Saat itu hujan baru usai turun membasahi bumi Parahiyangan, kota Bandung. Aku melihat dia dan seorang wanita muda datang bersamaan. Mereka datang dengan mengendarai mobil pribadi lalu turun menghampiri tempat kami. Aku saat itu sedang berada di ruang depan. Lebih tepatnya ruang penerimaan tamu.
Selintas, aku melihat mereka tidak ada yang membuatku ganjil. Aku melihat mereka seperti orang-orang pada umumnya, sempurna. Apalagi dari pakaian yang mereka kenakan cukup menampakkan jika mereka orang berada.
Dan yang aku sebut dia adalah gadis remaja pada umumnya. Berpakaian cukup fashionable dan modis ditambah kacamata hitam yang dipakainya menambah ia bak model yang sedang fashion show, berlegak-legok di backstage. Sedangkan wanita muda bersamanya itu seperti wanita-wanita sosialita yang pernah aku baca di majalah-majalah wanita dewasa. Mereka benar-benar sempurna. Tidak ada sesuatu yang menurutku aneh.
Dia yang berambut hitam mayang, panjang. Bibirnya tipis. Ada sedikit cekungan di pipinya yang tirus. Paras rupanya sedikit oriental. Begitu manis. Tubuhnya tidak terlalu tinggi. Cukup semampai untuk ukuran cewek macam dirinya. Tipe ideal para cowok yang ingin mendambakan seorang kekasih.
Sial. Wajahnya terus melekat di pelupuk mataku. Apakah ini yang disebut firt-sight?
"Maaf menggangu apa ini tempat para difabel tunanetra untuk mengembangkan bakat dan keterampilan?" ucap wanita muda tiba-tiba mengejutkanku.
Aku sesaat tidak menjawab ucapan wanita tadi. Masih terkesima dengan kecantikan yang dimiliki dia.
"Maaf mengganggu apa benar ini..."
Belum habis wanita muda itu melanjutkan ucapannya aku langsung bangkit. Aku potong ucapannya itu.
"I-iya, benar!" seruku.
"Apa bisa dibantu?" lanjutku.
"Apa ini tempat para difabel tunanetra untuk mengembangkan bakat dan keterampilan?" tanya wanita muda tadi mengulanginya.
"Benar sekali!" pungkasku.
"Memang untuk siapa ya, Bu?" tanyaku penasaran.
"Ini untuk Meta. Anak saya."
Aku langsung mengalihkan pandang ke arah dia yang sejak tadi tersenyum. Orang yang sejak tadi kuamati saat menghampiri tempat kami layaknya orang pada umumnya. Ternyata...dia penyadang cacat tunanetra seperti yang lain berada di tempat ini. Tempat para difabel tunanetra yang ingin mengembangkan bakat dan keterampilannya.
Ya, aku dan kawan-kawanku membangun sebuah komunitas ini untuk mereka. Awalnya aku dan teman hanya iseng memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk mengisi kekosongan. Akhirnya kami menemukan ide untuk menjadi suka relawan bagi mereka para difabel tuna netra. "Menjadi Mata", itu nama komunitas yang kami namai. Sesuai apa yang kami lakukan. Kami ingin menjadi mata untuk mereka.
Kegiatan "Menjadi Mata" dilakukan setiap weekend. Kami tidak mau mengganggu kegiatan wajib kami satu sama lain. Walau kadang-kadang weekend pun banyak yang harus dilakukan, tapi anggota relawan kami terbilang cukup banyak. Jadi mampu untuk membimbing semua para tunanetra.
Kembali, membicarakan dia yang menurutku tidak menampakan orang-orang difabel tunanetra. Dia sama sepertiku. Sempurna. Tidak ada satupun kekurangannya.
"Iya, Kak! Nama saya Meta Cara Ravenska. Atau, panggil saja Meta," sambil mengulurkan tangannya yang dibantu wanita muda tadi yang menurutku Mamanya. Aku pun membalasnya uluran tangannya.
Saat aku memegang tangannya. Sungguh begitu lembut dan halus saat kusentuh. Tubuhnya wangi aroma vanilla.
"Saya, Aslan. Salah satu relawan tempat ini. Selamat bergabung ya, Meta. Semoga kamu betah."
Akhirnya Meta menjadi anggota komunitas yang kami dirikan. Itu semua karena kami peduli dengan kaum difabel tunanetra. Aku dan kawan-kawanku adalah relawannya. Kami murni membantu mereka, Tanpa imbalan apalagi mengambil keuntungan. Kami hanya bekerja suka rela. Lebih tepatnya memberikan ilmu keterampilan yang kami miliki tanpa imbalan sepersenpun.
Sejak saat itulah aku mengenal Meta dengan dekat, Aku selalu berdua dengannya. Terlebih saat ada pemberian bimbingan atau pelatihan akulah yang mendampinginya. Apalagi aku sudah dipercayakan oleh kedua orangtuanya untuk selalu mendampingi Meta. Meta yang ternyata anak sulung mereka.
"Apa yang kau suka?" aku mencoba mencari tau lebih tentang dirinya.
"Aku suka tanah liat."
"Tanah liat?"
"Aku sering membuat sesuatu dengan tanah liat di rumah. Ibuku pengerajin tanah liat yang hebat, barang-barang yang dihasilkannya telah di impor sampai ke Negara Jepang," jelasnya.
"Benarkah? Kalau begitu bisakah kau mengajariku?"
"Tentu saja. Berkunjunglah ke rumahku kak, kita bisa membuatnya bersama."
Lalu kami melanjutkan kegiatan yang lain. Hari-hari yang aku lewati terasa begitu indah karena dirinya. Menjadi relawan disini banyak mengajarkanku tentang kuatnya menjalani hidup.
Pernah ada tunanetra disini yang mampu menggunakan sepeda kemanapun. Berbekal teknologi sensor yang di pasang pada sepedanya, ia bisa menentukan kemana arahnya pergi dan menghindar bila ada sesuatu di depannya. Itu teknologi yang sangat canggih.
Sampai pada suatu hari aku mencoba menjadi mereka. Berjalan dengan mata tertutup. Setelah itu aku membuat kericuhan karena menabrak orang sembarangan, bahkan hampir tertabrak truk yang melintas. Yang aku rasakan hanya kegelapan. Bisingnya kota seakan tidak ada apa-apanya jika kau tidak melihat. Berjalan tanpa tau harus kemana, melewatkan indahnya dunia semasa berada di semesta.
Aku berpikir jika ini yang terjadi dalam hidupku, mungkin aku aku mencoba mengakhiri hidupku terlebih dahulu, atau diam dirumah dan mengatakan sumpah serapah pada tuhan. Mungkin ada yang berpikiran sama denganku, atau justru sebalikanya. Dan yang terjadi sekarang, di tempatku menjadi suka relawan aku melihat, nyatanya mereka kuat.
Sebulan sudah, tidak terasa Meta sudah berada di tempat kami. Kini dia sudah berbaur dengan anggota sesama difabel tuna netra lainnya. Saling bercerita, bercengkerama bahkan sampai membicarakan tentang sesorang yang mereka sukai. Entah, bagaimana cara mereka mengutarakan kesukaannya pada seseorang hanya mereka yang tahu. Halnya aku yang telah menyukai Meta akhirnya.
Seperti biasa di komunitas "Menjadi Mata" di tempat kami. Aku dan kawan-kawanku sebagai relawan selalu mengadakan nonton bareng dalam sebulan sekali. Jangan salah. Ya, jangan salah, kalian kira mereka tidak butuh hiburan untuk menghilangkan rasa kejenuhan selama mereka belajar di tempat kami. Mereka punya itu. Seperti aku dan dan para relawan di tempat ini. Walaupun indera penglihat mereka tidak berfungsi.
Akhirnya sesuai jadwal rutinitas setiap sebulan sekali, kami melakukan nonton bareng bersama para anggota dan pendampingnya sebagai relawan. Pada saat kegiatan inilah kadang ada kelucuan bahkan keharuan tampak. Kami sebagai relawan pun melakukannya sebisa mungkin. Tetap tegar untuk melakukan yang terbaik untuk mereka. Walau kadang kami juga larut saat acara itu berlangsung. Acara nonton bareng. Kami menjadi pembisik sekaligus menjadi mata untuk mereka.
Singkat kata, aku mendampingi Meta. Kami duduk berdampingan. Layar lebar pun diputar akhirnya kami menonton. Oh, bukan! Bukan, mereka tapi kami, para relawan yang menonton lalu sebagai pembisik dan menjadi mata untuk mereka.
Jika kalian ingin tahu film apa yang aku tonton bersama para relawan lainnya. Tidaklah berbeda dengan yang aku rasakan saat ini. Aku jatuh cinta pada Meta. Gadis yang masih bersekolah di SLB A tingkat SMU. Aku telah menyukainya sejak ia datang!
Jingga, itu judul film yang kami tonton. Film yang menceritakan difabel tunanetra yang memiliki cita-cita untuk bermusik dengan dibungkus pula dengan berbagai polemik percintaan dan kecemburuan pada orang dicintai. Tapi menganggap sebagai teman saja. Tidak lebih. Hingga berakhir dengan sebuah kematian yang menyayat hati. Itu hal yang paling aku benci. Tapi karena tugasku sebagai pembisik aku pun harus melakukannya.
"Akhirnya Marun membesarkan dirinya. Walaupun rasa cemburu dan sakit kanker darah yang ia rasakan tidak begitu saja hilang. Tapi demi persahabatan dan cita-cita mereka untuk bermusik ia melupakan itu semua. Ia kembali bergabung dan meminta maaf pada Jingga. Hingga akhirnya maut menjemputnya..."
Aku terus membisikkannya ke telinga Meta. Kucoba menerakan apa yang kulihat. Lalu kuceritakan pada Meta. Ajaib, dia menangis. Merasakan keharuan yang dalam dengan apa aku kuceritakan.
"Kamu menangis?" tanyaku.
"Iya, Kak!" serunya.
"Aku sangat terharu dengan apa yang Kakak bisikkan dari cerita yang Kakak tonton."
"Oh, begitu. Lalu bagaimana jika itu terjadi padamu?" tanyaku memancingnya.
"Ya, aku lebih baik mengalah demi sebuah persahabatan dan cita-cita seperti apa yang dilakukan Marun pada teman-temannya itu termasuk Jingga," ucap Meta. Dalam.
"Jika andai ada seorang yang menyukaimu. Tapi dia bukan difabel semacam kamu. Apa kamu menerimanya?"
Sial. Saat aku berkata seperti itu di dalam ruang kedap suara yang tadi memutar film itu sangat berisik. Hingga mengganggu pendengaran Meta tentang apa yang sudah aku ungkapkan tadi.
"Tadi Kak Aslan ngomong apa?"
Akhirnya Meta berkata kembali seusai keluar dari ruangan itu. Saat itu kulihat awan begitu cerah. Lalu mataku tidak sengaja melihat sepasang kekasih yang salah satunya difabel tunanetra dan yang satunya tidak. Mereka begitu cocok dan romantis.
Usai kulihat pemandangan yang mengharu-biru itu. Aku melihat Meta berada di sampingku sedang mengecap lollypop yang kami beli di tempat tadi kami menonton. Dia begitu sempurna untukku.
Cuaca hari ini cukup mendukung, aku pikir kami bisa berjalan-jalan sebentar untuk sekedar mengisi kekosongan.
Kami mampir ke salah satu tokoh bunga, Meta senang dengan wangi bunga-bungaannya. Ia terus bertanya jenis bunga apa yang ia cium wanginya. Bisa disimpulkan ia senang bunga wisteria, yang sering orang sebut bunga sakura.
"Kau suka bunga ini."
"Aku suka wanginya,"
"Kalau begitu kita beli yang itu,"
"Sungguh?"
"Apa aku terdengar seperti sedang bercanda,"
"Kalau begitu terima kasih."
Lalu kami kembali ke tempat difabel. Diperjalanan hanya satu kalimat yang aku ucapkan.
"Meta apakah kau mau aku menjadi mata keduamu?"
Akhirnya kubisikkan juga ke telinga Meta. Saat itu bumi sejenak berhenti. Begitu dengan Meta yang tiba-tiba lollypop yang dipegang terhempas. Jatuh. Lalu berkeping-keping. Dan aku tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk meyakinkan kalau aku mencintainya.
