Dulu sekali, aku percaya bahwa laki-laki dan perempuan dapat berada dalam satu hubungan pertemanan tanpa campur tangan perasaan.
Bertahun-tahun kemudian, keyakinan itu perlahan berubah jadi omong kosong yang ku maki habis-habisan.
Aku tengah terlentang di atas sofa ruang tengah. Sibuk menaik turunkan layar ponsel, sesekali membalas beberapa pesan, dan membuka beberapa media sosial yang ku punya semata untuk membersihkan notifikasi yang menumpuk saja.
Televisi ku biarkan menyala. Pendingin udara juga sudah diatur sedemikian rupa untuk menyelamatkan diri dari gelombang panas gila-gilaan.
Tepat ketika aku hendak melemaskan otot tangan yang terlanjur kaku, suara pintu yang dibuka dan ditutup cepat segera mengalihkan atensi.
"Tidak bisa dipercaya. Kau masih dengan posisi yang sama setelah satu jam setengah aku keluar dari rumah?"
Aku menurunkan ponsel, menatap seseorang yang baru saja bicara, mendapati presensi pemuda tinggi bersurai cokelat gelap yang tengah menatapku seperti seorang pesakitan.
"Kau tidak lupa pada pesananku, kan?"
Malas-malasan, pemuda itu merogoh kantung belanjaan dan melempar sebatang cokelat ke arahku tanpa aba-aba.
Untungnya, aku terlatih menerima benda-benda yang dia lepas landaskan dengan indah.
"Aku bertemu Sian di Supermarket."
Pemuda itu membuka ruang konversasi lain, menyebabkan aku mengangkat satu alis, meminta ia melanjutkan kalimatnya.
"Lalu? Dia memintamu untuk jadi pasangan kencannya lagi?"
Aku terbahak sedikit. Mataku mengekori pergerakan Taehyung yang tengah berjalan ke arah dapur. Untuk beberapa saat yang berubah hening, pemuda itu tampak mengabaikan tanyaku dan sibuk memasukkan beragam bahan makanan ke dalam lemari pendingin.
"Kau tau, seluruh perempuan di kampus mungkin tengah gencar melakukan tebar pesona agar bisa datang berdua dengan paling tidak pria yang mereka harapkan di malam ramah tamah."
Taehyung berjalan ke arahku setelah selesai dengan tugasnya.
Kalimat panjang yang baru saja dia lontarkan membuatku mengerutkan dahi, berpikir dan bingung sebenarnya.
"Apa masalahnya?"
Pemuda dengan surai sedikit berantakan itu tersenyum tipis sekali, kemudian menjatuhkan dirinya membelakangiku. Duduk di hadapan meja rendah yang terbuat dari kayu, menatap televisi yang saat ini masih menampilkan acara variety show membosankan.
"Kau tidak tergerak untuk membidik seseorang dan membawanya ke malam ramah tamah juga, kah?"
Taehyung bersuara, membuatku mendengus sesaat. Tidak ingin membahas soal acara tidak penting ini sebenarnya.
"Dan sekedar informasi saja, aku sudah mendapat paling tidak tujuh tawaran menjadi pasangan perempuan-perempuan itu untuk datang ke sana."
"Biar ku tebak," Aku menjentikkan jari sebelum melanjutkan, "Kau tidak menerima satu tawaran pun karena ingin berpasangan denganku di acara itu?"
"Nah, tepat. Jadi, kalau kau tidak keberatan, berhenti memainkan ponsel saja dan susunlah rencana untuk kita."
Taehyung membalikkan badan. Menatapku dalam satu garis lurus sebelum menghela nafas dan berkata, "Kau sungguh tidak bisa melihat betapa aku ini diincar oleh banyak perempuan, ya?"
Aku terbahak. Mengunci layar ponsel sesaat sebelum benda itu meluncur jatuh ke karpet.
"Aku tidak peduli tentang itu. Selagi kau mencintaiku dan aku pun begitu, tidak ada yang bisa mengganggu. Itu kan yang selalu kau bilang padaku?"
__
