"Wanda, bolos yuk"
Gadis itu berbisik pada teman sebangku nya; Wanda. Btw, Mereka lagi di kelas. Jadi bisik- bisik tetangga deh.
"Sialan, udah mau jam satu. Bentar lagi pulang."
Bisik Wanda dan di balas helaan nafas kecewa dari sahabat nya.
Niat awal nya mau ngajak Wanda nongki bareng, pupus sudah.
Ternyata Susah ya, kalo mau ngajarin orang yang polos jadi berisi.
"Winda! Wanda!, mau gantiin Ibu di depan?"
Sontak, seisi kelas menatap pada mereka berdua; 'Double W'
Winda dan Wanda. Bukan saudara, Tapi selalu barengan. Memiliki kepribadian yang begitu bertolak belakang. Tapi entah kenapa kedua nya bisa sahabatan.
"Loh, Bu. kok saya?" Itu Wanda, dia gak terima. Secara yang ngajak bicara diluan itu Winda bukan dia.
"Yang jelas, Ibu liat kalian berdua disitu bisik-bisik. Sekarang maju kedepan, kerjakan soal yang baru aja Ibu kasih"
Mau gak mau, Wanda berdiri dan maju ngambil spidol yang di sodorin Bu Ita, buat ngerjain soal di papan. Dan dalam hitungan menit, soal nya sudah terjawab. Beruntung. Walaupun mageran tapi Wanda itu orang nya pintar mampus. Beda sama Winda yang aktif tapi level nya di bawah Wanda. Salah satu perbedaan Double W ini ya otak.
Bu Ita nganggukin kepala nya pas liat jawaban Wanda.
"Yaudah. Sana duduk"
Wanda balik ke tempat duduk nya; yang ada di paling belakang trus pojok dekat jendela. Winda yang ngeliat Wanda jalan kearah nya hanya bisa nyengir kuda, bilang 'makasih' tanpa suara, tapi di tangkep sama Wanda dan bales berdecih, seolah bilang 'seneng lo?'
"Winda, sekarang giliran kamu. Maju."
"Matik"
"Rasain"
Dan kelas terakhir di akhiri dengan Winda yang sama sekali tidak menjawab soal nya sama sekali.
____^_^____
"Winda, laper. Ke warung yang kemarin lo bilang ke gue yuk!"
Wanda ngerangkul Sahabat nya itu, sebenar nya Wanda mau langsung pulang, tapi gak jadi waktu ngeliat teman sebangku nya sama sekali gak bicara sejak kelas terakhir tadi. Ada yang aneh. Pikirnya.
Dan Wanda tambah gak paham waktu sahabat nya itu nepis tangan nya yang bertengger di bahu nya
"Maaf, lo siapa ya?"
"Ngambek lo najis tau gak"
"Bodo"
"Mau kemana lo!?" Wanda sedikit teriak sama Winda yang udah jalan agak jauh di depan nya.
"Katanya laper, ayok!"
Wanda senyum, trus ngikutin Winda dari belakang.
.
.
.
.
.
"Eh Non Wanda, tumben. Mau pesen apa?"
"Kaya biasa nya aja Bu, Bakso sama es teh nya satu"
"Siap Non, duduk aja dulu. Btw non winda nya pesen apa?, ibu lupa tanya tadi, soal nya udah di luan cabut sama temen-temen nya"
"Kata Winda tadi dia pengen bakso, jadi samaan aja sama punyaku Bu"
"Woke, Ibu tinggal ya"
"Iya Bu"
Gadis itu melangkah keluar warung di mana ada Winda bareng temen-temen nya lagi ngobrol, Wanda melangkah ke meja yang ada dua kursi saling berhadapan, agak jauhan dari Winda yang lagi ngobrol. Gak suka rame, maunya sepi.
KAMU SEDANG MEMBACA
PER(V)ECTING
Fiksi Remaja"mimpinya hanya untuk menyempurnakan cinta ini, selagi tubuhnya masih menampakkan kedua kakinya di atas tanah, debaran yang ia miliki tak akan pernah berakhir"
