" yeeee akhirnya kita lulus juga gun....."
Suara teriakan irwanto itu terdengar diantara kegembiraan beberapa pelajar sekolah menengah atas yang tengah merayakan kelulusannya, dalam posisiku yang saat ini tengah membubuhkan tanda tangan di pakaian seragam yang irwanto kenakan, mustakim yang telah sedari tadi tersibukan dalam aktifitasnya membubuhkan tanda tangan di beberapa pakaian seragam yang temanku kenakan kini berjalan menghampiriku dan irwanto.
" lu itu sibuk banget sih mus, macam orang tenar saja "
" maklumlah gun, mustakim gitu loh... siapa sih yang enggak kenal gue di sekolah ini " mustakim mengembangkan senyumnya, spidol yang tengah aku pegang kini diambilnya.
" sini to, gue tanda tangani seragam lu... yaa siapa tahu saja seragam lu ini bisa bernilai jual tinggi di masa depan "
" duh... benar benar sakit jiwa lu mus, lu pikir tanda tangan lu itu cocok di seragam gue, tanda tangan lu itu cocoknya berada di kertas pembungkus gorengan " canda irwanto sambil menggeleng gelengkan kepalanya, mustakim yang tidak memperdulikan candaan irwanto itu kini membubuhkan tangannya di seragam yang irwanto kenakan.
" rencana lu ke depannya apa gun, apa lu akan tetap mendaftar di kepolisian ? "
" kemungkinan besar sih iya mus...kalau lu dan irwanto bagaimana...? "
" kalau gue sih sepertinya akan mondok gun, entah tuh si irwanto mau jadi apa "
" kalian lihat saja nanti, gue pastikan gue akan menjadi wartawan seperti apa yang telah gue cita citakan sedari kecil "
Perkataan yang terucap dari mulut irwanto itu kini laksana sebuah lorong waktu yang mengantarkan kami pada pergerakan waktu yang berjalan begitu cepat dan tanpa terasa sudah dua puluh dua tahun waktu berlalu dari percakapanku dengan irwanto dan mustakim, seperti apa yang telah aku katakan kepada mustakim ketika dirinya menanyakan apakah aku akan mendaftarkan diri di kepolisian selepas lulus dari sekolah menengah atas, saat ini aku telah bergabung di kepolisian, lebih tepatnya lagi aku telah bergabung di salah satu unit yang bergerak menangani bebagai macam kasus kejahatan, dengan kata lain unitku ini banyak bersinggungan dengan penanganan tindak kejahatan yang terjadi di lapangan.
Agun Gunari itulah namaku, seorang bapak yang telah dikarunia seorang anak yang cantik bernama alinda, untuk sekedar diketahui alinda bukanlah anak yang terlahir dari rahim istriku, selepas dari pernikahanku dengan nike yang sudah berlangsung lama, ketiadaan tanda tanda yang menunjukan nike akan mengandung buah hati dari pernikahan kami, pada akhirnya telah membuat kami memutuskan untuk mengadopsi seorang anak dari salah satu salah satu yayasan yatim piatu yang berada di jawa barat.
" bagaimana mah, jadi apa enggak kita makan diluar ? " tanyaku diantara pergerakan tanganku yang tengah membuka pintu kulkas, rasa haus yang aku rasakan kini telah membuatku memilih untuk mengambil air minum sendiri daripada harus menunggu nike yang masih tersibukan dalam aktifitasnya berganti pakaian.
" jadilah kang, wahh... tumben akang mengambil air minum sendiri, pasti akang sudah enggak sabar yaa "
Mengiringi kehadiran nike dan alinda yang telah keluar dari dalam kamar, aku layangkan tatapan mataku ke arah ruang pendingin di dalam kulkas, beberapa kantong plastik yang tersimpan di dalam ruang pendingin menandakan bahwa nike telah berbelanja keperluan makan kami untuk beberapa hari ke depan
" kenapa kang ? enggak biasa biasanya akang memperhatikan ruang pendingin seperti itu "
" hanya untuk memastikannya saja mah apakah kamu sudah belanja atau belum "
YOU ARE READING
Jangji Pasini
Horror" orang ini telah mengatakan sesuatu kepada gue rus...." " mengatakan apa gun....?" " jangji pasini....." " hahh... jangji pasini ?, bukankah jangji pasini itu artinya janji yang enggak bisa diingkari ? " aku menganggukan kepala, ekspresi kebingung...
