Aku sedikitpun tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini. Mencintai tapi merasa tidak mencintai, dicintai tapi merasa tidak dicintai. Entah lah! Kalimat ku mulai kehilangan makna saat ini. Kau tau? Logika ku tak lagi berdaya angan ku saat ini mulai payah dan harap ku pun mulai melemah.
Dan malam itu ada yang bilang padaku "Terkadang rasa angin itu begitu menyejukkan, namun terkadang angin pun entah kemana perginya" . Suasana pun lengang sejenak , tatapan ku kosong menatap bentangan langit yang begitu luas malam itu memang cukup menyenangkan untuk membincangkan angin. Aku menghela nafas ku dan menjawab apa yg ia katakan "iya terkadang angin begitu egois dengan bertindak semaunya terkadang angin pun jahat dengan pergi begitu saja dan menyisakan rindu yang harus ku rasakan sendiri" .
Dia diam dan sembari tersenyum lalu bertanya "Apakah kau yakin dengan ucapan mu? Apakah hanya angin yang egois bukan sebaliknya?" "apa maksudmu?" tanyaku dengan nada tak mengerti. "Maksud ku apakah kau yakin kau tidak egois? Apa kau yakin hanya angin yang salah? Tidak ini bukan salah angin sepenuhnya hanya saja kau terlalu manja sampai kau tak bisa menerima kepergiannya walau hanya sebentar saja, kau yang selalu ingin dibuat nyaman oleh nya tidak kah kau berfikir bagaimana ia mencari cara agar bisa menenangkan mu dan membuat mu selalu nyaman saat bersamanya?".
Malam kembali lengang dan menyisakan beberapa pemuda yang melintas dihadapan aku dan dia.
Aku terperangah saat ia memalingkan wajah dan menatapku seolah penuh makna. Ohh semesta sungguh tatapan itu membuatku salah tingkah dan dada serasa diguncangkan oleh gempa berskala besar. Bagaimana bisa aku merubah rasa Cinta menjadi membencinya? Semesta tolong aku. Dengan dada yang masih berdebar kencang kembali ku dengar kalimat yang keluar dari mulut nya
"
Kau sungguh manja dan keras kepala, bertingkah semaunya sesuai keinginanmu saja, bagaimana bisa kau tidak melihat kesetiaan angin itu? Angin yg selalu memberi udara baru untuk mu, angin yang selalu berusaha untuk menenangkan mu. Tidakkah kau sadar terkadang ia mulai kehabisan cara untuk menyenangkan mu? " ujarnya persis dihadapan ku.
Aku termangu mendengar ucapan itu, lidah ku kelu dan seolah tak lagi berucap. Guncangan didalam dada kian merajalela saat ia kembali berkata "begitupun aku, terkadang aku mulai kehabisan cara untuk membuatmu percaya bahwa yang ku rasakan padamu ini pun Cinta hanya saja aku tak tau bagaimana cara untuk menyampaikan nya. Percayalah kau memiliki satu ruang istimewa di sela hati dan fikiran ini. Yaaah walaupun tak jarang payah hehe"
Semesta sungguh aku tak tau apa rasaku malam itu. Hanya saja sejak saat itu aku merasa dia memang berbeda. Semesta Izinkan aku bertanya padamu, bolehkah kali ini aku kembali untuk jatuh Cinta??
YOU ARE READING
Sampaikan saja pada Semesta
Short StoryIni tentang harap yang mulai payah, dan angan yang telah melemah tertutupi oleh kecewa yang datang berulang. Namun dia? dia datang dan membawa kembali semangat yang mulai patah dan mencoba mengembalikan semuanya..
