/1/
Sore itu, jalanan terasa begitu lengang, seakan semesta memberikan kesempatan untuk dua orang seperti kita saling menyadari perasaan satu sama lain, dia memakirkan motor di parkiran taman menuju bukit, kami naik ke puncak paling atas, untuk menyaksikan tuan senja datang sekejap untuk pergi lagi, berdua saja terasa begitu bahagia.
"bima, ayo cepet" kataku
"lo ngapain ngajak gue keatas bukit gini?" balasnya dengan raut wajah bingung.
"mending sekarang lo muter badan aja deh"
Bima pun memutar ke belakang mengarahkan tubuhnya ke arah sinar sang senja, laki-laki dengan tinggi sekitar 175cm yang memiliki mata tajam, rambut indah, bahkan bagiku semua bagian dari nya indah layaknya pelangi.
kini aku melihat senja dan pelangi dalam waktu bersamaan.
"waw" ucap bima
"waw doang?
"indah banget"
"senja memang indah bim, sayang cepat hilang"
Bima menghadap kearah gadis berambut tergerai itu.
"kalau lo?"
Tuhan, apa ini rasanya berdamai dengan semesta? Bersama dengannya melihat senja, membuatku lupa akan ilusi dan nyata.
Senja kau tak apa kan ku dua kan dengannya?
"kalau gue, selalu ada buat lo kok. Haha"
"gue suka sama lo ra"
Deg! Di sore hari yang begitu hening, jantung ku berdegup begitu kencang, tanpa sadar aku menanggalkan satu kata yang akan sangat berpengaruh untuk hari-hari yang akan datang dalam hidupku.
"aku juga suka kamu." ucapku.
Sambil menatapku, dia berkata
"kita sama-sama suka?"
Saat itu kita hanya tertawa, lalu dia mulai mendekapku, terasa begitu hangat dan juga nyaman, kisah yang dimulai oleh kesaksikan sang senja, terasa begitu sederhana, tapi luar biasa.
/2/
Aku terbangun di pundak adhyuta, sehabis memimpikan seorang yang pernah mengisi hidupku. Bima, dia selalu ada dalam pikiranku kapan pun itu, dia memenuhi isi kepalaku bagaikan setumpuk puisi yang tak sempat ku tuliskan, sering, sangat sering, keterlaluan. Aku hanya ingin melenyapkan pikiran ini, kenangan bertahun-tahun memang sangat susah di lupakan, apalagi tentang seorang pertama yang pernah masuk dalam bagian hati dan hidupku.
"duta, kenapa ya kita baru ketemu, kenapa aku harus kenal dia lebih dulu? Harusnya aku kenal kamu aja gausah kenal dia"
"manusia dihadirkan pertemuan untuk mengenal satu sama lain, yara. Anggap saja dia itu sebagai pembelajaran untuk kamu" katanya menenangkanku.
Adhyuta, seseorang yang sekarang hadir di hidupku, mungkin ia bagian dari takdir, setelah kepergian bima bertahun-tahun lalu, meninggalkan banyak kenangan, banyak sekali.
Duta itu seperti dewa penenang, yang dengan kata-kata saja bisa menenangkan kegelisahan ku.
Apakah memang seperti ini cara tuhan memberikan pelajaran kepada seseorang yang baru saja merasakan jatuh cinta? Duta, aku ga yakin kamu akan berbeda dari bima, hatiku kosong, pikiranku rumit, entah kau sudah segalanya atau bima yang masih segalanya.
YOU ARE READING
Rumit
PoetryMelupakan masa lalu, bagaimana bisa kalau masa lalu itu terus hidup dipikiran, terbayang-bayang meninggalkan jejak dimana-mana. Jadi seperti ini rasanya jatuh cinta pertama? Semua kenangan manis masih tersimpan rapih di segala sudut hati dan pikiran...
