Aku Lina,aku duduk di kelas 11 SMA Mulya. Aku bercita cita menjadi dancer profesional karena aku sangat suka menari tapi,ayahku tidak memperbolehkan aku menjadi seorang dancer jadi aku pikir aku akan menjadi penata rias. Akan tetapi ibuku berkata "sebaiknya penata rias kamu jadikan sebagai kerja sampingan saja karena jika kamu menjadi penata rias gak bisa menjamin kehidupanmu dalam jangka waktu panjang,carilah cita cita baru yang bisa menjamin kehidupanmu" Lalu aku berpikir untuk menjadi dokter kecantikan,tapi saat aku SMP kelas 8 aku pikir aku tidak akan bisa menjadi seorang dokter selain dikarenakan aku memiliki ketakutan terhadap jarum suntik juga karena nilai akademik ku sangat rendah. Aku bukanlah seorang anak yang rajin apalagi pintar,aku adalah seorang anak yang sangat pemalas. Tapi jika aku sudah sangat menginginkan sesuatu aku akan memperjuangkan segalanya demi mewujudkan itu bagaimana pun caranya meskipun aku harus mengalami tekanan batin.
Akhirnya aku memutuskan untuk menjadi pengacara,sejak saat itu aku mulai serius dengan pelajaran PKN meskipun terkadang aku bosan dengan itu,sebenarnya aku sangat susah dalam mengingat tapi aku akan berusaha untuk bisa mengingat. Ayahku memberi tahu caranya yaitu saat ingin tidur dimalam hari coba ingatlah apa yang kamu lakukan saat bangun pagi sampai kamu tidur dimalam hari lagi setiap hari. Lalu aku melakukan itu setiap hari sampai aku lulus SMP.
Saat aku masuk SMA aku tidak melakukan itu lagi karena aku bosan melakukannya,akibatnya kemampuanku dalam mengingat perlahan mulai melemah. Saat SMA aku tetap mengusahakan nilai PKN ku tetap bagus walaupun tidak tinggi,tapi sepertinya usahaku belum cukup. Sampai saat kelas 11 SMA ayahku berkata "gimana bisa mau jadi pengacara kalo debat aja gak bisa,nilai PKN rendah,ngomong aja jarang. Kamu masuk farmasi aja atau jd atlet karate" ucap papah,aku hanya diam dan menundukkan kepala.
Beberapa bulan kemudian aku terpikir untuk masuk kuliah jurusan perhotelan atau pariwisata,kemudian aku bilang pada ayahku. Ayahku memperbolehkan tapi aku harus berbicara bahasa inggris tiap hari. Aku pun mengiyakan,sebenarnya aku malu berbicara bahasa inggris dengan orang orang dan juga karena aku takut,entah apa yang aku pikir sehingga aku takut karena itu aku menggunakan aplikasi untuk belajar bahasa dan bisa bertemu dengan orang orang luar negeri dan bisa berbicara dengan mereka bahkan bisa menjalin pertemanan dengan mereka. Aku selalu berusaha memperbaiki dan selalu berusaha berbicara dalam bahasa inggris dengan mereka dan aku pikir aku lumayan dalam berbahasa inggris meskipun tidak terlalu lancar tapi entah kenapa saat dilingkunganku yang nyata aku sangat susah untuk mengaplikasikan itu di kehidupanku sehari hari meskipun aku sangat ingin. Jika seseorang berbicara bahasa inggris padaku sedikit sedikit aku bisa mengerti tapi aku sangat bingung bagaimana aku menjawab seseorang itu jadi aku lebih sering senyum dan mengatakan iya meskipun dalam hatiku kalimat kalimat untuk ikut berbicara bahasa inggris itu sudah aku rangkai.
Suatu ketika aku mengalami pelecehan yang membuatku ingin kembali mengikuti karate dan setiap subuh aku memukul samsak,aku melakukan itu karena aku sangat marah dan kesal selama beberapa minggu. Saat aku ingin berhenti memukul samsak ayahku melarang itu terjadi,selama sekitar 1 bulanan lebih aku memukul samsak karena perintah ayahku. Rasa sakit itu aku tahan dan aku selalu menangis saat sedang mandi. Tidak ada yang pernah tau aku menangis seperti itu. Aku selalu menyembunyikan rasa sakitku dari semua orang termasuk pelecehan yang aku terima saat SMP. Tidak ada yang tau termasuk sahabat sahabatku selain orang tuaku,dan pelecehan yang aku alami saat SMP lebih mengerikan daripada yamg aku alami saat SMA. Mungkin orang tidak bisa membayangkan apa yang terjadi padaku saat itu.
Karena kejadian itu aku mau melakukan apa yang ayahku inginkan dan juga agar cita citaku yang sebenarnya bisa diperbolehkan oleh ayahku yaitu menjadi dancer.
Suatu hari ayahku berkata "Lina mau jadi dancer?" Aku pun menjawab "iya mau". Ayahku pun berkata "Lina coba nari di depan sekarang supaya ayah dan mama bisa tau Lina nari gimana bagus atau nggak supaya ayah bisa tau Lina boleh atau nggak,ayah sama ibu juga gak pernah liat Lina nari" Aku pun berkata "nggak ah"
Ayah pun berkata "ayah hitung 1 sampai 10 kalo masih gak mau ya gak usah,kesempatan hilang. Kalo ada kesempatan harus cepat diambil" Aku pun diam sambil tersenyum kesal dan berkata dalam hati (ayah kalo gak ngeboehin gapapa kok,gak perlu gini Lina gak suka yah. Kalo ayah bener bener ngebolehin ayah pasti ngasih Lina waktu buat belajar dance lebih dalam lagi. Ya jelas lah ayah sama ibu gak pernah liat Lina nari setiap kali Lina tampil ayah sama ibu gak pernah datang. Lina ngerti kenapa ibu gak datang karena ada adik adik,tapi ayah meskipun ayah bisa juga ayah gak akan pernah datang).
Sejak saat itu moodku hancur seketika dan aku merasa gak mau ngelakuin hal apapun termasuk latihan karate dan aku selalu memarahi orang orang yang ada disekitarku termasuk ibu. Sore harinya adalah jadwalku dan adik adikku latihan karate,aku terpaksa latihan dan adikku malas latihan dan dia membuat alasan agar tidak latihan yaitu sakit perut. Aku pun berkata pada adikku yang pertama "cepat siap siap latihan jangan banyak alasan sakit perut segala,adik Lingkan memang lagi sakit lah kamu cuman alasan. Kalo kamu memang sakit kenapa dsri tadi malah main sama anak tetangga? Gk ada istirahat lagi,main terus." Adik pertamaku yang bernama Mei pun menjawab "aku benar skait perut" Aku pun berkata "jangan banyak alasan ini sudah mau telat,cepat leletnya jadi orang. Kakak sakit tetap ja latihan" Mei pun kesal padaku dan menatapku dengan sinis.
Karena jam sudah menunjukkan pukul jam set4 sore dan itu artinya aku hampir terlambat latihan karate aku pun berangkat semdiri tanpa berpamitan dengan orang orang rumah sambil kesal
*sesampainya di tempat latihan
"Tu kan terlambat,nyebelin... Adik sakit gitu aja dikhawatirin banet lah aku sakit lebih dari adik biasa aja dan aku bahkan gak bilang ke ibu atau ayah karena tau gak bakal direspon" ucapku dalam hati sambil bergegas masuk ke barisan.
*saat pulang dari latihan aku pulang ke rumah
"Heeeehhhh capekkkkkk" ucapku pelan, aku pun melepas baju karate ku dan duduk didepan kipas untuk memgeringkan keringatku. (Habis keringat kering cuci piring,nyapu kamar,nyikat kamar mandi... Huuuhhh capeknyaaa tapi ya mau gimana lagi kalo ibu sendiri yang kerja gak bakal bisa) Ucapku dalam hati.
"Keringatnya udah kering sekarang nyapu kamar dulu" Ucapku pelan. Setelah selesai aku pun ke dapur untuk mencuci piring. Saat didapur "Sini Lina yang cuci bu" ucapku. "Gak usah sana biar ibu aja" ucap ibu sambil marah "Ini kan tugasnya Lina,tadi Lina istirahat bentar habis latihan.. Lina duduk didepan kipas bukan berarti Lina gak mau bantuin ibu" ucapku kesal "capek kan kamu sudah sana istirahat ja ibu kan dirumah ini jadi pembantu aja. Gak suami gak anak semuanya marahin ibu" ucap ibu marah.
Aku yang kesal jadi makin kesal mendengar ucapan ibu seperti itu langsung pergi ke kamar lagi sambil berkata dalam hati sambil menahan tangis (ibu gak tau kenapa aku marah,ibu gak ngertiin aku,ibu gak tau aku kesal kenapa.. Kenapa ibu gak peka??? Lina lagi perlu ibu)
Selang beberapa menit aku ingin mandi dan sekalian ingin menyikat kamar mandi langsung menuju kamar mandi sambil kesal dan marah apalagi kedua adikku lama sekali mandinya. Aku pun mendobrak pintu kamar mandi dan yaaa adik adikku sedang menyikat kamar mandi. Aku pun berkata "kenapa lamanya mandi dari tadi??? Cepat keluar aku mau mandi!!!!" Adik adikku pun keluar dan aku menyusul adikku yang kedua karena hidungnya terbentur pintu karenaku dan aku segera meminta maaf padanya "Ling gapapa?? Td pintunya kena apa??" Ucapku "gapapa kak,kena hidung" Ucap Ling "kakak minta maaf ya kakak gak sengaja,maaf ya Ling" "iya gapapa kak" Ucap Ling "Makasih ya,kalo gitu sekarang pake baju yaa,ini bajunya,ini celananya,ini dalamannya nah tinggal dipake aja" Ucapku "Iya kak" Ucap Ling.
Aku pun ke kamar dan membentak Mei "Mei,siapa suruh nyikat kamar mandi??? Itu tugas kakak,gak perlu kalian yang nyikat. Tugas kalian tu didepan bukan dibelakang!!!!!!!!!" Ucapku "Tapi kakak gak pernah nyikat jarang kakak nyikatnya" Ucap Mei sambil menangis "kakak sudah ada jadwal sendiri buat nyikat kamar mandi sama wc gak perlu kalian ikut campur!!!!!!!! Nanti kakak lagi yang dibilang gak bantuin ibu nanti kakak lagi yang dimarahin... Suka kamu liat kakak dimarah??? Suka???? Hah????" Ucapku marah.
Tiba tiba ibu datang dan berkata "ibu sudah lama gak mukul ya!!! Jangan teriak teriak gituuu malu didengar orang" Ucap ibu "Ibu tadi juga gitu ke Lina,dan itu pasti didengar sama tetangga dibelakang" Ucapku "Ngejawab kamu ya!!! Jangan marahin adik nya kaya gitu" Ucap ibu "Lina salah dikit aja dipukul.. Lina cuman marahin adik gitu aja gak boleh??? Kayanya Lina bukan anak kandung ibu sama ayah.. Ibu sama ayah gak pernah ngertiin perasaan Lina... Lina dari tadi marah bukan karena Lina disuruh latihan karate bukan!!!!! Karena Lina gak beranian orangnya Lina ngerti kenapa Lina disuruh ikut karate makanya Lina mauuu!!!! Tiap hari tangan Lina sakit Lina tahan Lina kuat kuatin!!!!!! Karena Lina sadar diri buuu!!!!!! Lina marah dari tadi karena ayah ngebahas tentang Lina mau jadi dancer!!!! Kalo ayah gak ngebolehin Lina gak usah kaya td gak usah ngerendahin Lina kaya gitu Lina gak suka bu!!!!!!! Ayah nyuruh Lina nari pake dihitung hitung kaya gitu buat apa??? Kemampuan Lina gak sebagus itu buuu,Lina latihan aja diam diam!!!! Ayah bilang ayah gak pernah liat Lina nari ya jelaslah orang Lina tampil ayah gak datang!!!! Lina tampil orangtua temen temen Lina pada datang cuman Lina sendiri yang nggak Lina diam buu gak pernah protes apa apa sama ibu sama ayah. Lina coba buat paham keadaan... Lina juga pengen kaya temen temen Lina yang lainnya juga buuuu. Itu yang buat Lina dari td siang marah marah,kesal itu bu bukan karena disuruh bantuin ibu" Ucapku sambil nangis "maaf ya Lina,yang sabar yaa" Ucap ibu sambil meluk aku "bu Lina juga minta maaf ya karena sudah marah marahin ibu dari tadi" Ucapku. Aku pun memghampiri Mei dan meminta maaf pada Mei "Mei,kakak minta maaf ya karena marahin Mei terus" Ucapku " iya kak,Mei juga mita maaf ya kak" Ucap Mei "iya gapapa Mei,Mei gak salah kakak yang salah.. Sekarang Mei makan malam ya kakak mau mandi dulu. Makasih ya sudah bantuin ibu nyikat kamar mandi" Ucapku. Mei pun senyum padaku.
Aku pun mandi sambil menangis karena dihatiku masih ada rasa amarah dan kesal pada ayahku.
Dan setelah hari itu kami pun kembali lagi seperti semula.
YOU ARE READING
Mimpiku
Teen FictionNamaku Lina,aku bersekolah di SMA Mulya dan aku duduk di kelas 11. Aku punya 4 orang sahabat. Yang pertama Adinda,kedua Lucy,yang ketiga Ketty,yang ke empat Chacha. Mereka selalu ada buat aku dan selalu bisa bikin masalah aku terlupakan walaupun cu...
