Yas

17 4 0
                                        

Namaku Alfindayas Shafnawa. Aku lebih dikenal sebagai Yas. Menjadi seorang murid SMK sesungguhnya bukanlah keinginanku. Itu adalah keinginan kedua orang tuaku. Jika kau tanya mengapa aku menurutinya? Tak lain dan tak bukan karena aku takut akan julukan "Anak Durhaka." Sesungguhnya definisi yang demikian bukanlah definisi yang pantas diberikan kepada mereka yang ingin melanjutkan mimpi-mimpinya. Namun, semua ini juga kesalahanku.

Ya, aku menginjak bangku SMK setelah bernegoisasi dengan kedua orang tuaku. Teman-teman SMP  banyak yang lebih memilih masuk SMK dengan jurusan yang hampir semuanya sama pula. Jurusan hitung-menghitung, yakni akuntansi. Sedari SMP, aku telah membulatkan tekad untuk masuk jurusan yang berbeda dari teman-teman. Bahkan dengan bangga, kukatakan bahwa aku adalah calon programmer. Calon yang akan membuat virus atau menghilangkan virus. Yups! RPL. Jurusan yang bergerak di bidang teknologi dan informasi ini sangat menarik perhatianku. RPL membuatku jatuh cinta, mengulik informasi tentangnya, membuatku memperjuangkannya, meski sesaat saja.

Menjadi anak RPL sudah seperti cita-cita tersusun. Hingga aku telah mempersiapkan plan-plan kuliah atau kerja di mana. Semua sudah tersusun rapi dan sedemikian rupa. Namun sayang, semuanya kandas begitu saja.

Setelah kelulusan tiba, aku mendaftar di salah satu SMK Negeri. SMK Negeri 1 Harapan Bangsa. Hal ini dilakukan sebab aku tidak percaya diri mendaftar ke salah satu SMA Negeri. Rumor yang menyebar mengatakan bahwa NEM-ku tidak cukup untuk mendaftar di sekolah tersebut. Daripada membuang-buang kesempatan, akhirnya kukubur dalam-dalam sekolah favorit tersebut. Hingga akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada SMK yang juga lumayan menjadi rebutan anak-anak SMP kala itu.

***

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Aku diterima di SMK Negeri 1 Harapan Bangsa, tinggal memilih jurusan saja maka selesailah proses pencarianku selama beberapa minggu ini.

"Yas, yakin mau masuk jurusan RPL?", tanya ibu padaku.
"Yakin dong, mau jadi programmer ntar biar bisa ngutak-ngatik laptop hehe," jawabku pede.
"Tapi di sini favoritnya akuntansi loh, kamu gak mau masuk akuntansi?", tanya ibu sambil menawarkan jurusan yang memang sangat terkenal di sekolah ini.
"Nggak deh, tetep RPL di hati," tungkasku tak ragu.
"Hmm gini saja, nilai matematikamu kan lumayan. Gimana kalau kamu pilihan pertama akuntansi, pilihan kedua RPL? Nanti kalau kamu memang gak masuk akuntansi, terserah kamu deh mau pilih mana saja. RPL boleh."
"Oke, deal. Tapi nanti kalau masuk RPL gak bisa diganggu gugat ya."
"Iya," jawab ibu singkat.

Kesepakatan itu menjadi awal mulaku masuk jurusan akuntansi. Jurusan yang sama sekali tidak kumengerti seperti apa gambaran umumnya, yang ada di pikiran hanyalah hitung-menghitung yang membosankan. Meskipun aku menyukai pelajaran matematika, namun menjadi seorang accounting tidak pernah terlintas di pikiranku.

"Pak, ini daftarnya di mana ya?", tanya ibu pada salah satu guru SMK tersebut.
"Oh di ruangan sebelah bu," jawabnya sambil tersenyum.
"Terima kasih pak,"
"Nggih bu."

Ibu dan aku menuju ruangan yang ditunjuk oleh salah satu guru SMK tadi. Sesampainya di ruangan tersebut, kita mengumpulkan berkas-berkas yang diinginkan oleh sekolah. Sembari memeriksa berkas-berkas tersebut, salah satu guru perempuan berparas ayu menyapa ibu duluan,

"Bu, anaknya mau masuk jurusan apa?" Tanya ibu paruh baya yang masih terlihat awet muda.
"Maunya akuntansi bu kalau dapat," jawab ibu sambil memberikan senyum paling ramah yang ia miliki.
"Oh, itu jurusan paling banyak peminat di sini bu. Masuk jurusan ini tidak seperti jurusan lainnya yang tinggal masuk. Saking banyaknya peminat, maka harus kita seleksi murid-muridnya. Kita hanya mencari 3 kelas saja bu,"
"Hmm saya pasrah deh bu kalau tau begitu." Jawab ibu yang seperti kehilangan semangat.
"Memang anak ibu nilai matematikanya berapa bu?"
"Nilainya alhamdulillah 9,25 bu."
"Wah tinggi sekali nilainya, pasti masuk bu, peluangnya besar. Tapi tetap harus pakai test," jawab guru tersebut sambil berdecak kagum.

Nilaiku memang tinggi, hal ini diraih dengan tidak mudah. Jatuh bangun aku belajar matematika. Dimarahi guru matematika? Sudah seperti makananku sehari-hari. Ketertarikan pada cara-cara cepat menyelesaikan soal membuatku semakin semangat dan mengulasnya sendiri untuk menemukan jalan paling pintas menjawab pertanyaan. Jika dikatakan 1 soal matematika bisa menghabiskan berlembar-lembar halaman double folio, maka hal itu akan kusederhanakan menjadi seperempat atau bahkan lebih kecil dari itu. Bukuku penuh dengan catatan-catatan absurd. Coretan di sana-sini dengan tanda-tanda atau simbol-simbol yang hanya akulah sang pemilik yang mengetahui arti dan lanjutannya seperti apa. Jika kau lihat catatan matematikaku, kau akan mual melihatnya, sebab berantakan dan jauh dari kata rapi. Dari sana keunikanku belajar. Matematika kujadikan musuh yang harus kulawan. Matematika memang mematikan bagi mereka yang tidak menyukainya. Jadikan dia musuh, kemudian teman, kemudian kekasihmu. Hingga jika kau mencintainya maka kau akan berjuang untuknya. Hal itu yang kutanamkan untuk melawan kesusahan matematika. Selain itu, tipikal guru matematika yang kutemui sejak bangku SMP membuat semakin jatuh cinta dengan matematika. Ada guru yang galaknya naudzubillah. Bahkan aku pernah berpura-pura sakit saking tidak berani menatapnya. Ada guru matematika yang jika mengajar seperti guru motivator. Persis seperti bapak Mario Teguh. Selalu ada motivasi yang ia beri dan aku entah mengapa selalu mencatat motivasi tersebut di setiap lembaran bukuku, tentu bergabung dengan puluhan rumus yang berceceran di mana-mana.

Dari nilai matematika yang lumayan tersebut membuatku lebih mudah untuk masuk jurusan akuntansi selain test yang cukup menguras pikiran. Tapi, meskipun demikian, keinginanku untuk masuk jurusan RPL sangatlah tinggi hingga soal-soal akuntansi kujawab dengan sesuka hati, bahkan ada yang hanya kubaca sesekali. Aku ingin masuk jurusan RPL. Teriakku dalam hati.

***
Beberapa hari setelah test dilakukan, ada pengumuman untuk perankingan jurusan akuntansi. Jika murid yang lain berdoa agar masuk jurusan akuntansi, maka hal itu tidak berlaku denganku. Aku justru berdiam diri sambil berdoa semoga masuk jurusan RPL. Tidak mengapa bukan jurusan favorit, yang terpenting adalah bagaimana memfavoritkannya sehingga jika orang lain melihatnya juga ikut kagum atasnya. Pengumuman dibacakan menggunakan mic. Nama pertama adalah nama yang akan masuk kelas favorit akuntansi dengan ranking urut sesuai test. Nama pertama yang disebutkan adalah nama teman SMPku yang memang pandai sejak SMP. Rajin mengikuti lomba ini-itu dan kau tahu? Dia adalah teman sebangku selama 2 tahun di SMP. Kemudian setelah dia maju ke depan dengan tepuk tangan yang gemuruh, panggilan kedua telah diumumkan. "Alfindayas Shafnawa..."
Sontak aku kaget bukan main. Kenapa bisa namaku? Kenapa bukan yang lain? Pertama mendengar nama itu, aku tidak bangun dari tempat dudukku. Aku menduga-duga mungkin akan ada nama yang sama sepertiku. Namun dugaan macam apa itu. Namaku disebut diurutan kedua. Itu artinya aku adalah ranking kedua dari ratusan murid yang mencari jurusan akuntansi. Setelah ini aku tidak bisa lagi untuk pindah jurusan. Diterima di jurusan favorit dan kelas favorit membuatku dirundung sedikit penyesalan. Mengapa ketika sebelum test jurusan aku tidak memilih pindah jurusan seperti temanku? Semua penyesalan hanyalah penyesalan. Menjadi anak akuntansi kini harus kujalani dengan sepenuh hati. Menjadikannya musuh kemudian mencoba menjadikannya kekasih hati. Lagi dan lagi.

"Yas, selamat ya. Kita sekelas lagi. Di kelas favorit pula. Aku senang sekali bisa bareng kamu lagi meskipun aku kira kita gak bakal sekelas karena kamu semasa SMP bilang mau masuk jurusan RPL," kata Meilla sambil tersenyum kegirangan.
"Iya alhamdulillah Mei," jawabku lemas.

Jika bisa dikatakan bahwa aku tidak bersyukur, maka itu bisa kau sematkan. Pasalnya menjadi bagian favorit adalah idaman para murid yang lainnya. Namun, aku justru masih menyesali keputusanku yang goyah. "Apa yang tidak kau suka bisa jadi akan menjadi yang terbaik bagimu dan apa yang kau suka bisa jadi yang terburuk bagimu. Karena Tuhan Maha Mengetahui segalanya." Mulai saat itu aku menanamkan benih kalimat itu pada pikiranku. Bahwa apa yang aku jalani 'bisa jadi' yang terbaik menurut Tuhan, nantinya.

"Hi Akuntansi! I will love you, now until the end of VHS. Selamat berjumpa hingga 3 tahun mendatang," sapaku dengan penuh keyakinan.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 04, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

FAY & YAS Stories to obsess over. Discover now