangi nasib sepeda united TC3650 miliknya. Ia tak menyangka dihari pertamanya masuk sekolah akan mendapat kejutan seperti ini.

"Kak gimana sepedanya, nih?"

Laki-laki itu tersadar dari pandangannya.

Ia tersenyum.

"Ngga apa. Nanti lo balik sama gue dulu, sampe ada sepeda baru," ucapnya untuk menenangkan hati adik perempuannya itu.

Lawan bicaranya mengangguk pelan,  "Kakak bantuin jelasinnya ke mama sama papa,"

"Pasti,"

Entah kenapa ia kembali menoleh ke arah tadi. Berharap gadis tadi masih berlari di sana.

Namun nihil.

Ia kehilangan jejak.

                                🌈

📖  HappyReading!! 😘
👻  Don'tForget to Vote 👉🌟
👆  MyFirstStory  🌈Emblazon
😘  LoveYou All 💑💑

Salam.
🤗

EmblazonTahanan ng mga kuwento. Tumuklas ngayon