Tinggalkan jejak kalian dengan Vote and coment. Typo enywhere!
________________________
Tok. . . .Tok. . . .Tok
Suara ketukan pintu terdengar begitu nyaring di telinga, membuat seorang lelaki paruh bayu menyerngitkan halisnya nampak heran dan juga was-was.
Dalam kegelapan malam pria itu menatap tajam pintu rumahnya yang kecil. Ia mencengkram sebuah pistol di tanganya yang ia ambil dari balik punggungnya.
Tok. . . . Tok
Pria paruh baya itu semakin waspada kala ketukan pintu itu terdengar kembali, namun kali ini terdengar seperti dipermainkan. Ia mulai menerka-nerka siapa orang itu.
10 tahun ia hidup sendiri di sebuah pedalaman jauh dari keramain, bahkan sanak keluarganya tidak mengetahui keberadaannya, mungkin ia sudah dinyatakan meninggal setelah insiden 10 tahun yang lalu. Rumah yang kecil dan hanya diterangi oleh sinar rembulan membuat rumah itu tampak tidak berpenghuni. Pria itu sengaja melakukannya untuk menjaga rahasia besar yang tersimpan pada dirinya.
Ia masih menatap pintu itu dengan waspada, tanpa berniat bersuara.
"Ck ck ck" decak seseorang yang ada di depan pintu
"Kau masih tidak ingin membukakan pintu untukku? " kini terdengar suara barington seorang pemuda yang sangat ia kenal walaupun sudah tidak bertemu 10 tahun lamanya.
Tiba-tiba kakinya lemas, tangannya yang memegang pistol pun bergetar begitu saja. Dia sangat terkejut, bagaimana bisa mereka menemukannya dengan cepat. Sebisa mungkin ia menormalkan dirinya, agar tidak terlihat takut.
"Sebenarnya aku bisa saja membuka pintunya sendiri, namun kau tau? Rumahmu berdebu dan kotor sangat tidak pantas untuk ku sentuh" ujar pria muda itu sarkatis
"Aku memberimu kesempatan serahkan dirimu dengan baik, atau aku yang akan datang dengan caraku? " tawarnya namun tetap tidak ada reaksi dari pria tua itu.
Brukkkk. . . .
Pria muda itu menendang pintu dengan mudahnya, ia menepuk nepuk jasnya yang sedikit terkena debu dengan arogan. Kemudian dia memasuki rumah kecil itu yang hanya di terangi oleh sinar rembulan.
Dalam remang-remang wajah tampannya menyeringai menatap kesegala penjuru rumah.
"Aku kecewa padamu, kenapa kau malah bersembunyi? Kau tau, aku datang kesini dengan penuh perjuangan. Bahkan aku harus rela mengotori jasku yang mahal ini" celoteh pria tersebut
Di balik sebuah lemari besar pria tua itu bersembunyi, pandangannya menatap bayangan tubuh pria muda itu. Ia sudah tau bahwa ini pasti akan terjadi, semua yang disembunyikan cepat atau lambat pasti akan terbongkar. Dia sudah bertekad tidak akan memberitahukan pada siapa-siapa terkecuali pada orng yang tepat, walaupun itu harus mengorbankan nyawanya sendiri.
"Fiuhhh! Baiklah aku akan pergi" pria itu menghembuskan napas lelahnya kemudian pergi meninggalkan rumah tersebut.
Pria tua itu bernapas lega, saat mendengar suara hentakan sepatu yang terdengar semakin menjauh. Namun baru saja ia akan melangkah, hidungnya mencium bau asap yang sudah tidak asing lagi baginya, yaitu asap yang mengandung senyawa karbon yang berbahaya, membuat siapa saja yang menghirupnya akan kehilangan kesadaran ataupun sulit bernapas.
Namun terlambat, baru saja ia akan menutupi hidungnya kepalanya mulai merasakan sakit dan pandangannya pun mulai mengabur. Ia terjatuh terduduk, sebisa mungkin ia berusaha agar tetap sadar.
