keluh kesah

13 1 0
                                        

"Han!"

Aku memanggil Farhan sambil menghentakkan kaki, kesal. Sudah 30 menit sejak kami keluar dari pelataran kampus dia sama sekali tidak mengajakku berbicara. Suasana dalam mobilpun hening, hanya ada alunan lirih dari Ed Sharon dari dalam radio.

"Hm."

Farhan hanya menggumam menanggapi panggilanku. Dasar lelaki menyebalkan.

"Kamu nggak pingin nanyain aku kenapa?"

Farhan hanya melirik sekilas ke arahku tanpa menanggapi apapun.

"Capek akutu Han. Skripsi dicoret mulu, dosennya dikejar malah menjauh. Gini loh Han, semakin ku kejar, semakin kau jauh, gitu." kataku menggebu-gebu diakhiri dengan menghela nafas lelah.

"Ya namanya juga MAHAsiswa semester akhir, nikmatin aja Kin. Bentar lagi selesai, pasti kamu bakal kangen masa-masa ini."

Aku menoleh kearah Farhan dengan tatapan kesal.

"Njengkelke." ketusku.

Akupun diam sembari melihat keluar jendela. Ah ya, biar kukenalkan laki-laki menyebalkan disampingku ini. Dia Farhan, Farhan Aditya, pacarku selama dua tahun kebelakang. Dia kakak tingkat dikampus walau tidak satu Fakultas. Dia anak arsitek dengan segala prestasinya. Sekarang dia bekerja disalah satu perusahaan di Yogyakarta, dan dia memang asli Yogya.

Sedangkan aku, namaku Kinthya Rika. Aku mahasiswa semester akhir, jurusan manajemen disalah satu universitas negeri di Semarang. Aku tumbuh dan besar di Semarang bersama kedua orang tuaku, juga kakak kandung dan kakak iparku. Tapi ibu asli Solo sedang Bapak asli Semarang.

"Kin ngono ae mutung."

Aku hanya memutar bola mata malas menanggapi ucapan mas pacar yang paling menyebalkan ini, tapi aku sayang, eh.

"Kin."

Masih diam.

"Kin."

Diam lagi.

"Kinthya."

Aduh, siaga satu.

"Kinthya Rika."

Oke, siap meledak. "Opo sih Han." kataku jengkel.

"Nggak usah ngambek, kita makan sek. Ayo turun."

Aku menghela nafas sebentar, lalu beranjak keluar menyusul Farhan yang sudah lebih dulu turun tanpa menungguku. Ck, dasar tidak romantis.

"Pesan yo Kin." katanya sambil mengelus puncak kepalaku pelan.

Kalo ada maunya baru baik, gerutuku dalam hati.
Setelah memesan aku kembali kemeja yang sudah dipilih Farhan, lalu duduk disana dengan muka yang masuh tertekuk.

"Masih ngambek Kin?" tanyanya sambil menatapku.

"Hm."

"Kenapa coba?"

"Kamu tuh, aku lagi curhat  sama kamu. Ya mbok ditanggepin Han, malah dicuekin."

"Kin." Farhan menjeda ucapannya untuk memegang tanganku. "Capeknya masa kuliah belum seberapa sama capeknya dunia kerja. Kamu nggak perlu menanggapi dengan berlebihan Kin. Jalani aja dengan ikhlas, insyaallah semuanya pasti baik-baik aja."

Kalimat Farhan terjeda lagi saat ada pelayan yang mengantarkan pesanan kami. Setelah mengucapkan terimakasih, Farhan kembali memegang tanganku dan melanjutkan ucapannya.

"Bukan mau pamer apa gimana Kin. Tapi lihat aku, aku nggak pernah mengeluh sama kamu ataupun sama ibu. Karna aku tau ini udah jadi resiko yang harus aku tanggung dari jalan yang aku pilih. Dan itu juga resiko kamu karna kamu milih lanjutin untuk kuliah. Udahlah nggak usah dibikin capek, santai tapi tetep jalan. Nggak usah buru-buru, pelan aja tapi pasti."

Aku merasakan bagian hati kecilku tersentil dengan ucapannya tadi, aku hanya mengangguk lalu memberinya senyum terbaik.

"Maaf." kataku lalu memeluk lengannya yang kekar, nggak kekar kaya punyanya Agung Hercules sih, tapi ya gitu deh.

"Iya sayang. Udah nggak usah ngambek lagi makan gih." katanya lembut.

Aaah, rasanya pipiku memanas. Walaupun sudah dua tahun pacaran tapi setiap kali Farhan memanggilku sayang pasti aku akan merasakan gugup. Karna Farhan jarang sekali memanggilku dengan sebutan sayang atau panggilan alay lainnya.

* * *

"Han kapan pulang ke jogja?"

Saat ini kami tengah dijalan menuju ke rumahku.

"Lusa."

Aku hanya diam mendengar ucapan Farhan. Ya beginilah nasib hubungan jarak jauh, jarang bertemu. Tapi aku tetap harus bersyukur, salah satu cabang perusahaan tempat Farhan bekerja ada di semarang. Jadi, sesekali saat ada proyek di Semarang dia bisa mampir.

"Besok setelah ketemu klien ku jemput."

Aku menoleh kearah Farhan dengan tatapan bingung.

"Ngapain?"

"Keluar, mumpung aku belum ke Jogja."

"Kapan-kapan ajakin aku ke Jogja lagi lah Han, kangen sama bundamu."

"Iya, bulan depan ya."

"Aku kan sidang skripsi Farhan! Ck, nyebelin."
Farhan hanya terkekeh pelan menanggapi ucapanku.

"Mampir dulu nggak?" tanyaku saat mobil Farhan sudah memasuki pelataran rumahku.

"Ayah dirumah?"

"Ndak, lagi keluar kota."

Farhan hanya mengangguk, lalu membuka pintu mobil. Kurasa dia akan mampir. Akhirnya akupun mengikuti Farhan dari belakang.

"Assalamualaikum, Bu Kinta pulang."
Kamipun melangkah masuk kedalam.

"Duduk, mau minum apa?"

"Air es aja."

Aku mengangguk kemudian berlalu ke dapur untuk mengambilkan Farhan minum.
Sekembalinya aku dari dapur ku lihat mbak Aisyah-kakak kandungku sudah ada disana bersama Farhan.

"Ini." aku meletakkan gelas di depan Farhan lalu duduk di sampingnya.

"Pulang ke Jogja kapan Han? Mbak pingin makan gudeg loh Han, bawain ya kalo kesini lagi." kata mbak Ais dengan tatapan berbinar, yang aku yakin akan membuat Farhan dengan segala ketidakberdayaannya untuk menolak.

"Riweh mbak. Keburu gudegnya basi, modal dong. Ajakin mas Aji ke Jogja, honeymoon lagi." cerocosku panjang.

"Kebiasaanmu Kin. Aku lagi ngomong sama Farhan bukan kamu." kata mbak Ais. Ngegas buset.

"Iya mbak nanti Farhan cariin gudeg yang kering ya, biar bisa dimasak dirumah." kata Farhan.

"Nggak usah diturutin lah Han, mbak Ais nih kebiasaan aja."

"Diem koe. Lagian kamu tuh Kin sama Farhan yang sopan, panggil mas kek atau apa. Dia lebih tua dari kamu loh." kata mbak Ais kemudian beranjak menuju kamarnya.

"Han." kataku sambil menghadap ke Farhan.

"Kenapa?"

"Nggak apa-apa." kataku sambil tersenyum kikuk.

"Aku pulang ya, kamu mandi sana."

"Moh aku. Sini aja sih Han, entaran pulangnya. Mau ngelonin bantal guling aja buru-buru banget." kataku kesal.

Farhan mencubit pipiku pelan, "Kan belum boleh ngelonin kamu, nanti kalo udah boleh mah maunya ngelonin kamu terus." kata Farhan dengan suara sangat pelan.

Seketika aku merasa pasokan udara disekitarku menipis, sesak dan pipiku rasanya memanas.

"Nggak lucu Han!" kataku kesal.

"Emang nggak lagi ngelucu Kinta. Udah ya aku pulang dulu." katanya lalu mengecup singkat puncak kepalaku.

Aku hanya diam dan bangkit untuk mengantarkannya kedepan.

"Hati-hati Mas." kataku sambil melambaikan tangan.

Farhan tersenyum manis, sangat manis sampai membuatku meleleh ditempat.

* * *

Sweet LinesStories to obsess over. Discover now