Namaku Sabel. Usiaku enam belas tahun. Aku duduk dibangku SMA di kelas sebelas. Tiada yang istimewa di kehidupan SMA-ku. Selain ke-dua belas sahabat karibku dan tugas-tugas yang tiada kunjung henti nya. Aku bukan anak yang pintar, apalagi populer.
Nilaiku rata-rata, tidak ada yang terlalu bagus, kecuali pelajaran bahasa asing.
Selama aku naik kelas ke kelas sebelas ini aku lebih suka bermain dengan teman- teman sekelasku. Menghabiskan waktu bercanda tawa dan terkadang mengerjakan tugas bersama dengan teman-teman sekelas. Padahal saat kelas sepuluh aku sama sekali tidak akrab dengan teman-teman sekelasku, kecuali dengan dua belas sahabat karib ku yang kini sudah terpisah di dua kelas sosial lainnya. Tersisa Aku, Kina, Tiya, Nina, Izy, dan Diana di kelas sosial satu. Andin, Lala, Rere dan Dini di sosial dua. Mary, Fiza dan Ona di sosial tiga. Memang sosial satu mendapatkan jumlah member grup kami terbanyak.
Namun, baru-baru ini aku amat sekali berbeda. Awalnya kupikir aku masih melakukan hal yang biasa saja. Yang biasa aku lakukan setiap harinya. Tanpa kusadari sahabat - sahabat karibku kini menjauh secara perlahan. Aku mempertanyakan hal itu kepada diriku sendiri. Apa yang telah kuperbuat sehingga membuat mereka menjauh?
Kudapati Kina yang sedang berjalan ke arahku. Aku bertaruh pasti dia akan mengajakku ke kantin.
"Bel, ke kantin yok,"ajak Kina langsung meraih tanganku. Sesuai dugaan, Kina pasti mendatangiku untuk membeli makaroni setengah pedas kesukaannya.
"Anterin aku beli makaroni, aku lapar." Tebakanku benar lagi.
Kina adalah sahabat yang paling dekat denganku dari dua belas member grup kami. Sudah terlalu nyaman aku berada di dekatnya. Gadis periang itu selalu jadi tempatku untuk bersuka cita bersama. Walaupun aku masih mempunyai sebelas sahabat lainnya, aku merasa paling dekat dengannya.
Dalam perjalanan kami menuju ke kantin, kami berpapasan dengan Rere dan Dini.
"Hai ciwi-ciwi!" Rere menyapa kami sambil memakan coklat dan Dini yang berada di samping Rere masih fokus dengan HP ditangannya.
"Oy Re, kamu udah ulangan ekonomi belum?" tanya Kina.
"Udah, kok," jawab Rere.
"Gampang kok, Kin. Aku aja seratus. Hehe," sahut Dini.
"Kamu tau nggak sih, Din?" tanyaku ke Dini.
"Kenapa Bel?"
"Tadi Kevin baik banget sama aku. Dia ngasih aku kunci jawaban matematika. Gapapa kan? Soalnya tadi aku kesulitan banget," kataku.
"Hmm, serius? Tumben dia rajin," Dini tersenyum gak percaya, "hehe, pacar siapa si?"
Rere dan Dini masih menyapaku seperti biasa. Tidak ada bedanya dengan dulu. Kami masih begitu dekat. Tapi, berbeda dengan Andin. Hari ini, beberapa kali aku bertemu dengan nya. Dia terlihat dengan jelas menjauhiku. Hanya dengan senyuman tipis dan menaikkan alis. Tidak cukup ramah bukan untuk seorang sahabat menyapa sahabat nya. Yang seharusnya mereka bisa saja berpelukan, atau pun saling mencubit pipi, yah wajar saja di jaman sekarang, hal seperti itu sering dijumpai kan?
Perasaan ku makin tidak enak. Sebelum aku menjadi sangat dekat dan merasa nyaman dengan Kina, Andin lah orang yang pertama kali menjadi teman dekatku sesaat baru masuk SMA. Bisa dibilang juga Andin salah satu dari dua belas orang di grup kami yang paling aku sukai setelah Kina. Aku masih merasa tidak tau apa-apa tentang kejadian ini, kenapa bisa Andin menjauhiku?
Keesokan hari, hujan mengganggu pagi harinya dan membuat sekolah lebih sibuk dari biasanya. Yap, banyak murid yang telat karena macet lalu lintas akibat air hujan yang menggenang di jalan raya. Banyak kendaraan yang mogok karena air hujan tersebut dan menyebabkan mereka menjadi telat. Untung saja rumahku tidak terlalu jauh dengan sekolah, hanya perlu naik motor lalu sampai lima sampai sepuluh menitan di sekolah.
YOU ARE READING
Sabel
Short StoryNamaku Sabel. Usiaku enam belas tahun. Aku duduk dibangku SMA di kelas sebelas. Tiada yang istimewa di kehidupan SMA-ku. Selain ke-dua belas sahabat karibku dan tugas-tugas yang tiada kunjung henti nya. Aku bukan anak yang pintar, apalagi populer...
