prolog

13 3 0
                                        


"Kak! Ish, itu baju kenapa berantakan sih? Ini juga bungkus permen dimana mana!"

Bianca menggerutu kesal, kamar yang ada dihadapannya ini sudah tak layak pakai. Seperti kumpulan sampah yang berjibun dan baju bercampuran, sangat menjijikkan.

"Bawel! Lo beresin kamar gue, gue yang bakal masak makanan lo,"

Bilena berjalan menghampiri Bianca, mengambil sekotak sepagheti di pelukan Bianca dan berjalan menuju dapur.

Gadis berambut coklat itu berdecak, kakaknya memang sangat pemalas. Tapi bagaimana pun sikap kembarannya itu, dia akan selalu menyanyanginya.
Tak ada yang rela tinggal dan membiayai semua kebutuhannya jika bukan Bilena ,kembarannya yang hanya terpaut 3 menit di atasnya.

#################

"Bi, nanti lo masuk ?"
Tanya Bianca ,saat mereka mulai melangkahkan kaki menuju kelas.

"Pasti lah Ca, lagian lumayan buat shopping. Lo mau kan ?"
Bilena menatap kembarannya, tak ada hal yang bahagia selain melihat binar mata Bianca.

"Wah, mau banget! Emang dapet berapa ?"

Bianca menaruh tasnya di kursi, tepat di sebelah Bilena. Mereka duduk di meja yang sama, (teman sebangku).

"Biasa tiga juta, lo bisa beli apapun yang lo mau. Asal jangan dugem!"

Bianca tertawa, ia tak akan melakukan hal konyol dengan menghabiskan uang untuk membeli minuman panas di sana.

"Iya kak, eh btw besok 'kan libur tuh gimana kalo kita ke dufan?"

"Boleh, tapi emang cukup? Make up sama baju lo 'kan belum kebeli,"

Bianca terkekeh, kakaknya ini benar benar memikirkan dirinya.

"Baju dari mama masih banyak kak, lagian mayoritas model baju mama kan dress. Gue make baju dari mama aja, masalah make up kan bisa pake yang lama."

Bilena tersenyum canggung, iya sempat lupa tentang mamanya.

"Ok, tapi uangnya tetep kamu yang simpan."

Bianca tersenyum,
Bilena benar benar kaka yang pengertian. Dia tak pernah egois tentang harta, tak pernah memperdulikan dirinya. Yang terpenting dalam hidupnya adalah binar bahagia yang terpancar dari mata coklat Bianca.

*#*#*#*#*#*#*#*

Bilena berjalan menuju roftoop,
Disana ada seorang laki laki dengan gitar di pangkuannya. Petikan demi petikan menyusun sebuah kata indah, dan membuat seyum Bilena mengembang.

"Ehem, lo bisa pergi. Ini bukan tontonan"

Laki laki itu bangkit, menaruh gitarnya dengan menyenderkannya pada antara tembok dan kursi.

"Sory, gue ganggu. Lo jago main gitar, suara lo juga bagus."
Bilena mengacungkan jempolnya.

"Pergi,"
Tatapan dingin dan nada datar membuat Bilena mengerutkan dahi, ia berjalan menuju gitar dan mulai memainkannya.

"Gue bilang pergi! Jangan sentuh barang gue!!"
Laki laki itu merebut paksa, membuat Bilena kesal.

"Iih! Kenapa sih pelit?, gue pinjem sebentar."

Bilena berusaha mencari cara agar laki laki itu memberikan gitarnya.

"Kesepakatan?"

Laki laki itu mengerutkan dahinya.

"Kalo suara gue jelek, lo bisa hukum gue apa pun. Kalo suara gue bagus, lo dengerin sampai selesai ?"

Tanpa menunggu jawaban, Bilena memetik gitar itu. Alunan musik merangkai nada, menghayati setiap petikan jarinya pada gitar.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 24, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

My Perfec Cold BoyWhere stories live. Discover now