Satu. "Aku"

7 2 0
                                        

Warning ⚠⚠⚠

Novel ini mengandung strong language, dan sarkasme. Tolong lebih bijak saat membaca!

⚠Anda sudah diperingati⚠

Happy reading!

.
.
.

Hai.

Namaku Aristide Keano Mackenzie, aku adalah anak Sma yang berumur 17 tahun. Aku anak dari 2 bersaudara, kakak-beradik. Liliana Arabelle Mackenzie, dan aku.

Ibuku, yang seorang pekerja seks komersial (Psk) bernama Alicia Finn, sudah lama meninggalkan kami, dan memberikan begitu banyak kesulitan pada kehidupan kami.
Dia banyak memberikan hutangnya yang belum terlunaskan, dan belum lagi, Liliana yang dikejar-kejar lelaki hidung belangnya mama yang belum mama puaskan.
Mama memang brengsek, tapi ayah yang lebih brengsek. Dia malah ingin membunuh kami berdua, karena ikut terlilit hutang mama yang semakin melebar itu. Ayah menjadi stress dan kehilangan akalnya.

Tak hanya itu!

Kakakku, Liliana, hampir dijual ke seorang milyader kaya oleh ayahku untuk mendapat uang sebanyak 1 miliar oleh milyader itu.

Tetapi, sebelum kakak akan dikirim ayah ke rumah milyader itu. Kakak melarikan diri, dan mengaku ia sudah tidak tahan dengan perilaku ayah yang makin hari makin bejat.

...

"Liliana! Mau kemana kau?"

"Sstt!! Diamlah. Aku sudah tak tahan dengan kelakuan ayah yang makin lama seperti hewan. Aku akan melarikan diri!"

"M..me..memang nya.. Mau kemana K..kau akan pergi?" Tanyaku gemetar.

"ayolah..Jangan banyak bertanya! Ikut saja denganku!" Iliana langsung memegang tanganku erat, dia menarik tanganku dan menempatkannya kesebuah tali tambang yang sudah ia ikat ujungnya ke pegangan pintu kamar mandi mandinya.

Iliana memegang tali tambang itu dengan kuat, Iliana menyuruhku untuk melakukannya juga. Jadi aku lakukan.

...

Saat tiba kami dibawah, Iliana bergegas lari sambil menarik Tanganku. Kami berlari tanpa henti. Tanpa menoleh kebelakang, dan tidak mau tahu apa yang akan terjadi dibelakang.

.
.
.
3 TAHUN KEMUDIAN...

Iliana membuka sebuah bisnis toko, dia membuka 2 toko yang berbeda, satu toko kue yang menjual kue-kue pastry yang lezat dan rendah lemak. Satu lagi adalah toko butik yang semua bajunya di rancangnya sendiri.

Iliana tampak bahagia, kami memiliki apartemen akibat kesuksesannya itu. Aku disekolahnya di salah satu sma populer di kota ini.

Disamping itu, Iliana tidak pernah mengungkit-ungkit kejadian masa lalu yang pernah kami alami pada siapapun. Dan Iliana tampak lebih senang dengan kehidupannya yang sekarang.

Aku tidak memiliki potensi apapun, dan bakat apapun. Aku lemah, dan sering kali di pukuli teman-temanku, karena aku lemah.

Aku tidak pernah memberitahukan hal ini pada kakakku. Dan jika ia tahu, ia pasti akan segera mencari anak itu, dan memukulinya dengan tangannya sendiri, sampai membuat luka yang anak itu buat kepadaku.

Karena itulah, aku sama sekali tidak berniat untuk memberitahukan hal yang buruk terjadi padaku, pada kakakku.

...

"Aku pulang,..

...

"Oh, kau sudah pulang, Joseph!"

"Yah. Ada berita bagus?"

"Tidak. Aku hanya ingin menyapamu pada hari ini,..

"Bagus. Hai."

Iliana melihat raut wajahku yang berantakan, dan jawabanku yang malas.

"Ada apa denganmu?"

"Tidak. Tidak ada apa-apa." Jawabku singkat.

"Hei. Katakan saja padaku!"

Iliana menarik lenganku, dan memaksa aku untuk menjawab pertanyaannya.

Diriku yang sedang dirundung awan gelap ini segera melepaskan diri darinya, dan menolaknya dengan kasar.

"Aku mau tidur!"

Tap...tap..tap..tap..

Aku langsung berlari kelantai dua untuk masuk kekamarku. Dan menutup pintu.
Aku bahkan tidak melihat seperti apa ekspresi Iliana pada perasaan baruku ini.

.
.
.

Pagi harinya, ketika aku bangun tidur, kulihat ada secarik kertas bertuliskan kata-kata diatas meja dapur.

Akupun membacanya.

Aku akan pergi keluar kota untuk beberapa bulan, jangan sampai lewatkan jam makanmu saat aku tak ada. Dan lagi, tolong selama aku keluar kota, kau bertugas menjaga apartemen, tokoku, dan lily.

Iliana.

Aku menarik napas panjang, dan meletakkan kembali surat itu diatas meja. Semua perintah yang tertulis pada kertas itu sudah diterima oleh Otakku, aku hanya perlu melakukannya saja.

...

Setelah selesai sarapan, dan mandi, aku kemudian memberi makan Lily, kucing piaraan kakakku.

Lily diadopsi dari penangkaran hewan di Michigan. Kakak memang menyukai kucing yang satu ini, bukan karena sesuatu yang spesial dari bulu ataupun matanya, tapi karena dia kucing yang sangat pintar dan bisa diajak berteman persis seperti anjing.

Aku juga sangat menyukainya, apalagi saat ini, saat melihatnya memakan sereal yang kuberikan untuknya. Dia benar-benar lahap memakannya.

"He..he..lucu sekali.." kata-kata itu tiba-tiba saja meluncur dari mulutku.

Sepertinya sudah saatnya aku berangkat kesekolah. Akupun langsung mengambil tas dan memakai sepatu, setelah itu aku berangkat kesekolah seperti biasa.


"Aku" Fin.

YOUDonde viven las historias. Descúbrelo ahora