keping 1

23 5 1
                                        

Ardit pernah sekali mencinta dengan begitu indah. Pernah mendamba dengan begitu puja. Juga pernah berakhir dengan begitu perih.

Satu kali.

Dan dia menjadikan itu yang terakhir.
Benar-benar terakhir hingga diri pun tak lagi sudi untuk mencicip afeksi.

Nama Riani menjadi alasan mengapa dia begitu trauma akan cinta.

Kali pertama mengenalnya, Ardit menganggap dia hanya satu dari sekian teman yang akan mampir di lembar kisah hidup.

"Dit, kenalkan. Riani dari sosiologi,"
Saat pertama kali Fariz memperkenalkan keduanya, Ardit merasa biasa.
Bahkan setitik rasa menggelitik di perut pun tak singgah.

Kesan pertama terlampau biasa untuk sebuah kisah yang berakhir membuatnya trauma.

"Ardit dari politik. Senang berkenalan denganmu, Riani"

Anggukan dan senyum menyapa pengindra Ardit.

Dan Ardit membalasnya dengan senyum yang biasa dia tampilkan.

Kali pertamanya sangat biasa. Berkesan datar, terlampau pasaran.

Riani datang sebagai satu dari segelintir mahasiswa yang membantunya menuntaskan tugas akhir. Menjawab kuisioner, menjelaskan alasan, dan sesekali memberi argumen.

Temu yang awalnya hanya sesekali dalam sebulan, berubah menjadi satu kewajiban di penghujung minggu.

Sabtu pagi Riani akan datang ke kosnya dengan alasan membantu lembar skripsi yang sedang Ardit kerjakan,

Lalu Jumat sore di minggu yang berbeda Ardit akan datang ke kos Riani untuk membawanya keluar dengan dalih melepas penat.

Senyum yang awalnya hanya formalitas, kini berubah menjadi tawa yang wajib didengar. Hadir yang semula enggan, kini berubah menjadi rutinitas. Rasa yang semula tak ada, berubah menjadi setitik keinginan memiliki dirinya.

Ardit masih ingat Kamis pertengahan Agustus. Saat langkah pertama dia ambil selepas sidang, saat itu pula retina menangkap hadir Riani yang entah mengapa terasa berkali lebih mempesona.

Riani datang dengan sebuket bunga dan rangkaian selamat yang begitu lancar.

Riani datang kala temannya yang lain berdalih sibuk.

Riani datang bagai sebutir harapan akan sebuah akhir bahagia.

Dan saat itu pula Ardit memutuskan untuk jatuh. Memutuskan untuk memuja. Memutuskan untuk mencinta.

Intensitas temu kembali berubah. Semula satu di penghujung minggu, kini satu dikala rindu.

Dia bisa datang kapanpun dia mau, dan mereka enggan menghitung berapa kali dalam seminggu.

Semua berjalan indah. Teramat manis.
Hingga ia lupa akan sebuah realita.

Bahwa sesuatu yang manis akan lebih mudah membuatnya bosan.

Tapi dia menampik hal tersebut dengan terus menyamankan diri pada sebuah hubungan yang tak tentu.

Tentang sebuah status hubungan yang sampai saat ini masih dipertanyakan, Ardit tahu pasti apa penyebabnya.

Keduanya enggan mengungkapkan.

Terlalu takut akan sebuah akhir yang di dapat.

Jadi keduanya berdalih menyamankan diri dalam zona. Atau justru hanya Ardit seorang.

Karena kadang, sikap Riani terlalu ganjil untuk di terjemahkan.

Seperti pagi saat Ardit berada di rumah selang dua bulan wisudanya.

Terhitung seminggu, Riani tak dapat dihubungi. Terhitung sebulan tak ada temu. Dan tak terhitung seberapa banyak timbunan rindu.

Ardit pikir mungkin, ya mungkin saja Riani sibuk dengan tugas semesternya. Jadi tak banyak yang bisa dia lakukan selain maklum.
Toh dia sudah pernah merasakan. Bahkan berkali lipat lebih memusingkan.

Untuk itu Ardit memutuskan keluar dan menyapa beberapa teman seangkatan yang berhasil wisuda bersamaan dengan dirinya.

Salah satunya Fariz.

Yang kemudian membawa kabar mengejutkan. Terlalu menakutkan untuk didengar.

"Kau tak tahu? Tiga hari lalu Riani menikah dengan tunangannya,"

Tunggu, apa ini?

Fariz bercanda?

"Tidak lucu,"

"Aku tidak sedang membual. Dari awal kau mengenalnya, dia sudah punya kekasih. Sejak kau rutin mengunjungi kosnya, dia sudah resmi menjadi tunangan orang,"

Saat itulah segala hal menjadi lebih jelas.

Tentang mengapa Riani tak pernah menganggapnya lebih dari teman.

Tentang mengapa dia membiarkan saja Ardit menemuinya seenak jidat.

Tentang Riani, yang bahkan tak bisa dibaca arti pandangannya.

Dan tentang hubungan keduanya yang tak pernah jelas.
.
"Jangan terlalu lama berada di zona nyaman. Zona nyaman itu menjebak,"
.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 04, 2018 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

L.A.R.AWhere stories live. Discover now