Dhea pov

13 1 0
                                        

Aku terjebak dalam fikiranku dan perasaanku saat ini.
Terlambat dan penyesalan adalah kondisi ketika waktu takan bisa kembali.
Haruskah aku berhenti.....?
Atau harus bejalan mencapai hatimu?  Sempatkah?
       "Dhea. Buat kamu, apa artinya sebuah waktu? " tanya Ricky.
Aku terdiam kaget pasalnya aku sedang terbelenggu dengan fikirku.
        "Waktu itu sesuatu yang terus berjalan.  Menurut kamu? " tanyaku balik.
Aku menatapnya sambil tersenyum.
      "Bagiku waktu bukan sekedar jam, menit dan detik yang terus mengalir" sahut Ricky.
Aku mengeryitkan dahiku, dan  Ricky tau aku memananykan 'kenapa'.
      "Di dalam waktu yang terus berjalan, banyak kesempatan dan keputusan yang bisa kamu buat. Waktu nggak akan menunggumu, Tapi seringkali kitalah yang menunggu waktu"
     Pandangan Ricky menerawang ke langit seakan langit adalah jawaban dari semua waktu.  Dan aku paham benar bahwa Ricky adalah orang yang sangat menghargai waktu.
      "Bahkan, kita sering berlari untuk mengejar Waktu. Karena jika kita terlambat, mungkin saja kita kehilangan sesuatu yang paling berharga di hidup kita" tambah nya lagi sambil menatap langit sore.

Aku memutarkan bola mataku, mencermati setiap kata yang terlotar dari bibir manis sahabatku itu. 
Dialah Ricky Prasetya ruamahnya tidak jauh dariku.

Ricky adalah sahabatku sejak aku duduk di tingkat smp.  Iya adalah orang yang sangat menghargai waktu.  karenanya ia di juluki si antu terlambat.

Kami sangat bertolak belakang dari hal ini. Bukannya aku tidak menghargai waktu. Hanya saja, buatku terlambat adalah sesuatu yang wajar.  Aku juga tidak akan kehilangan apapun karena terlambat.
    Jadi tidak heran kalo aku dan Ricky sering bertengkar kecil karena masalah waktu.
Kalau punya janji, Ricky selalu datang tepat waktu...  Aan aku sedikit terlambat.
  

Setiap sore aku dan Ricky selalu pergi ketaman.  Kami sangat suka menghabiskan waktu di sana.  Entah hanya sekedar bercerita masalqh kampus atau teman dekat.
Taman ini sudah menjadi saksi dari kisah persahabatan kami yang penuh canda tangis.

Seperti sore ini...

Setelah pertanyaan Ricky tentang Waktu satu pekan yang lalu.
Kini aku duduk di taman menunggu Ricky. 
Ini baru pertama kalinya aku menunggu.
Ternyata menunggu itu tidak enak.  Entah mengapa Ricky lama sekali. Dan aku mulai bosan. 
   "Kau tumben sekali, datang lebih awal. Ada apa? " tanya Ricky yang melihat raut mukaku. Yang ku pastikan sangat buruk.
  "Kau lama sekali.....
"Maaf tadi macat nona,  yang benar saja kau menyuruhku datang dalam waktu 10 menit" ucap Ricky memotong ucapanku.

Ucapan Ricky benar aku menyuruhnya datang kurang dari sepuluh menit.  Aku terdiam mataku ku arahkan pada tanah di depanku.  Aku tak memiliki banyak kata.

  "Dhea.  Ada apa? " tanyanyq sambil menunduk menatap wajahku.
"Andri... " kataku langsung meneteskan air mata.
"Bukan sudah ku katakan bahwa dia tidak tulus padamu!" ucapnya sedikit menunggikan suaranya.
Ricky tau aku aku berpacaran dengan Andri satu tahun yang lalu.
Dia satu kampus denganku tapi beda fakulitas.  Dia dulu orang yang sangat baik dan perhatian.  Dia orang yang selalu aku ceritakan karena dia orang yang sangat romantis menurutku.  Dan dia pacar pertamaku. Sebelumnya aku tidak pernah pacaran.  Tapi sejak sebulan yang lalu aku sering melihat andri bersama serly dan dia kurang perhatian.
Akupun cerita pada Ricky semua tentang hibunganku dengan andri.  Ricky adalah mendengar yang paling baik.  Dia sebenarnya sudah sering mengatakan bahwa Andri tidak baik untukku.  Tapi aku selalu berkata 'dia pria yang baik'

Hingga tadi siang aku melihat Andri  berciuman dengan serly aku sudah tidak tahan melihat itu.  Tapi aku tidak mau kehilangannya.
Bodoh!
Iya aku memang bodoh. Mengarapkan pria yang sama sekali tidak mencinta.

Meski begitu aku kecewa menemukan kenyataan. Salahkah aku menangis?
    Ternyata Ricky sudah berlutut di hadapanku dan menghapus air matakuku.  Aku terkejut,  namun langsung memeluk nya.  Aku sadar bahwa aku membutuhkan pria ini untuk berada di sampingku, meski hanya untuk menemani dalam diam.
     "Semua akan baik-baik saja. Kamu masih punya aku" kata Ricky sambil menggengam tanganku.

Entah mengapa, prekataan sederhana itu menenangkan aku dan aku merasakan sesuatu yang berbeda ketika menantap mata sahabatku.

"Terimakasih"

Aku tidak memiliki kata lagi. Setelahnya Ricky mengantarku pulang.  Disana ada ayah yang sedang menyiram tanaman di taman kecil milikku.

" kau tidak apa-apa Dhea? " ayah bertanya padaku dan hanya ku jawab dengan gelengan.
Lalu meninggalkan mereka berdua dan masuk ke dalam rumah.  Sudah menjadi kebiasaanku tidak suka di cecar. Jika aku tidak menjawab ayah juga tidak akan bertanya lagi.  Karena dia juga sama denganku.

"Omm,  Ricky pulang dulu yaah" aku mendengar Ricky berbicara pada Ayah ku.
"Baiklah, hati-hati dan terimakasih nak"
Sahut ayahku.

MemoriesStories to obsess over. Discover now