-'Harapan'ku-

183 55 107
                                        

Setelah kehilangan segalanya dan dijadikan bahan ejekan orang-orang, satu-satunya cara yang kutemukan untuk melarikan diri hanyalah dengan bunuh diri. Meski aku tahu bahwa itu salah, tapi aku sama sekali tidak menemukan cara lain untuk melarikan diri. Aku sudah benar-benar ditelan oleh keputusasaan.

Ku kumpulkan seluruh tekad dan keberanianku. Dengan penuh ketidaktenangan aku melangkah menuju tepi atap gedung tak berpagar ini. Air mata mengalir seiring langkahku, ketakutan dan kesedihan memenuhi diriku dan membuatku merasa begitu sesak.

Begitu telah berada tepat di tepi atap, tubuhku menegang dan terdiam dalam sekejap. Tangisanku pecah begitu saja, karena jauh didalam hatiku aku masih mengharapkan harapan yang mampu membawaku keluar dari segala masalah yang tengah ku hadapi. Tapi aku juga tahu, bahwa harapanku itu telah pergi dan mungkin takkan pernah kembali lagi.

Aku pun mengambil langkah terakhirku. Tubuhku yang tak lagi berpijak seketika tertarik gravitasi dan terjun dengan begitu cepat.

Aku sudah benar-benar tak lagi peduli dengan apa yang akan terjadi pada diriku. Satu-satunya yang terlintas dipikiranku hanyalah jawaban apa yang harus ku katakan pada Ayah dan Ibu begitu kami bertemu. Yah, meski aku tak tahu apakah kami dapat bertemu di akhirat nanti. Begitu tubuhku telah mendekati daratan, sebuah kalimat terucap dari mulutku.

"Ayah... Ibu... maafkan aku."

Bruukkk!

Benturan keras seketika mengagetkan orang-orang yang tengah berlalu-lalang di jalanan. Begitu melihat sosok tubuh terkapar bersimbah darah, orang-orang pun menjadi panik dan ricuh. Sebagian besar orang menjadi histeris, dan hanya sedikit orang yang cukup tenang dan segera menghubungi polisi maupun ambulan.

Tak lama setelah tubuh itu terjatuh, pihak keamanan gedung segera mendatangi lokasi kejadian. Bersama beberapa orang, mereka mengamankan korban dengan berusaha menutupi tubuhnya. Terutama dari orang-orang yang justru mengambil kesempatan dan mengabadikan momen tersebut.

Setelah hampir dua puluh menit berlalu, pihak polisi di susul sebuah ambulan sampai di lokasi kejadian. Dengan mudah pihak posili mengamankan area, sementara staf ambulan mengamankan korban.

Satu minggu berlalu.

Didepan sebuah rumah sakit, sebuah mobil hitam mewah terhenti. Dari dalam mobil, keluarlah sosok pria dengan pakaian sederhana dan kacamata hitam yang menggantung tepat di saku kanannya.

Pria itu bertolak pinggang. Melihat ke kiri dan ke kanan, memperhatikan sekitarnya. Lalu setelah itu, pria itu berbalik arah. Menatap ke arah sosok lain yang duduk di kursi kemudi.

"Pergilah! Aku akan pulang dengan bis atau taksi."

Sosok yang tak lain adalah supir itu hanya mengangguk. Dengan segera sang supir menjalankan mobilnya dan berbalik arah. Setelah sang supir dan mobilnya telah tak terlihat, barulah pria itu berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Didalam rumah sakit, pria itu berjalan menuju meja resepsionis dan bertanya.

"Permisi, apakah di rumah sakit ini terdapat pasien bernama Silva Devnanda?"

"Silva Devnanda? Tunggu sebentar." Sang resepsionis pun mengetik nama yang ditanyakan.

"Ah, dia adalah gadis yang mencoba bunuh diri seminggu yang lalu." Tambah pria itu.

"Oh! Pasien itu berada dilantai 4 kamar 112. Jam besuk berakhir pada pukul 16.30." Terhenti dari kegiatannya mengetik, sang reseptionis langsung menjawab.

"Terima kasih." Pria itu langsung meninggalkan meja resepsionis dan berjalan menuju lift yang terletak tak jauh dari meja resepsionis.

Pria itu memasuki lift bersama beberapa orang lainnya. Ia berdiri di dekat pintu dan setelah pintu lift tertutup ia langsung menekan tombol berangka 4. Dengan sopan Ia juga menanyakan lantai tujuan dari orang lain yang bersamanya dan sekalian menekan tombol angka dari lantai yang disebutkan.

"Harapan"Where stories live. Discover now