-Mencari setetes kedamaian dalam impian-
Langit senja yang berwarna keemasan mulai membiru. Tatkala butiran-butiran hujan mulai turun membasahi hamparan rumput yang kering. Ray yang saat itu tengah duduk disudut ruang latihan bersama rekan-rekannya, mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang kini mulai basah karena air hujan. Tubuhnya mulai mengigil, dengan cepat ia menyesap coklat panas yang ia seduh beberapa menit yang lalu. Terasa manis, namun juga ia dapat merasakan pahit diujung lidahnya. Ketika dirasa sudah hangat, ia kembali memperhatikan video 'dance tutorial' yang sedari tadi di putar di laptopnya.
"Part yang ini sangat susah dihafalkan." Keluh Tea. Sedetik kemudian, ia berguling-guling di lantai layaknya anak kecil.
"Itu karena kau jarang berlatih." Ujar Juan sambil menggulingkan tubuh Tea hingga menggelinding dan membentur tembok.
"Yak! Awas kau."
Seisi ruangan tertawa melihat tingkah Tea dan Juan yang selalu bertengkar. Mereka berniat istirahat sejenak sebelum melanjutkan latihan. Namun, mengingat lomba yang semakin dekat membuat mereka harus berlatih lebih giat demi memaksimalkan kinerja tim mereka agar semakin kompak.
"Sepulang dari sini, kalian harus jujur kepada orang tua kalian. Jangan berbohong seperti lomba kemarin!" Titah Faza. Mereka mengangguk pasrah. Lomba kali ini, mereka harus melakukannya semaksimal mungkin karena lomba ini bukanlah lomba sembarangan. Jika mereka menang, mereka mendapat kesempatan untuk tampil ke luar kota.
Suara decitan sepatu kembali menggema ke setiap sudut ruangan. Begitu pula dengan dentuman lagu yang terdengar lebih merdu ketika menyatu dengan suara gemercik hujan yang samar samar terdengar dari luar. Sedikit demi sedikit, keringat mulai bercucuran seiring bertambah banyaknya gerakan yang di produksi oleh tubuh.
Tempo lagu yang sedikit cepat membuat seisi ruangan ikut bergerak mengikuti irama. Namun, disaat yang lain tengah sibuk menghafal koreonya masing-masing, yang dilakukan Ray hanya duduk melamun disudut ruangan sambil menatap kosong cermin di depannya. Ingatannya kembali berputar pada kejadian semalam, dimana ia sudah berterus terang kepada ibunya tentang lomba yang akan ia ikuti.
Namun, kejujurannya sama sekali tidak membawa hasil yang baik. Ibunya dengan tegas melarang Ray untuk mengikuti lomba itu. Tentu saja dengan alasan klasik yang sering orang tua katakan. 'Untuk apa melakukan hal yang tidak berguna?'
Bagi Ray menari itu mimpinya. Ia sangat suka menari. Ia merasa senang ketika ia dapat menggerakkan tubuhnya mengikuti alunan lagu. Setiap minggu ia akan keluar rumah dengan berbagai alasan. Entah itu untuk mengerjakan tugas ataupun main bersama teman sekelas. Namun nyatanya ia pergi untuk berlatih.
Kedua mata Ray kembali fokus pada teman-temannya yang tengah beradu argumen tentang siapa yang melakukan kesalahan. Sesekali mereka tertawa, bercanda, namun mereka tetap saling mendukung. Melihat betapa besarnya solidaritas mereka, membuat Ray tak ingin meninggalkan mereka begitu saja. Ia harus berjuang membujuk ibunya agar merestuinya. Karena Ray tahu, mereka mempunyai mimpi yang sama denganya. Akan sangat jahat bukan jika Ray menghancurkannya begitu saja?
Faza yang pertama kali menyadari perubahan sikap Ray segera menghampiri gadis itu lalu duduk bersandar pada dinding. Separuh energinya telah hilang berganti menjadi keringat yang mengucur di pelipis dan lehernya. Bahkan rambutnya sudah setengah basah oleh keringat. Ray yang menyadari kehadiran Faza segera mengambil sebotol air mineral dan memberikannya kepada pemuda yang lebih tua disampingnya.
"Kenapa?" Tanya Faza setelah ia selesai meneguk setengah botol air.
"Tidak, hanya sedang tidak enak badan." Bohong Ray.
YOU ARE READING
Dibuang Sayang | Cerpen
Short StoryIsinya cuma kumpulan cerpen bekas tugas bahasa Indonesia di SMA yang gak di revisi lagi. Daripada di buang mending buat kenang kenangan yekan :) Selamat membaca!
