Pagi itu seperti pagi lain. Suatu yang berbeda mulai tampak ketika nyawa telah sepenuhnya mengembalikan akal sehat. Aroma tanah basah dan gemericik hujatan air yang turun dari tepian genting bermuara menuju pelimbahan juga. Sisa tangis langit tak mampu sepenuhnya dihapus begitu saja. Dan masih menyisakan lembabnya suasana pagi.Suara ketel yang terangkat karena tekanan uap panas tajin nasi terdengar meriangkan.
"Nduk, tolong tambahi gula jawa!" Perintah Mamak ini serta merta membelokkan arah semula pemuda yang berniat ke kamar mandi itu.
Ya, pagi itu seperti pagi yang lain. Kesibukkan pagi Mamak memasak dan tekunnya Bapak membaca Koran. Setelah sekian menit menekuri kalimat per kalimat dalam koran, Bapak akan beranjak dari kursi tuanya, melepas kacamata, kemudian menanyakan apakah sarapan sudah siap.
"Mbok jangan kesusu, Pak. Jalan masih basah dan licin." Mamak mengangkat wakul nasi yang baru tanak.
"He-eh, Pak. Sawahnya juga masih becek," Ulil mulai angkat bicara.
"Bekerja itu harus tekun dan bersungguh-sungguh. Berangkat pagi, nggak boleh ditunda-tunda alasan ini- itu," Bapak terkekeh mendengar kalimatnya sendiri.
"Halah, Pak, kalo mau pidato di balai desa sana bukan di rumah kita," Mamak menimpali kekehan Bapak dengan agak ketus.
"Jane Mamak kenapa to Le?" Bapak sangsi melihat istrinya ketus.
"Oh iya, Pak lusa Ulil mau balik Magelang. Nggak enak sama Abah, udah seminggu nggak ngabari pondok" Ulil mengalihkan topik pembicaraan.
Mamak terdiam, munthu yang beliau pegang terhenti di udara. Beliau bergegas meninggalkan Ulil dan Bapak yang telah mengitari meja kayu jati yang selama ini menjadi saksi makan bersama mereka. Mamak mengambil langkah menuju tungku, beliau meniup corong bambu yang membidik tumpukan kayu di dalamnya. Beberapa kali beliau terbatuk hingga matanya memerah. Bukan, mata merah itu ternyata diselingi isak tersembunyi Mamak.
"Ma'e, makan dulu" namun sunyi. Mamak memandang kosong nyala api di depannya.
Beliau selalu meridhoi anak-anaknya yang ingin menuntut ilmu. Mamak hanya tidak rela anak bungsunya pergi terlalu lama. Kakak-kakak Ulil yang kini telah menemukan jalan mereka sendiri selalu membesarkan hati Mamak bahwa pada akhirnya Ulil akan tetap kembali ke pelukannya.
Walaupun hanya sebagai orang kecil kakak-kakak Ulil: Nuha sebagai ustad di pondok pesantren kecil di Watumeneng; Latifah istri petani kecil di desa sebelah, tetap percaya bahwa ikhtiar dan pengorbanan orang tua mereka sangat- sangat berguna. Menjadi apa pada akhirnnya bukanlah hakikat untuk apa mereka hidup namun bagaimana cara mereka berjuang menghadapinya.
Kini Mamak terisak di dalam dekapan Bapak. Mereka tidak boleh menghalangi keputusan Ulil, mereka harus mau berkorban.
͏͏
Cahayanya bergoyang. Lampu minyak itu nyala apinya ditiup angin. Suara-suara jangkrik di atmosfer bawah pohon-pohon rindang terdengar nyaring.berirama. gemericik air yang turun dari pancuran kendi terasa dingin. Hembusan angin membelai rambut di kepalanya. Kakinya melangkah di dasar kobokan air semata kakinya. Saat kakinya menapak di atas dasar tekel kering, dia berhenti kemudian mengangkat kedua tangannya di atas kepala.
Asyhaduallailaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrosulullah, allahummaj'alni minattawwabina waj'alni minal mutatohhirin waj'alni min 'ibadikassolihin.
Kepalaya menunduk. Mulutnya berbisik lirih. Wajah laksana rembulannya itu menghadap kearah barat. Ia menyiapkan kaki sekokoh- kokohnya. Ia abaikan suara ayam berkokok untuk bersujud menghadapNya.
**
Seperti lebah yang berdengung suara ribuan santri mengaji membumbung. Pemuda berkopyah putih masih mengecek setiap kamar memastikan semua santri ikut mengaji. Kemudian Pemuda itu membalik arah sambil menenteng kitab kuning besarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Senja Terlipat
General FictionCerita pendek, menceritakan seorang pria yang tumbuh dari keluarga sederhana yang menemukan cinta dalam perjalan spiritualnya namun sebuah jalan takdir tak terduga mencegatnya.. Senjanya benar- benar pilu.
