1. cinta seiring waktu

348 5 2
                                        

Pagi itu, aku terbangun dari mimpi indah. Bersiap-siap pergi kesekolah, aku tak sabar ingin melihat dia. Orang yg sudah lama kujumpai karena kesibukan kantornya, segeraku bergegas tak butuh waktu lama semuanya selesai. Aku segera berlari ke bawah menanti sang pujaan hati yg terbiasa sarapan di rumah ini, suara bising dari arah dapur saat aku menapakan kaki ku ke lantai bawah.

"Pagi semua" ucapku sambil meneteng tas selempang kebanggaan ku, semua mata teralihkan melihat kearah ku. Tak lama seorang ibu berusia senja keluar dari dapur, membawa piring berisi makanan

"pagi juga sayang.. apa tidurmu nyenyak??" Sambil meletakkan piring di meja "pagi mei" terucap oleh pria paruh baya itu.

"Nyenyak kok bun, tapi kaya ada yg kurang?? Apa ya??" Mengedarkan pandangan ke seluruh pejuru rumah

"Bilang aja sih!! Kangen om gitu." Bisiknya tepat di telingaku, membuat ku dada ku berdesir tak karuan. Dialah pujaan hati yg selalu kunanti om Dirgantara wiraatmaja, jujur nama nya aneh banget tapi ganteng orang ya. Hehehe

"Ish,, om bikin kaget aja.."

"Lah, tadi nyariin. Sekarang malah belaga ga butuh."

"Emang ga butuh kok. Cuman berharap kamu menghilang gitu.. hehe" ucapku sambil tersenyum
Suara deheman terdengar dari pria paruh baya tadi, dia menatap kami supaya segera duduk dan sarapan. Ayah itu emang irit ngomong,bikin orang lain salah tingkah ngeliatin ya beda banget ama om dirga yg notabene adik kandung ya.

"Udah duduk! Makan yg banyak.." bunda seolah-olah menerjemahkan tatapan ayah padaku dan om.
Kami pun duduk di meja segera menyelsaikan sarapan.

"Mei, bener ga sama papah aja nih berangkat ya?" Aku menaikan alis, dia menyeruput kopi dengan mata menatap ku tajam. Papah ngerajuk nih gara kedatang om dirga yg baru pulang dari singapura, apalagi dia ga nganterin aku ke sekolah karena pasti aku milih om dirga.

"Ga pah, kan ada om dirga" sahutku

"Kenapa sih harus bareng dirga lagi, apa-apa dirga mau ke mall pingin di anter dirga shoping,salon, ampe tetek bengek minta ya dirga. Undangan pensi sekolah tahun kemarin aja dirga yg kamu kasih tau duluan" semprot ya padaku. Membuat ku serba salah, kualihkan pandangan ku ke om dirga yg tertawa kikuk. Ukh knpa gini sih, papah ke saing banget ama om dirga.

"Kak, aku ga ngerebut mei kok. Dia sendiri yg minta di antar jemput sama aku, dan untuk urusan lain mana ku tahu ya kenapa dia manja sama aku."
Ayah hanya mendengus mendengar perkataan dirga.

"Om, berangkat yuk. Takut telat nih" sambil berdiri mulai salam pada bunda dan papah "jangan marah pah, aku tetep anak cantik papah hehe " sambil mencium pipi papah

"aku pergi ya"

"hati-hati sayang" balas bunda

"Kami pergi ya kak roy kak mel" om dirga mengejar langkah ku

"Dirga, nyetir yg bener. Awas putri cantik papah lecet" balas papah

"Iya kak"

Aku masuk kedalam mobil dengan perasaan jengkel, di susul om yg langsung menjalakan mobilnya. Keheningan menyelimuti suasana di dalam, dirga mulai melirik pada gadis umur 18 tahun di sampingnya yg memasang muka kesal.

"Udah sih jangan manyun gitu ah. Kak roy cuma terlalu sayang ama kamu" tangan besar ya mengelus kepala ku dengan lembut,kulirikan mataku dia berusaha fokus pada jalanan sambil melirik ku dan tersenyum. Desiran pada jantung membuat kehangatan menjalar di dadaku, jujur aku senang om dirga kaya gini..

"Iya tau."

"Nah, gitu donk. Nanti klo om ga sibuk, om jemput nya"

Ku anguk kepala, dia tersenyum. Menambah kecepatan mobil, tanpa hambatan berarti kami sampai gerbang sekolah. Aku pun segera turun, belum juga beranjak dari mobil tangan itu menahan ku. Kualihkan pandangan ku pada om dirga yg menatap ku heran

"Kamu ga pamit ama om?" Nada bicaranya agak ketus, oalah pantes dia menahan ku turun sambil menepuk keningku pelan

"Maaf, aku lupa.. ya udh aku pamit ya" sambil salam padanya

"Di sini ya belum.. " sambil menjuk pipi ya aku mendegus sebal mendorong dia menjauh

"Ih,, om genit masa minta cium" ucapku padanya. Dia pun menarik pinggangku mendekat pada nya, mulai mencium kedua pipi ku dan kening ku wajahku memerah karena malu dan kesal

"Jangan marah, kamu yg nolak nyium aku. Jadi aku cium kamu deh" ucapnya tanpa rasa bersalah

"Ya udh bye"

"Bye"

Aku segera turun dari mobil melangkah ke gerbang sekolah.

***

First story.. no plagiat
Haha klo ada yg mirip dengan cerita ini, bukan salah saya atau pengarang lain. Cerita ini asli bikinan saya sendiri

Sendu MentariStories to obsess over. Discover now