Rasa Cinta Dea

153 2 0
                                        

     Dea dengan sabar menunggu Rifan menyalakan motornya. Hatinya sangat kacau. Karena ia tahu, setiap kali ia menaiki motornya beberapa pandang mata akan menatapnya. Dea sebenarnya tak mau pedulikan dengan tatapan mata yang selalu menyelidikinya. Tetapi, lama kelamaan ia tahan juga, ia tak bisa membiarkan.

     Di atas sadel Rifan, Dea mulai berbicara,” Rifan…kayaknya mulai besok aku ngak bakalan bareng kamu pulang lagi deh.” Rifan terdiam. Ia sepertinya berkonsentrasi dengan lalu lintas yang padat di hadapannya. “Rifan…!” seru Dea lagi. Rifan menoleh,” Iya Dea , aku ngak budek. Emang kamu ngak suka pulang bareng aku ?” Rifan balik bertanya. Dea menggelengkan kepala. ”Bukan itu Fan, aku cuma...cuma pengen pulang belakangan. Sekarang banyak tugas dari Bu Eka,” kata Dea terbata-bata. Karena ia, hal itu cuma alasan yang dibuat-buat saja.

     Rifan menghentikan motornya di tepi jalan. Kebetulan di situ berdiri warung minuman. Ia memarkirkan motornya. Dea menunggu di sebelahnya. Lalu, Rifan berjalan masuk ke warung itu. Dea mengikutinya dari belakang dengan susah payah. ”Aduh, Rifan apa ngak tahu bahwa kakiku ngak normal yah. Aku jalan mesti pelan-pelan...,” keluhnya dalam hati. Kaki kanan Dea lebih pendek lima senti dari kaki kirinya, jadi Dea berjalan pincang. Ia tak mau memakai tongkat penyangga. Ia mau berjalan seperti orang normal saya. Akan tetapi, irama jalan Dea lebih lambat karena kepincangan kakinya itu. Biasanya Rifan sabar menunggu ia berjalan. Tetapi, kok sekarang tak ambil pusing.

     Setelah duduk, Rifan pun memesan dua juice alpokat. Sambil menunggu pesanan, Rifan yang duduk di hadapan Dea pun bertanya,” Kenapa Dea ? “ Dea tak dapat berkata apa-apa . Kepalanya tertunduk,” Bukan maksud saya begitu Fan. Hanya aku jadi ngak enak terus kalo bareng kamu. Ada omongan yang ngak enakin.” Rifan tersenyum mendengar jawaban Dea. “Ayo lah Dea...kita udah kenal lama kan. Ngak mungkin kamu bisa ngomong kayak ngitu kalo ngak ada sebabnya. Jujur aja. Ada apa ?”tanya Rifan menatap tajam kedua bola mata Dea. Dea tak mampu membalas tatapan Rifan.

    Tiba-tiba, seorang mbak datang mengantar juice pesanan Rifan. Pembicaraan sesat berhenti. Setelah itu mulut Dea langsuing nyerocos, “Begini, Fan...aku ngak mau kalau kedekatan kita jadi gosip. Setiap aku pulang bareng motor kamu setiap anak menatap curiga terus. Setiap hari mereka berbisik-bisik pelan . Mereka membicarakan kita. Kita disangka punya hubungan khusus. Lagi pula, aku tahu kamu udah punya pacar, Sheila, sahabatku. Hubungan kalian sudah diketahui seluruh sekolah. Kalian bagaikan Romeo and Juliet sekolah kita. Bagaikan legenda deh. Akan tetapi, ia sekarang melanjutkan sekolah di Australia Terus, sebelum berangkat Sheila titipin kamu untuk aku jaga. Kebetulan juga, rumah kita sekompleks. Jadi, kita bisa pulang bareng. Teman-teman tahu hal itu. Tetapi, kok lama kelamaan ada gosip yang ngak enak. Ada celetukan bahwa aku makan teman, aku gadis penggoda, ngak setia kawan, ” tutur Dea panjang lebar pada Rifan , betapa terkejutnya ia melihat lawan bicaranya bukan memperhatikan ia ngomong , malah asyik menyeruput minuman.

   ”Rifan !!” bentak Dea kesal. Rifan tergagap,” Ada apa Dea, aku bilang sekali lagi. Aku ngak budek...tahu Nek ,” balasnya setengah teriak. ”Jawaban aku yang pasti. Cuekin aza kalau orang ngomongin kita. Toh , itu kan ngak benar. Aku udah punya pacar Sheila, yang kebetulan juga itu sahabat kamu, Trus dia lagi sekolah ke luar. Trus, kamu sebagai temannya disuruh jagain aku.Kan klop ! kenapa susah seh Neng...,” urai Rifan sederhana pada Dea. ”Udah deh, Non..kita lakukan aza kegiatan kita sehari-hari. Ngak usah aneh-aneh. Aduh, lihat nih ! gara-gara kita berhenti di sini. Waktuku jadi tersita. Ini waktu aku beri les matematika sama anak tetanggaku.Ayo kita pulang,” ajak Rifan beranjak dari bangku sambil meninggalkan beberapa lembar uang di meja. ”Bu, makasih yah juicenya ini uangnya,” seru Rifan sambil menunjukkan uang yang ia taruh. Sekali lagi Dea berjalan mengikuti Rifan dengan setengah berlari.

      Motor segera mereka naiki. Sepanjang jalan Dea hanya merengut. Hatinya kesal sekali. Rifan seakan-akan tak mengubris apa yang dirisaukannya. Rifan tak mempedulikan tatapan dan gosipan miring orang tentang hubungan mereka. ”Iih..dasar laki-laki, di otaknya hanya logika ngak pakai perasaan !” umpatnya kesal. Dipegangnya bawah sadel supaya ia tak terbang. Karena kali ini, Rifan benar-benar ngebut membawa motornya.
Ting..dong...ting...dong... ! dengan malas Dea membuka pintu pagar. Ternyata nonggol wajah Susi yang imut. Susi , teman sebangkunya adalah wartawan sekolah. Ia raja gosip nomor wahid. Segala kejadian di sekolah, ia pasti tahu. Nah, kalau hari ini, ia datang ke rumah Dea. Pasti ada incaran yang harus diketahui. ”Hemm..hemm Dea sayang kamu lagi sibuk yah. Maaf, aku ganggu dikit yah. Kemarin, pelajaran Pak Peno aku ngak perhatiin. Aku ngak tahu ada PR ngak .Tahu kan kumisnya begitu tebal. Aku takut sekali diomelin dia. Ayo dong Dea...kasih tahu PR-nya,” rayu Susi masuk ke dalam rumah Dea.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 27, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Rasa Cinta DeaWhere stories live. Discover now