Pria itu berdiri disisi ranjang gadis kecil yang tertidur pulas dengan damai.
Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, lekukan bibirnya membuat siapa saja bergidik ketakutan.
○○•○○
Lisa terbangun dengan senyuman yang merekah bak bunga matahari. Wajahnya manis dengan potongan rambut pirangnya yang sangat pendek. Tidak lupa dengan kedua pipinya yang tembam dan memiliki lesung pipi di kedua sisinya. Gadis kecil itu berumur 7 tahun. Ia tinggal di rumah yang sangat besar ditemani oleh pelayan-pelayan yang baik. Ia melihat sekitar kamarnya yang mewah dan berhenti tersenyum saat ia melihat seorang pria dengan tubuh tinggi dan berpakaian layaknya bangsawan.
"Douglas?" Tanyanya dengan nada polos. Lisa menggenggam erat selimutnya yang berada di atas paha, tangannya gemetar tidak karuan.
Pria itu tersenyum misterius, ia menatap lekat gadis kecil itu. "Tertidur pulas, Tuan Putri?" Terdengar dengan jelas bahwa itu nada yang menyindir dan sarkastik, tapi Lisa tidak mengetahui hal itu.
Lisa hanya mengangguk mengiyakan. Tangannya yang gemetar tadi mulai mereda karena salah satu pelayannya masuk ke dalam ruangan itu. "Nona Lisa, sarapan sudah siap."
"Iya!" Lisa cepat-cepat turun dari tempat tidurnya dan menghampiri pelayan tadi dengan tergesa-gesa tanpa menghiraukan Douglas.
Pria itu mengekori Lisa. Lisa mendongak untuk melihat wajah pria yang tinggi itu. "Douglas ingin sarapan?"
Senyumannya tidak berhenti mengembang sejak tadi.
"Tidak."
"Kalau begitu kenapa mengikuti Lisa?"
Douglas hanya diam tetap tersenyum, itu membuat gadis kecil seperti Lisa ketakutan dan sedikit ngeri. Ia tidak terlalu peduli jika pertanyaannya di abaikan.
Ia melesat ke bawah ditemani sang pelayan yang sedari tadi tidak terusik dengan kehadiran Douglas. Sesampainya mereka di tempat ruang makan yang mejanya begitu panjang dan siap menampung lebih dari 20 orang, Lisa langsung duduk di bangku ketiga dari ujung. Dan Douglas ikut duduk dihadapan Lisa.
Pagi itu Lisa menyantap dengan lahap makanannya, tidak peduli pada pandangan yang terus menerus Douglas luncurkan kepadanya.
"Sudah waktunya." Ucap Douglas tiba-tiba.
Lisa yang masih berumur 7 tahun tidak terlalu mengerti dengan apa yang dikatakan Douglas. "Maksudnya?" Lisa memiringkan kepala yang menambah keimutannya.
Pria itu tersenyum masih seperti tadi. Jarinya terangkat tepat menunjuk ke kening Lisa.
"Sudah waktunya untuk mengakhiri imajinasi mu, Lisa."
"Maksud Douglas?"
Jarinya yang tadi menunjuk ke kening Lisa beralih untuk memegang pipi kanan Lisa dan mengelus-elus pipi gadis itu yang sangat lembut dan empuk. "Jika aku tidak menyelamatkanmu dua tahun yang lalu, kau pasti hanya akan memakan sampah, Sayangku."
Lisa terbelalak dengan kaget. Seketika itu juga ia ingat kejadian yang menimpanya dua tahun lalu.
Lisa yang saat itu masih berumur 5 tahun di lelang di pasar gelap oleh orang tuanya. Ia begitu ketakutan, pasalnya banyak pasang mata yang menatapnya dengan pandangan lapar. Selama perjalanan menuju 'panggung' Lisa hanya menundukkan wajahnya, menatap sepasang borgol yang berada dikedua tangan mungilnya. Ruangan itu besar dan gelap, tapi Lisa masih bisa melihat orang-orang yang ada di depannya --orang-orang yang menonton-- kebanyakan dari mereka memakai topeng.
