Jakarta, Indonesia
15.00 WIB
Seorang remaja laki-laki tanpa lelah terus mengetuk pintu yang ada di hadapannya. 15 menit sudah lelaki itu mengetuk pintu berukir bunga tanpa ada sahutan dari pemilik rumah. Lelaki itu mulai tidak bisa diam dan menggoyangkan kakinya.
Wajahnya mulai menampakkan ekspresi kegelisahan yang kentara. Tidak,ini tidak seperti biasanya. Pada ketukan ketiga gadisnya akan membukakan pintu untuknya disertai dengan senyuman dan sapaan.
Namun,kini yang ia dapatkan hanya hembusan angin yang menemani dalam keheningan. Ia akhirnya berjalan ke sebelah pintu rumah untuk mengintip melalui jendela. Namun , kini yang ia dapatkan hanya kegelapan. Ia memutuskan untuk mengambil ponselnya yang tersimpan di balik saku celana ,mengeluarkannya dan menekan tombol panggilan cepat untuk ke sepuluh kalinya. Lagi dan lagi yang ia dapatkan hanyalah jawaban dari operator yang menandakan nomor tersebut tidak aktif. Ia kembali menunggu entah untuk berapa lama yang jelas saat matahari akan tenggelam di ufuk barat lelaki itu memutuskan untuk berjalan keluar ke tempat dimana ia memarkirkan mobilnya.
Tepat saat ia membuka pintu mobilnya, ia melihat ibu-ibu komplek yang bertubuh gempal yang sedang berjalan kaki dengan membawa keranjang sayur di tangan kanannya. Akhirnya , ia memutuskan untuk bertanya.
"Maaf bu,saya mau tanya pemilik rumah ini dan keluarganya pergi kemana ya?" Ujarnya sopan disertai dengan telunjuk kanan menunjuk rumah yang ia maksud.
"Oh , Mereka sekeluarga baru saja pergi tadi pagi. Katanya sih mau pindah karena pemilik rumah dapat kerjaan di luar kota tapi kemananya saya kurang tau deh ,dek. Mungkin adek bisa telepon aja yang punya rumah." kata ibu-ibu bertubuh gempal yang membuat lelaki di hadapannya membeku.
Seolah ada berton-ton batu yang menimpanya ia diam tak berkata apapun bahkan ia tidak sadar bahwa ibu-ibu bertubuh gempal tadi telah pergi dari hadapannya. Yang ia sadari hanya satu hal gadisnya telah pergi.
Gadis kecilnya telah pergi
Gadisnya meninggalkannya
Dan
Angga Laksana telah kehilangan sebagian dirinya.
Firzaranya telah pergi
*****
6 tahun kemudian
Jakarta,Indonesia
08.00 WIB
"Pagi," suara gadis berusia 20 tahun itu memecahkan keheningan di dalam ruang makan.
"Pagi , sayang duduk sini mama uda buatin nasi goreng buat kamu." Ujar wanita berumur sekitar 40 tahun yang memakai apron.
"Iya, Ma," Za memberi jeda sebelum kembali melanjutkan " Za mau makan banyak nih. Sebagai perayaan kita kembali ke Jakarta setelah 6 tahun di bandung." Ucapnya dengan semangat.
"Za, kamu hari ini mau interview kerja kan ?"
Kali ini ayah za yang sedang memegang koran dan meneguk sedikit kopinya yang berkata.
"Iya , Pa doain ya Za lancar interview nya. Soalnya , Za agak gugup Pa selain karena ini pertama kalinya tapi perusahaanya. Perusahaan yang lagi berkembang pesat terus Za denger-denger pemimpin perusahaannya tegas banget. Telat 3 kali di pecat."
"Gak apa-apa ,Za namanya usaha. Za mau dianter atau gak? " ucap ayahnya sambil berdiri.
"Gak usah , Za berangkat dulu. Dadah Ma,Pa doain Za." Ucap Za sambil berlalu.
****
Tok...tok...
"Masuk," ucap seseorang yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
"Pak, ada meeting dengan William Corp jam 1 siang nanti dan dilanjutkan dengan ..." ucapan sekretaris yang bernama Widy itu terjeda karena Angga memotongnya.
