Tidak ada yang dapat mengalahkan suara jatuhnya butir-butir hujan kala itu. Suasana mencekam dibalut dinginnya udara malam-atau, lebih tepat subuh hari. Bahkan, tidak dengan alunan musik yang turut menggetarkan gendang telinga seorang insan lewat pengeras suara miliknya.
Lagi-lagi, ia tak dapat terlelap. Sesuatu menahannya untuk masuk ke dalam alam mimpi. Tidak, jauh sebelum masuk ke dalam alam mimpi. Ia sendiri tak tahu. Apa yang menghalanginya? Siapa yang menahannya? Sesuatu, atau seseorang? Ini sangat mengganggu. Lebih-lebih, terganggu karena tak mengetahui apa-apa.
Ketakutan semua orang, adalah tidak mengetahui penyebab dari ketakutan itu sendiri. Ia pun sama. Dan sekarang, ketakutan itu semakin menyelimuti dirinya, menggerogoti seluruh jiwa dan asa yang ia miliki. Mencoba untuk menahan agar tak terhabisi, ia menyembunyikan dirinya ke dalam pelukan selimut. Tubuhnya bergetar, entah karena dinginnya udara atau dinginnya pikiran yang tak kunjung pergi.
"Aku takut."
Dalam hati ia kerap mengulang kata-kata itu. Kau mungkin akan berkata, sia-sia mengulangnya. Sia-sia mengingatkan tubuhmu, perasaanmu, akan rasa itu. Tidak. Baginya, akan lebih sia-sia untuk mencoba keluar dari lingkaran setan ini. Tidak ada yang tahu jalan keluar itu. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada dirinya setelah berhasil keluar dari bayangan ini.
"Aku takut. Sungguh, sangat takut."
Tubuhnya boleh terbalut selimut, diberi sedikit kehangatan. Sayangnya, ia tak merasakan kehangatan itu sepenuhnya. Semuanya dingin. Tanpa sadar, jemari-jemarinya telah bergantian beradu dengan gigi yang tak cerah. Suara gertakan silih berganti menggema dalam kamar, tetutup oleh irama hujan yang kian tak berhenti.
Ia tak dapat mengontrol tubuhnya. Semua di luar kendali. Apa yang terjadi di luar sana? Bulir bening yang perlahan memenuhi jendela kamarnya? Selimut yang kaku dan tak menghangatkan? Pengeras suara tanpa melodi yang terputar? Jemari yang bergetar, berlawanan dengan tempo gertakan giginya?
Tak ada. Tak ada pikiran apapun yang lewat dalam otaknya. Memori, kenangan, bayangan, impian. Tidak semua. Ada yang salah, ia tahu itu dengan jelas.
Tapi, di mana? Apa yang salah?
Apa yang dapat ia perbaiki?
360 detik dalam posisi yang sama. Tak bergeming, tak bergerak sedikit pun. Tidak ada yang berubah, pun apa yang ia rasakan. Yang ia ketahui, ia membenci saat-saat ini. Dan enggan untuk masuk ke dalam kembali.
Walau ia juga sangat paham, kapanpun itu, 'sesuatu' dapat menghampirinya kembali. Seperti memori masa lalu.
