PW part 12 - Dan Akhirnya

10.9K 1.3K 124
                                    

Hai haiiiii... Rai-Ai kembalii ^^

Maaf ya terlalu lama ditinggalkan, mungkin sampai ada yg lupa bagaimana Rai-Ai sebelumnya hehehe semoga part ini bisa sedikit mengobati

Selamat menikmatiiii ^^

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pembacaan doa yang terdengar dari pengeras suara membuat Airin gelisah setengah mati. Wajahnya tegang luar biasa dan jantungnya berdetak sangat kencang. Berulang kali perempuan itu berdecak gusar, mencengkeram erat kebaya yang membalut tubuhnya sambil menggigiti bibir, hingga berjalan mondar-mandir mengelilingi kamar, membuat Faye memutar bola mata melihatnya.

"Diem, kali, Rin. Capek gue liat lo kayak setrikaan begitu," komentar Faye.

Airin menghentikan langkah, mendelik Faye dengan gusar. "Gimana gue bisa diem, Fay? Ijab kabulnya baru aja selesai dan gue belum siap keluar!" serunya panik.

Faye menghela napas. "Lo nggak perlu keluar kalau nggak mau. Biar nanti Raidan yang jemput ke sini," katanya.

Kedua mata Airin membesar. "Itu apa lagi?! Gue nggak siap ketemu dia!" pekiknya panik.

Faye memutar bola mata lagi. Kedua tangannya terlipat di dada. "Terus lo maunya gimana?"

Airin menggigiti bibir cemas, berjalan hilir-mudik seraya berpikir keras. Cari jalan keluar, Airin. Lo belum siap ketemu Raidan. Belum siap ketemu tamu undangan. Belum siap go public. Belum siap jadi istri—

"Kebanyakan mikir lo. Bentar lagi juga Raidan dateng," decak Faye, membuyarkan lamunan Airin.

Airin mendesis kesal. Tetapi tiba-tiba sesuatu dalam kepalanya seolah-olah berkedip terang, membuat langkahnya praktis terhenti. Ia melirik jendela kamarnya yang terbuka lebar, lalu mendekati Faye dengan tergesa. "Bawa gue keluar, Fay!" serunya tiba-tiba. "Gue belum siap jadi istrinya Raidan! Please... bawa gue kabur!" ucapnya, menggebu-gebu.

Sejenak Faye melongo, kemudian menghela napas. "Jangan drama, Dodol. Hidup lo bukan sinetron," sahut Faye, menoyor gemas kepala Airin.

Airin merengut sebal, meremasi jemarinya dengan gusar. "Seriusan, Fay. Gue belum siap ketemu Raidan. Gue belum siap nikah sama diaaaa," rengeknya. "Bantuin gue, Fay, plisssss...."

"Kalau belum siap nikah, kenapa lamarannya lo terima? Yang salah siapa coba?" dengus Faye, gemas. "Udah, ah. Jangan bikin kacau acara lo sendiri, oke? Kasian keluarga lo yang udah siapin semuanya dari awal."

Tepat ketika itu, ketukan di pintu terdengar. Seketika, Airin melompat kaget dengan wajah horor. Matanya melotot lebar dan wajahnya pasi. Melihat Airin yang terpaku, Faye melangkah menuju pintu, berinisiatif membukanya. Tetapi dengan sigap Airin menahan langkahnya.

"Jangan dibuka, Fay!" serunya histeris, memegangi lengan Faye erat-erat. Ekspresinya bertambah horor.

Sebelah alis Faye terangkat.

Airin menelan ludah gugup. "Gu-gue... bentar, gue ngaca dulu," gagapnya.

Faye mendengus, membiarkan Airin menatap bayangannya sendiri di depan cermin seukuran badan. Lalu, saat melihat perempuan itu mengembuskan napas panjang-panjang, Faye terkekeh. "Tenang, Airin Indrayana Maheswari. Lo udah cantik banget hari ini, udah manglingi. Raidan nggak bakal sanggup nolak lo, kedip juga dia nggak akan bisa saking terpesonanya. Percaya sama gue, oke?"

PINK WEDDINGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang