FIRST

559 54 10
                                        

Rian Ardianto, pemuda berparas rupawan namun pendiam itu berjalan menjauhi Gedung fakultasnya. Menenteng tas hitam yang terselampir dibahu kanannya. Kakinya brrjalan dengan tempo lambat sampai-

"Ian!"

Rian menoleh saat suara yang sangat dikenalinya itu terdengar.

Pemuda asal Jogja itu menoleh dan nampaklah seorang pemuda yang nampaknya lebih tinggi dari Rian tengah berlari mendekati pemuda glowing itu.

Sebuah senyuman tipis terulas dibibirnya. Senyuman yang mungkin hanya Rian saja lah yang mengetahuinya.

"Udah pulang dek? Aa' kira kamu buat mading lagi hari ini" ujar pemuda tinggi itu  sesaat setelah sampai dihadapan Rian.

"Mading nya udah jadi A'.."

"Syukur deh kalo gitu"

Rian kembali mengulas senyum dibibirnya. Seperti menyadari sesuatu, Rian kembali menatap pemuda didepannya ini.

"Aa' kenapa bisa keluar Kelas?"

"Aa udah pulang.. ngga ada jam lagi"

Rian menyiritkan dahinya.

"Lho? Kok bisa gitu, semalam kan A' Fajar nyuruh Ian pulang duluan"

Pemuda yang dipanggil A' Fajar oleh Rian itu terkekeh dan merangkul pundak Rian. Menuntunnya mendekati sebuah Audy Hitam yang terlihat gagal diujung tempat parkir universitas.

"Harusnya hari ini Aa ada kuis dek, kuisnya pak Sofyan.. Tapi istrinya Pao Sofyan lahiran. Ngga jadi kuis deh.."

Rian mendengarkan penjelasan Fajar dengan tenang. Ritme langkah Kakinya selaras dengan langkah kaki Fajar.

"Aa ngga mau Kamu cape gara gara nunggu kelas Aa selesai, makanya semalem Aa nyuruh Kamu pulang duluan. Tapi karena kuisnya ngga jadi ya.. ngga jadi deh.."

Rian terkekeh saat mendengar ocehan Fajar.

"Aku ndak akan cape nunggu Aa.. biasanya kan juga Kaya gitu"

Keduanya berhenti berjalan saat sudah mencapai titik yang dituju.
Fajar Dan Rian kini berada disisi kiri Audy Hitam metalic itu.

Kedua tangan Fajar memegang dan mengusap Bahu Rian dengan perlahan.

"Justru karena itu dek, Kamu udah sering banget nunggu Aa. Bahkan sampe pernah kehujanan kan waktu itu. Aa ngga mau Kamu capek gara gara nunggu Aa"

Mata Rian mengerjap pelan. Dan sedetik kemudian rona merah terlihat melekati kedua pipinya. Rona merah itu terlihat jelas karena warna pipinya yang putih.

Fajar kembali terkekeh akan sikap Rian.

"Aduh Kamu ngegemesin banget sih dek.. Aa Cium juga nih Disini"

"AA' IH!!"

Rian memekik kesal dan langsung memasuki sisi kiri mobil milik Fajar itu dengan tergesa. Tak lupa ia menutup pintu Mobil itu dengan keras.

Fajar tertawa keras dan bergegas memasuki sisi kanan mobilnya.
.
.
.
Mengantar Rian pulang memang sudah menjadi rutinitas Fajar setiap harinya. Biasanya setelah kuliah mereka akan berjalan jalan, pergi ke bioskop atau hanya sekedar pergi ke kedai langganan mereka untuk mengisi perut. Tapi Kali ini Fajar langsung mengantar Rian pulang karena pemuda rupawan itu mengatakan bahwa tubuhnya terasa lelah.

Yaa, rutinitas seperti itu meMang sudah sewajarnya dilakukan oleh sepasang kekasih, bukan?

Kekasih??

Ya, Fajar Dan Rian adalah sepasang kekasih yang sudah menjalani hubungan selAMA kurang lebih dua tahun, tepatnya saat Rian baru berstatus mahasiswa selama 4 bulan.

Detik Terakhir ●FajRi●Stories to obsess over. Discover now