Prologue

94 8 10
                                        

"Kenapa kalian langsung auto nethink pas tahu ada forum dibalik forum? Kenapa kalian gak mencari tahu alasannya? Kami tidak bisa menjawab kalau kalian mencari dengan bertanya.

Karena kami bukan mereka yang tinggi di perkataan. Kami ini bertindak, bukan ngomong saja.

Menghancurkan kalian? Tentu saja, tidak. Nol besar kalian anggap kami seperti itu. Sesungguhnya kami malah ingin membantu kalian, menghapus para biadab itu, tapi kami tidak tahu bagaimana caranya, karena kalian melindungi mereka yang kalian anggap keluarga.

Ini suara kami, suara-suara orang yang mencintai kalian dengan tulus namun terlanjur tersakiti dengan kalian yang menganggap kami tidak lebih dari sekedar sampah."

=~=~=

Tap... Tap... Tap...

Suara langkah dari arah yang berlawanan menyeruak. Mengisi seluruh kesunyian yang tercipta di sepanjang lorong kelas. Seketika tempat yang tadinya sepi, kini menjadi sorotan seluruh mata yang memandang mereka.

Dua kubu, ibarat perbandingan 1 : 10. Tentu sudah terlihat siapa yang akan menang jika memang ada perseteruan. Namun, tidak ada yang tahu mana yang menggunakan senjata dan mana yang hanya membawa diri.

Seorang gadis–dari pihak 10–sedikit meringis melihat seseorang–dari pihak 1–di depannya. Orang yang pernah sedekat nadi dan kini sejauh matahari itu, kini muncul berhadapan. Bukan sebagai teman, bukan juga sebagai musuh. Tidak bisa dibilang tidak saling mengenal, namun juga tidak bisa dibilang pernah bertegur sapa atau tidak.

Mereka hanya diam, saling memandang. Menatap tajam satu dengan yang lainnya. Membuat orang-orang di sekitarnya bertanya-tanya apa yang telah terjadi atau apa yang akan terjadi setelah ini.

Terlalu membuang cukup banyak waktu dalam bungkam, gadis tersebut membuka suara, "Kembali bertemu, Ghen."

Sedangkan orang yang ditujukan gadis tersebut hanya tersenyum miring seraya berkata, "Hai..., teman."

Tidak ada tatapan hangat seperti yang dulu diperlihatkan. Hatinya telah membeku akan semua perkataan sang gadis itu, hingga tatapannya pun mungkin tak kalah dingin.

Hanya itu,

Para kaum Adam tetap bungkam. Membiarkan pikiran mereka yang berbicara masing-masing atau mungkin ada yang bisa telepati. Namun pandangannya melebihi kaum Hawa, tentu saja.

Pertemuan tak sengaja dengan membawa pihak masing-masing ternyata sangat berpengaruh pada waktu dan keadaan. Salah satu lelaki dari yang terlihat seperti pemimpin pihak 1, maju selangkah. Mendekatkan bibirnya ke arah telinga sang pemimpin pihak 10.

"Senang bertemu kembali, Grey." ucapnya.

Setelah berkata seperti itu, dirinya langsung berbalik memutar arah diikuti dengan pihak 1 lainnya.

Mereka, sang pihak 10 hanya memandang punggung orang-orang yang pergi di depannya. Ada yang tetap diam tanpa perasaan apapun, ada yang terlihat marah bahkan sampai mengepalkan tangannya.

Sang pemimpin pihak 10 berbalik tanpa sepatah katapun ia lontarkan. Pikirannya tak dapat ditebak.

Waktu berjalan kembali, orang-orang di sekitar sibuk membuat argumen sendiri. Ada yang menatap nanar, mungkin karena tahu kisah asli, ada yang hanya menebak-nebak apa yang terjadi sebelumnya.

=~=~=

Kita pernah melukis di atas sebuah kanvas kosong dengan sebilah kuas bersama. Warna yang tercetak berbeda, namun indah dilihat. Seiring waktu, orang-orang itu datang dan merebut kuas kita, menghancurkan kebersamaan, menorehkan tinta hitam lebih banyak di atas kanvas yang kita lukis. Setelah itu, kita terpecah. Entah karena bertahan di kanvas lama penuh coretan atau memilih untuk melukis di kanvas yang baru tanpa sebilah kuas.

=~=~=

Halo, readers!

Kembali berjumpa dengan saya setelah sekian lama saya membungkam diri dari kepenulisan. Saya ingin memberitahukan, kalau buku yang saya kali ini tulis menggunakan dialog non baku, cuman prologuenya ada yang emang sengaja dibakukan.

Masih ada yang gak paham dari prologuenya? Ya, ini tentang kisah masa remaja yang dikaitkan, you knowlah, like geng gitu:v tapi di sini ceritanya itu adalah perkumpulan yang intinya lebih dari geng karena berpengaruh pada sekolah.

Masih gak paham juga? Makanya stay terus ya, nantikan part-part berikutnya!

Ps. Kalau mau kasih kritik&saran juga boleh ya, karena saya masih belajar juga.

-Grniexx

Unity in DiversityStories to obsess over. Discover now