Prolog

2.1K 41 0
                                        

''''

'''

''

'

"Ecieee! yang dapat lagi" suara cempreng Alissa mengalihkan perhatianku dari amplop biru langit di tanganku. Aku menghela nafas pelan entah sudah berapa surat yang ku terima dalam satu minggu ini, 10? 11? entahlah, sebenarnya aku juga tidak terlalu peduli.

seperti kebiasaanku jika menerima amplop ,seperti surat-surat lain, amplop biru langit ini juga pada akhirnya akan masuk ke dalam tong sampah lengkap dengan tulisan indah di dalamnya. tanpa perlu ku buka dan ku baca, aku sudah bisa menebak seperti apa rangkaian kalimat di dalamnya.

pujian-pujian, puisi, pantun, curhatan gaje tentang diriku, pernyataan cinta dan sebagainya. Muak? aku tidak muak, aku hanya risih di beri amplop-amplop sama setiap saatnya. kadang aku berpikir, apakah mereka tidak mempunyai pekerjaan yang lebih penting untuk dilakukan? daripada sekedar menulis surat yang tidak jelas, dan setelah itu menunggu balasan bahkan menaruh harapan bahwa aku akan membalas perasaan mereka.

Apakah benar-benar sulit bagi mereka untuk datang menghampiriku dan langsung mengatakan perasaan mereka daripada membuat mejaku terlihat seperti tempat sampah karena di penuhi beberapa kertas berwarna cerah.

"Etdah bengong lagi!" kembali suara cempreng Alissa mengalihkan perhatianku. aku tidak sadar sedari tadi kerjaanku hanya melamun sambil menatap amplop biru langit ini. Ku akui, amplopnya lucu. amplop mungil yang bergambar kupu-kupu di sampul depannya dan pita kecil mengikatnya dengan indah. Cantik, tanpa sadar bibirku tertarik ke atas menyunggingkan senyum kecil.

"Eciee! akhirnya ada surat cinta yang bisa menggetarkan hati Hazel " kata Alissa dengan dramatisnya. ia mengangkat tangannya ke udara seolah-olah tengah mengucapkan syukur terhadap sang pencipta.

ternyata senyum kecil ku tadi memberi pengertian salah bagi Alissa. Aku menyodorkan amplop kecil itu kepada Alissa. ia memandangku bingung, tapi sedetik kemudian, seolah mengerti keinginanku dia memberengut kesal.

"Dibuang lagi?" tanyanya sebal. Aku mengangguk. dia lalu mengambil surat itu enggan dan memasukkannya ke dalam tas pink bermotif polkadot yang tengah di tentengnya.

"Jangan lupa dibuang" ujarku setelah kembali duduk di kursi tengah ruangan Fakultas hukum ini. "Gue nggak ngerti sama mereka deh sa" kataku kembali setelah beberapa saat terdiam. Alissa menyusulku duduk setelah sebelumnya mengetik sebuah pesan untuk seseorang yang ku tebak pasti adalah Davon, Pacar Alissa.

"Mereka? siapa? oh para penggemar lo ?" aku mengangguk.

"Kalau boleh jujur gue enggak bakal nyalahin mereka atas kelakuan sweet mereka sih" jedanya beberapa saat sambil menatapku lurus-lurus, aku diam sembari mencerna keadaan. terlihat Alissa menarik nafas perlahan lalu menghembuskannya dengan perlahan pula

"mereka punya perasaan sama lo dan itu sama sekali bukan kesalahan, i mean siapa sih yang bisa nyegah si cupid melepaskan panah cintanya ke siapa aja?" Aku masih terdiam, well sebenarnya masih mencerna perkataannya.

Ia melanjutkan "Cinta itu hal yang mutlak cel, bukan karangan semata"

"Kok gue malah berharap andai aja tampang gue enggak cantik cantik amat" dan tanpa di sangka-sangka Alissa malah menoyor kepalaku seenak jidatnya. Aku memandangnya sebal, dan dia? dia nyengir dengan wajah tanpa dosanya.

"Ke kantin yuk" ajaknya sembari menarikku untuk berdiri. aku mengangguk, dan kami keluar dari kelas, menyusuri koridor utama menuju kantin. dan aku berharap, ketika aku kembali nanti, tak ada amplop berwarna cerah lagi nongkrong di kursiku.

______________________________________

Ini sebenernya cerita lama, cuman karena kemarin ada yang Re-make ni cerita (makasih karena udah minta maaf) jadi saya hapus. Dan bagi yang pernah baca nih cerita seblum dihapus kemarin, kalian mungkin ngeh kalo nama pemainnya saya ubah dikit wkwkw

Kalo responnya bagus, bakal saya update cepet, tapi kalo enggak~ yaudah sih bakal tetep di update tapi enggak cepet amat xD

Vommentnya boleh?

My Sweet Stalker (Re-post)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang