We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

I

17 1 0
                                        


Namanya cantik seperti bunga, Haruka, tentu saja nama dengan doa itu merefleksi pada wajahnya yang lembut dan anggun.

Hanya ada satu masalah,

Haruka mengisap batang keduanya perlahan, menghembuskan asap kelabu yang menurutnya cantik, dengan tangan kiri yang tidak pernah lepas dari gadgetnya dan telinga dari earphone, Haruka mengklik aplikasi music, jarinya secara otomatis bergeser ke arah album bertuliskan "Bangtan".

Setelah alunan musik dimulai, bahunya menjadi rileks. Haruka, nama yang cantik dan lembut seperti wajah dan perilakunya, hanya memiliki satu masalah.

Haruka menutup matanya saat lagu mengalun lembut, tidak menyadari Dyra yang sejak tadi duduk dihadapannya dengan wajah bersemu, dia tahu Haruka tidak suka saat momen fangilrnya diganggu, jadi dia hanya duduk saja disitu, mengagumi wajah bulat dan lembut Haruka yang jarang.

Haruka membuka matanya saat lagu berganti, matanya naik perlahan ketika menyadari dia tidak sendirian, "Dyra" sapanya lembut, masih didalam awang-awang Serendipity, "My Blue Mold" gumamnya sebelum mengalihkan pandangannya kearah batang rokok yang terbakar setengah.

Dyra mengerucutkan bibirnya bingung, "Apa itu?"

Haruka menaikan satu alisnya tanpa mengalihkan pandangan, "Blue Mold?"

Dyra menggeleng, "Itu" tunjuknya ke jemari Haruka yang mengapit batang putih yang terbakar.

"Rokok" jawab Haruka singkat sambil menghisapnya dalam, merasa aneh dengan kekosongan didalam tenggorokannya.

"No shit Sherlock" sarkastik Dyra, menyambar batang tersebut tanpa takut terbakar, Harukka hanya tertawa kecil, tersedak asap keabuan tersebut.

"You know i am a smoker, my dear Dyra"

"And you know," Dyra membuang batang tersebut ketanah dan menginjaknya, "That I do not allow you to smoke in front of me."

Haruka mendengus dan mengambil batang lain dari sakunya, "Whatever"

"Teme-" Dyra mulai kesal.

"Yes, Dobe?" Haruka membalas panggilan sayang tersebut dengan senyuman asap.

Dyra menatapnya lama sebelum menghela napas, menyerah. "Menyebalkan," gumam Dyra, berniat pergi sebelum lengannya disambar secepat kilat oleh Haruka, "Sit here" Haruka mengangguk ke arah kursi di sampingnya.

Dyra menatap perempuan bermata sayu dihadapannya dengan sebal sebelum akhirnya duduk.

"You have class today?"

Haruka mengecek jadwal di gadgetnya, "Yeah." Pundak Dyra merosot sedikit, tentu saja Haruka tidak akan datang ke kampus hanya untuk bermain-main, Dyra menyandarkan kepalanya di bahu Haruka, ingin merasakan kehangatan perempuan tersebut, " Jam?"

"Ten minutes ago."

Dyra menatap perempuan yang dengan antengnya udud sambil main hape tersebut dengan jengkel, "Why didn't you go then?"

"Because i haven't met you." Seringai Haruka, tahu hal yang membuat Dyra luluh, dan jawaban tersebut membuat Dyra bersemu, dia mencubit lengan Haruka, "Masuk kelas sana."

"Nope," Haruka bersandar di kepala Dyra dan mencium wangi shampo yang lembut, "Too lazy to be there,"

Dyra hanya merutuk dalam hati, sebenarnya dia tidak mau Haruka terlalu sering skip kelas, tapi di ajuga tidak mau Haruka pergi, entah sampai kapan dia akan terus menginginkan Haruka untuk berada di sampingnya.

Akhirnya Dyra membiarkan Haruka bersantai, ia memperhatikan sekeliling kantin yang sepi, hanya ada mereka berdua karena sebagian besar mahasiswa sudah masuk kelas, Haruka juga selalu memilih tempat disudut yang tertutup oleh rantai tanaman yang menjalar dari atap sampai lantai, Haruka tidak mau dirinya terekspos, terlebih dia suka sendirian dan tidak terganggu.

Sebuah tepukan di bahu membuat Dyra menoleh, mencium perpaduan pahit asap dan manisnya kopi yang sudah tidak asing, Haruka tersenyum lalu kembali memainkan gadgetnya. Dyra nyaris meledak saking malunya, dia bersesyukur Haruka tidak melihat wajah merah tomatnya sekarang, baru saja Dyra merasa tenang, Haruka menyentuh telinganya, membuat perempuan tersebut terlonjak sedikit, "Apa?"

Haruka diam sebentar untuk mencerna, Dyra yang sudah empat tahun bersamanya masih memerah seperti anak perawan ketika disentuhnya, dia menahan senyumnya sebisa mungkin dan menunjuk satu earphonenya.

"Listen to this"

"Oh"

Dyra tampak kecewa, membuat Haruka menggigit bibirnya. Masih di kampus masih di kampus, rapalnya dalam hati.

Saat lagu mengalum pelan, Dyra mulai rileks, "Film?"

Haruka mengangguk, mengiyakkan, "I made it yesterday."

Dyra bersiul takjub, "Tentang apa?" dia bertanya sambil bersandar ke bahu Haruka.

Haruka memperhatikan wajah Dyra dari pantulan layar gadgetnya yang masih memuat intro film tersebut, sampai akhirnya Dyra menoleh menatap Haruka yang tidak menjawabnya, mendapati perempuan tersebut juga menatapnya,

"Kita."

-23 September 2018- 13:40

Menunggu Pembalasan (g x g)Stories to obsess over. Discover now