Prologue

87 9 0
                                        

Dia bisa mendengar hatinya patah. Hancur berkeping-keping dihadapannya.

Dia menunduk dan tersenyum seperti orang bodoh. Bukan, dia memang bodoh. Bagaimana dia bisa tidak menyadarinya selama ini? Lagi-lagi dia tersenyum.

Tidak menyadarinya, atau kau menolak untuk mempercayainya? Dia bertanya kepada dirinya sendiri.

Setitik air mata mengalir dipipinya. Betapa bodohnya dia. Terlambat menyadari perasaannya padahal orang itu pernah berada digenggamannya. Sedekat itu, dulu.

Lalu bagaimana sekarang? Bagaimana dengan hatinya yang sangat menginginkan laki-laki itu? Bagaimana dengan dirinya yang saat ini jatuh dalam perasaannya sendiri? Apakah tidak ada lagi yang bisa dilakukannya untuk mendapatkannya?

Sungguh ironis...

8 LettersOù les histoires vivent. Découvrez maintenant