Homo
-----------
Bersandar di bangku panjang taman, terpekur dalam diam sambil bolak balik memperbaiki letak masker yang melorot karena banyak polah, Jovian terlihat sendu dan lelah.
Melirik ponselnya beberapa kali dan sekarang mulai diketuk ketuk tanpa memainkannya, di setengah jam kemudian, ia terlihat sibuk mencari sesuatu diantara jajaran kontak pada aplikasi telpon dan dengan brutal memencet salah satu nama setelah ketemu.
Lelehan micin.
"Yan, katanya setengah jam. Ini udah sejam sendiri gue nunggu di taman kota. Jangan bilang lu lupa kalo tadi gue minta tolong dateng?", suara Jovian teredam masker di mulutnya.
"Sob, ini gue dah parkir mobil di deket lu. Beli baso dulu napa, masa curhat gapake makan baso. Kan lucu vi", sambungan ditutup sepihak. Jovian melongo dan mulai melepas masker sialan yang daritadi melorot gak nyangkut sama sekali di telinga.
Setelahnya, seonggok makhluk bergender laki laki terlihat bergerak mendekat ke arah bangku taman yang panjang yang berisi seorang pemuda. "Misi mas, aer panas mas"
Jovian mendongak sesaat, memastikan kalau makhluk yang mendekatinya betul betul manusia walau gaya tingkahnya lebih mirip lutung.
"Nahh, apa yang lu ingin coba diskusikan kali ini vi? Apa ada gerangan yang membuat bojo saya terlihat galau dan gusar merana?", Ryan, sahabat sehidup setudung saji Jovian bicara dengan mulai melubangi plastik basonya di ujung, kepanasan, tapi tetap makan baso dari plastiknya, menyesap kuah baso dengan susah payah karena masih panas, terbukti dari asapnya yang mengepul.
"Umm.. gak panas gitu? Tumpah ke dada lu begok", Vian penik karena kuah baso Ryan bukannya masuk mulut malah masuk ke kaos yang dipakai si bocah, dengan efek asap asap lembut disetiap gerakannya. Raut ryan stay stoic. Menahan jeritan ala banci ecek ecek. Dada melepuh tjoy.
Berdehem sejenak. Vian back to the topic.
"Gue putus. Lebih tepatnya, diputusin-"
"Sama cherry?"
Mengangguk
"Lagi?"
Angguk lagi
"Sekarang karena apa? Lu jadi orang terlalu baik sampe bikin bosen?"
Geleng. Varian rasa jawaban Vian.
"Trus?"
"Gue diklaim sepihak sama dia kalo gue homo. Gue tersinggung lah. Gak ada pun fakta atau hoax yang bisa memperkuat alasan dia ngatain gue, kali ini putus kami gak bakal nyambung lagi"
Ryan mengangguk mantap, lalu menyuapi pentol baso yang berhasil dingin setelah daritadi dia tiupi di tangan. Vian dengan senang hati makan dari suapan tangan Ryan.
Lalu mereka sama sama terdiam setelah dua cewe lewat dengan pekikan kecil khas mba mba kipopes lihat fanservis kapal mereka.
Ampash..
YOU ARE READING
Take A Walk
RandomYa.. biasa saja. Diary garing berisi cerita keseharian yang kadang kadang terasa aneh dari se grup berandal -yang kadang kadang- dewasa. Content tidak berisi hal berfaedah yang dapat direnungi, tapi di beberapa kesempatan dapat dengan mudah dipahami...
