satu

165 64 61
                                        

WARNING! Typo dan cerita gajelas meraja lela di cerita ini:) harap vote komen ya gaes bantu aku 100readers :) lov u
=========
Aroma khas pagi hari merambat masuk ke saluran pernafasan hingga menciptakan ketenangan. Tetesan embun  pagi usai hujan menyapa gadis cantik yang melewatinya seakan terpesona dengan lengkungan bibir di wajahnya. Dengan langkah yang tenang dan bergairah dengan senyum yang terus merekah, terlihatnya seperti wanita bahagia yang tidak pernah memikul beban dipundaknya. Hanya saja mereka tidak tahu, ada banyak kepingan kaca pecah yang ia simpan di dada, yang rutin menggoresi setiap inci hatinya, namun apa daya, yang ia lakukan hanya menyimpan rapih-rapih kepingan itu pada relung terdalam dan membungkusnya dengan senyuman.

Suara bising kendaraan terdengar riuh.di jalan raya. Audrey menyapu pendangan sekitar melihat-lihat suasana Kota Bogor yang memang sudah sering ia lihat namun tidak akan puas untuk mengagumi pesonanya. Ia berdiri dengan tumpuan dua kaki rapat mengenakan seragam putih biru dengan tas hitam yang digembloknya ditepi jalan menunggu angkutan umum arah kesekolahnya lewat.

Tadinya ibunya janji ingin mengantarnya ke sekolah mengingat hari ini adalah hari pertamanya masuk SMA. Tetapi tadi pagi tiba-tiba ibunya membatalkan dengan alasan ada meeting klien penting yang mendadak. Mau tidak mau, seperti biasa, Audrey berangkat sekolah menggunakan angkutan umum.

Suasana tampak ramai dengan kombinasi anak-anak berseragam putih biru dan putih abu-abu di SMA Kesatuan, salah satu SMA terpopuler di Kota Bogor. Sangat sulit untuk dapat masuk sini karena rata-rata nem minimal yang cukup tinggi. Tapi karena kepintaran yang Audrey miliki, itu bukanlah hal yang sulit baginya.

“Mohon perhatiannya. Semua peserta MOPD dalam hitungan 10 detik harap berkumpul dilapangan. Satu” Suara berat dan tegas milik Ketua Osis  terdengar dari sumber suara.

Tampak grusak-grusuk anak-anak berlarian meuju lapangan.

“Ih rusuh banget sih. Santai aja kali.”  Dumel Audrey yang tergencat-gencet dari kerumunan siswa yang berlari-larian.

Dari ratusan orang yang berlarian, nampaknya Audrey adalah satu-satunya orang yang sangat santai dan tidak peduli dengan perkataan si Ketua Osis.

Hitungan sudah sampai enam.

Bug!

“Aduuuhhh” Teriak Audrey saat dirinya tersungkur ke aspal akibat senggolan keras dari seseorang.

“Kalau lari liat-liat dong!!” omel Audrey pada lelaki berseragam putih biru yang barusan menyenggolnya.

Ia berdiri dan menoleh kebelakang menatap posisi Audrey yang duduk diatas aspal. Mata mereka terkunci beberapa detik. Audrey yang menatapdengan kebencian layaknya psikopat yang ingin makan orang, dan orang tersebut menatap Audrey datar.

Hitungan sudah sampai delapan.

Tidak maaf tidak apa. Orang tersebut lantas pergi meninggalkan Audrey yang masih dalam posisinya.

“Dasar gila. MAGADIR!!!” Teriak Audrey berapi-api. MAGADIR adalah bahasa legendaris teman-teman SMPnya yang berarti Manusia Gak Tau Diri.

Susah payah Audrey berdiri dan langsung menuju  lapangan karena hitungan yang sudah mencapai sepuluh.

“Baik semuanya harap tenang. Saya akan membagikan gugus. Yang namanya disebut harap memisahkan diri disebelah kanan dan langsung menuju ke kelasnya masing-masing. Nanti akan ada kakak pemandu di depan kalian.” Semua peserta mendengarkan dengan seksama penjelasan ketua osis.

“Arbelinda Bintang, Auberta Vernanda, Audrey Valencia,…” Absen anggota osis dari sumber suara. Setelah sepersekian menit akhirnya namanya terpanggil di gugus 7. Audrey segera memisahkan diri dan menuju ke kelasnya mengikuti kaka pemandu di depannya.
.

...

Gue disini ya?” Tanya Audrey pada seorang wanita yang duduk sendiri.

“Iya duduk aja.” Ujar wanita itu ramah.

Perlahan Audrey menarik bangku dan menempelkan bokongnya ke kursi. Membenarkan posisinya senyaman mungkin menghadap depan. Seketika dia melirik wanita disebelahnya yang sedang asyik memainkan ponselnya.

“Audrey.” Ucap Audrey menyodorkan tangan mengajak bersalaman dengan senyum yang teralu over.

“Clarita.” Balasnya dengan senyuman yang manis.

“Jadi temen gue ya?” Tanya Audrey.

Dibalasnya ucapan Audrey tadi dengan senyuman seraya mengangguk mengiyakan perkataan orang yang mengajaknya berkenalan itu. MOPD hari pertama dimulai dengan materi-materi yang disampaikan oleh kakak Gugus baik mengenai peraturan sekolah, keadaan sekolah, pelajaran, hingga guru-guru disekolah. Hingga bel istirahat berbunyi.

“Kantin yuk?” Ajak Audrey kepada Clarita.

“Gak laper gue Drey, duluan aja ya?” Tolaknya dengan halus.

“Hemm oke.”

Usai berkata dengan Clarita, lantas Audrey langsung bergegas menuju kantin seorang diri karena belum mengenal siapapun disini. Jarak dari kelasnya menuju kantin lumayan jauh. saat di tengah perjalanan, langkah Audrey tiba-tiba terhenti karena merasa ada suara yang memanggilnya. Ia mencari-cari sumber suara tersebut namun nihil tak ada yang memanggilnya, toh dia belum mengenal siapapun disini. Ia melanjutkan perjalanannya namun tiba-tiba suara pecahan kaca disertai ucapan seorang lelaki yang tak jelas berucap apa mengantui pendengarannya.

“Aaaaaaahh” Teriaknya meringis sambil menutup telinga membuat orang sekitar yang melihatnya keheranan.

Semakin Audrey menutup telinga, semakin keras suara itu menghantuinya. Untuk saat ini, Audrey merasa didunia yang berbeda, dunia gelap yang hanya terisi oleh suara-suara entah dari mana yang berhasil menguasai akal pikirannya. Hingga akhirnya selang beberapa detik, suara itu hilang dan Audrey sudah mulai bisa mengontrol nafasnya yang tadi sempat terengah-engah tidak karuan.

Sudah lama Audrey mengalami hal ini. Suara pecahan kaca, teriakan seseorang, tangisan seseorang, suara amarah yang memanggil namanya atau yang lainnya. Entah apa yang terjadi padanya, sejauh ini dia masih menyimpannya sendiri tanpa ada yang mengetahuinya.

Suasana kantin tampak ramai dengan siswa yang kelaparan. Audrey melihat-lihat sekeliling jajanan yang ada di kantin SMA Kesatuan. Mencari-cari makanan yang pantas untuk keinginan cacing yang ada di perutnya.

“Mau?” Tanya seorang laki-laki yang tidak Audrey kenal tiba-tiba datang dihadapannya menyodorkan minuman teh botol.

Dengan kaget Audrey melihat lelaki dihadapannya tanpa berucap atau mengambil minuman yang ditawarkan orang tersebut, ia hanya mengernyit kebingungan. Karena tawarannya yang tidak digubris itu, Lelaki tersebut memindahkan minumannya ketangan kiri lalu menyodorkan tangan kanannya seaya mengajak bersalaman.

“Abi Mahatama, orang yang nabrak lo tadi pagi, maaf ga sengaja.”

“Oh jadi lo yang nabrak gue? Kurang ajar banget lo ya udah nabrak ga minta maaf  lagi, liat nih rok gue jadi kotor gara-gara lo!” Cetus Audrey menaikkan volume suaranya.

“Yaudah gausah marah-marah ah lebay lo kayak cewek-cewek di novel! Nih ambil sebagai permintaan maaf gue. Oh ya nama lo siapa?”

Setelah berfikir panjang, akhirnya Audrey mengambil minuman yang ditawarkan Abi. Lumayan mumpung gratis, rezeki ga boleh ditolak.

“GishaValencia cantik” Jawabnya membalas jabatan tangan Abi.

“Uwekk pengen muntah gue.” Ledek Abi sambil memeletkan lidahnya seakan jijik dengan ucapan Audrey.

“Ih jahat banget sih.”

Setelah perkenalan itu mereka berbincang layaknya dua orang yang sudah lama kenal.

PONURYWhere stories live. Discover now