Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

Satu.

8 0 0
                                        

Meski malam semakin larut, tapi sepertinya pak kumis tidak terlihat akan mengakhiri ceramahnya dalam waktu dekat. Dengan sisa tenaga yang ada, Nada memperhatikan pak kumis, mencoba menangkap apa isi dari ceramahnya. Seorang perempuan yang duduk disebelahnya menguap lagi. Entah sudah berapa kali perempuan itu menguap. Laki-laki gendut dengan kacamata bulat yang dari tadi memperhatikan ceramah pak kumis dan duduk sebrangnya perlahan mulai menunduk. Sedetik kemudian laki-laki gendut itu mengangkat kepalanya dan bergidik. Dilepasnya kacamata itu kemudian ia memijat pangkal hidungnya. Matanya kembali tertuju pada pak kumis dan tidak lama kepalanya mulai layu lagi. Nyatanya aktifitas orang-orang lebih menarik perhatian Nada dari pada ceramah pak kumis. Tanpa kembali mendengarkan ceramah, Nada mulai memainkan ponselnya. Tangannya bergerak membuka aplikasi instagram.

"Pst."

Hening.

"Nad."

Hening.

"Woy!"

Nada terperanjat begitu sebuah bola kertas mengenai ponselnya. Begitu mengangkat kepalanya, semua mata tertuju padanya. Begitu juga dengan pak kumis.

"Maaf, pak. Tadi ada whatsapp dari mbak Kinan." Kata Nada begitu menyadari tidak ada satupun yang akan mengatakan sesuatu.

"Tolong bilang sama Kinan rapat selanjutnya dia saja yang hadir dari pada diwakilkan sama kamu yang nggak memperhatikan."

Nada meringis, "Maaf. Baik, pak."

Pak kumis kembali melanjutkan ceramahnya sambil memberikan sindiran-sindiran yang Nada yakin itu adalah untuknya. Rupanya butuh waktu lama untuk pak kumis mengakhiri ceramahnya. Begitu rapat resmi ditutup, tanpa menunggu pak kumis keluar dari ruangan beberapa orang sudah lenyap.

"Kalau kamu ingin dihargai orang lain, tolong hargai orang lain terlebih dahulu." Kata pak kumis begitu melewati Nada yang sedang merapihkan kemeja bagian bawahnya yang kusut.

"Baik, pak." Kata Nada sambil sedikit menunduk.

Pak kumis keluar dari ruangan tanpa membalas perkataan Nada.

"Sukurin lo!"

"Sialan lo ya!" Kata Nada sambil menjitak kepala laki-laki gendut yang tadi menunduk selama ceramah berlangsung. "Lo juga tadi tidur!"

Laki-laki gendut itu terkekeh, "Sori ya gue mah hoki. Tidur juga gak ketahuan sama pak bos."

"Terserah lo deh!"

Nada keluar dari ruangan itu diikuti laki-laki gendut tadi.

"Bambang! Tungguin!"

Laki-laki gendut yang dipanggil bambang itu menggerutu, "Nama gue Bams, be-a-em-es! Bukan Bambang!"

"Di akte kan Bambang."

Bambang Setiawan, atau yang sering minta dipanggil Bams itu adalah fans berat Mega. Mega sendiri adalah teman bimbel Nada pas SMA. Entah bagaimana keduanya dipertemukan kembali di kantor yang sama. Nada dan Mega menjadi akrab karena keduanya merasa punya suatu ikatan. Sejak akrab dengan Mega, Bambang yang ternyata ngefans berat sama Mega ini jadi ikut-ikutan akrab sama Nada. Mereka bertiga, ralat, berempat dengan Kinan adalah teman akrab di kantor. Berbeda dengan Mega dan Bams, Nada sudah mengenal Kinan sejak kuliah. Kinan adalah teman sekelas sekaligus tetangganya di kosan dulu.

"Yah hujan." Kata Mega.

Nada melihat keluar. Jalan raya sudah sepi, hanya satu-dua mobil yang lewat. Berkat ceramah pak kumis yang amat sangat panjang, mereka bertiga terpaksa pulang larut malam. Dimana lagi ada perusahaan yang membuat karyawannya pulang selarut ini?

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 02, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Sing For YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang