Prolougue
Iri hati, pendustaan dan penghianatan adalah sifat manusia yang ku paling benci di dunia ini. Salah satu dosa besar besar manusia 'Envy'.
Di bandingkan dengan enam dosa besar manusia besar lainnya, Pride, Wrath, Greed, Sloth, Gluttony dan Lust.
Karena aku adalah salah satu mahluk hidup yang terus di hantui oleh dosa Envy sejauh yang bisa aku ingat di dalam hidupku. Orang tua yang memiliki ego besar dan terus iri hati terhadap orang lain dengan topeng suci, yang pada akhirnya dari satu dosa ke dosa lain, Greed. Saudara yang tak bisa lepas dari Pride, tetapi berakhir iri hati terhadap orang di atas mereka dan melakukan pendustaan dan penghianatan. Teman yang terus berdusta agar aku tak lebih senang dari mereka, yang berakhir pada penghianatan saat aku mencoba melompat kedepan mereka, hanya untuk dapat tersenyum lega.
Hidupku berakhir karena satu dosa besar manusia yang tak pernah lepas dari mereka, dan terus menggrogoti manusia. Tapi itu juga salah satu fitur yang membuktikan kamu adalah seorang manusia, dan karena itu aku tak bisa menyebut diriku manusia, karena diriku hanya punya dua dosa Sloth dan Lust. Tak ada hasrat, tak ada amarah, dan tak ada kebanggaan. Tubuh kurus ini tentu jelas menggambarkan bahwa Gluttony bukan salah satu dosaku. Makan secukupnya, makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang.
Dua itu adalah dosa yang aku punya sepanjang aku hidup. Akan tetapi di ambang akhir hidupku, aku sadar akan satu hal, kenyataan aku sangat membenci dosa Envy-nya manusia. Karena dosa itu hidupku berakhir dengan mengenaskan, tak cukup dengan hidup yang teramat menyedihkan, akhir bagiku pun mengenaskan. Di khianati oleh orang yang membisikan 'Cinta' di telingaku. Aku bisa menduga kenapa dia menghianatiku, singkat saja, karena aku sudah tak ada manfaatnya lagi. Mengenaskan bukan?
Walaupun di saat tubuhku remuk di hantam bagian depan truk, aku masih tak mengerti kenapa manusia bisa takluk dengan satu dosa. Satu dosa yang menggerakkan meraka bagaikan boneka, tak punya alasan. Satu dosa yang membuat manusia memeluk dosa yang lain demi kepuasan hati mereka yang telah terbakar oleh iri hati.
Di saat otakku mulai berceceran hanya satu dosa yang merangkulku erat. Dosa yang membuatku meminta "Bila aku di hidupkan kembali, tanpa gagal akan aku hapus setiap jiwa manusia yang ada di dunia ini!". Dosa yang membuat permintaanku di jawab oleh tuhan. Dosa amarah, kebencian dan dendam, Wrath dan tuhan menjawab permintaanku adalah Lyssa Goddess of Madness and Punishment.
"Aku Lyssa, The Goddess of Madness and Punishment"
"Aku telah mendengar permintaanmu wahai anakku."
"Akan aku penuhi permintaanmu dengan memberi kehidupan kedua untuk mu."
Kesadaranku terputus dari tubuhku dan kegelapan mulai merambat menyelimuti hingga tidak tersisa setitik cahaya yang tersisa.
Di dalam kegelapan yang pekat, aku terombang ombang-ambing. Perlahan tapi pasti, tubuh yang merupakan perwujudan tubuhku mulai sedikit demi-sedikit di gerogoti oleh kegelapan.
Tapi aku berusaha melawan.
Di tengah pergumulanku dengan kegelapan yang berusaha menelanku. Suara dari Lyssa terdengar lagi.
"Tapi akan aku lakukan ketika dirimu bisa membuktikan bahwa amarahmu itu nyata dan bukanlah sesuatu yang terjadi karena dirimu di ambang kematian."
"Buktikan bahwa amarahmu itu dari dalam hatimu yang terdalam dan terukir selamanya di sana."
Huh, berarti semua tidak dengan percuma. Bila aku hanya untuk membuktikan amarahku nyata bukanlah sesuatu yang susah bagiku. Aku punya jutaan ingatan yang membuat darahku mendidih.
Semua pendustaan yang pernah di berikan padaku. Semua penghianatan yang pernah ku rasakan. Dan semua iri hati yang merusak hidupku dan masa depanku. Dan banyak kenangan teramat pahit lainnya.
Membuktikan amarah ku?
Kebodohan apa yang di katakan oleh Goddess of Madness and Punishment ini.
Tentu saja amarahku tak bisa di sampaikan dengan sekedar kata-kata. Amarah yang akhirnya aku sadari aku miliki di detik akhir hidup. Amarah yang ternyata sudah lama berdampingan dengan diriku. Amarah yang selama ini membuatku tetap bertahan tanpa aku sadari. Amarah yang ku pikir tak pernah ada sama sekali sebelumnya.
Sepertinya aku mengerti apa yang di maksud 'membuktikan' amarahku. Dia ingin aku menyadari bahwa amarah yang aku miliki ini adalah dosa terbesarku, Sins of Wrath.
Semakin aku mengingat akan amarahku, semakin panas badanku terasa. Panas di kegelapan yang menyesakkan, semua ini di sebabkan oleh amarahku. Amarah yang sudah menjadi satu denganku. Membuatku menjadi gumpalan amarah.
Aku pun bertanya pada Lyssa "Apa lagi yang harus aku buktikan selain hati dan jiwa yang sudah di warnai sepenuhnya oleh amarah ini?"
Entah kenapa, aku merasa Lyssa tersenyum mendengar pertanyaanku.
"Akan aku berikan kau ingatanmu di kehidupan sebelumnya, bersama amarahmu."
"Dan akan aku berikan sedikit hadiah untukmu, agar dirimu dapat memenuhi dendammu."
"Akan tetapi ini bukanlah duniamu yang dirimu kenal lagi."
Re:Start
Sebuah suara yang berniang di dalam kegelapan panas. Ini pasti rasanya sebuah kematian, gelap, panas dan sejuk di keningku yang sesaat. Sejuk? Sesaat?
Aku tersadar bahwa kenapa aku dapat tetap befikir seperti biasa, dan apa rasa sejuk dan di keningku ini. Aku tak tahu apa yang terjadi sampai aku mendengar sebuah lantunan yang membuat hatiku terasa sakit dan air mataku mulai mengalir.
Berusaha membuka mata yang tertutup rapat, aku merasakan air mata di pipiku di bilas dengan sentuhan lembut nan hangat, membuatku semakin berusaha membuka mataku.
Ketika mataku terbuka cahaya terang mulai mendobrak masuk ke mataku. Perih, mencoba melindungi mata dengan tangan, tapi tak mampu.
Mataku sudah mulai terbiasa dengan cahaya yang benderang, bagaikan mata yang telah lama terkurung di kegelapan. Genangan air mata menyelimuti penglihatanku, seseorang terlihat berada di dekatku, bersenandung.
Perlahan, sosoknya terlihat jelas, seorang wanita berambut silver berkilap memantulkan cahaya. Wajah cantiknya di hiasi senyuman selagi bersenandung. Dan ketika dia mulai mengganti sesuatu yang ada di keningku, dia terkejut melihatku yang memandanginya.
"AZAZEL!"
"Azazel syukurlah kau akhirnya terbangun!" serunya sambil memeluk tubuh lemasku.
Kehangatan yang tak pernahku rasa mengalir dari permukaan kulitku langsung kehatiku, membuatku berusaha merangkulnya bagaikan tak ada esok. Dan isak tangis pun mulai terdengar sayup di telingaku "Hiks, syukurlah Azazel kau telah bangun, jangan tinggalkan ibumu sendiri..."
Azazel, nama di sebutnya, aku sadar itu adalah namaku, namaku di sini, Azazel Lionheart. Dan wanita yang merangkulku adalah ibuku Shidonai Lionheart.
Sedikit demi sedikit ingatanku mulai kembali kepadaku, menyadarkan ku pada kematian yang telah aku lalui.
Kulitnya terasa halus, rambutnya harum bak untaian lavender, menenangkanku. Menghanyutkanku kembali ke dalam lelapku.
YOU ARE READING
Way of Demon Lord
AdventureEnvy adalah salah satu dosa manusia yang menggrogoti keseluruhan. Dosa yang aku paling benci, dosa yang membuatku kehilangan banyak hal, termasuk hidupku. Bila aku di izinkan untuk membalaskan dendamku pada seluruh manusia, akan aku hapuskan seluruh...
