Udara malam ini dingin sekali, kelihatannya esok salju akan turun.
Kendaraan berlalu lalang melintasi jalanan kota yang basah karena air hujan, suara kendaraan membuat suasana malam ini menjadi lebih ramai.
Banyak orang yang melintas di depan cafe, mereka berjalan sangat cepat semua berbalutkan sweater dan baju hangat.
Jun Goo membereskan piring-piring kotor yang ada di meja, semua pelayan sibuk sekali membereskan cafe, 10 menit lagi waktunya pulang.
Aku menyapu lantai setelah itu mencuci beberapa gelas kotor.
"Baiklah, sudah selesai" aku melepas celemek yang terkait di pinggangku, karyawan lain memutuskan untuk pulang lebih awal, sekarang tinggal aku bersama Jun Goo.
Aku bekerja paruh waktu di sebuah cafe di Seoul, aku akan bekerja di sore hari sampai malam, siangnya aku kuliah demi masa depan ku.
"Hae Soo,, bagaimana meja di dalam apa sudah di rapikan ?
"Ya tentu saja sudah" jawabku.
Aku bergegas berlari keluar menghampiri Jun Goo, Jun Goo mengunci pintunya, biasanya kunci Cafe selalu di bawa oleh Pak Han, tetapi tadi dia ada urusan dan meminta Jun Goo untuk membawa kuncinya. Dengan cepat aku ambil sepedaku yang ada di parkiran, lalu mendorongnya sambil mengobrol dengan Jun Goo.
Jun Goo adalah sahabatku kita berteman sudah sangat lama, dia adalah anak dari teman ayahku, dia selalu membantuku mengerjakan tugas kampus, tak heran dia sepandai itu karena ayahnya juga seorang petani yang handal.
"Bagaimana kuliahmu ?" Jun Gu membuyarkan lamunanku.
"Ya begitulah semua berjalan baik" jawabku singkat.
"Sepertinya kamu tidak begitu yakin" Jun Goo kembali berkata padaku.
"Aaa,,,ania, gwenchana, semua baik-baik saja" jawabku, aku sangat gugup saat Jun Goo menanyakan tentang kuliahku.
Sebenarnya selama 3 bulan ini aku belum membayar uang spp, meskipun aku kuliah mendapat beasiswa, tetap saja uang spp harus dibayar sendiri. Itulah mengapa aku bekerja paruh waktu. Sebenarnya ayah sudah melarang ku untuk bekerja, ayah khawatir aku tak bisa menyelesaikan semua tugas kuliahku. Tetapi, itu tak jadi masalah aku selalu menyelesaikan semuanya dengan baik.
"Hae Soo, bolehkah aku meminjam sepedamu ? sudah lama aku tidak naik sepeda" pinta Jun Goo.
Sejenak aku terdiam mendengar permintaan Jun Goo.
"Baiklah" ucapku. Aku memberikan sepedanya pada Jun Goo, kemudian dia menaikinya.
"Ayo naiklah" kata Jun Goo.
"Aaa,, tidak usah, aku jalan saja" jawabku gugup.
"We ? ayolah" ucapnya.
Dia menarik tanganku, menyuruhku untuk duduk di belakang, kemudian dia mulai menginjak pedal dan menggoesnya.
Sesekali dia hampir jatuh, aku hanya tertawa saja mendengar teriakan Jun Goo yang ketakutan. Nafasnya sudah tak karuan, sangat berat, dia pasti sangat kelelahan.
"Gwenchana ?"
"Ye, aku baik-baik saja" jawab Jun Goo.
"Bagaimana kalau kita berhenti dulu, aku mau beli minum"
Jun Goo mengiyakan, ia menghentikan laju sepedanya kemudian memarkirkannya dengan benar, dia berjalan menuju kursi di depan toko, duduk sambil sesekali menghela nafas. Aku berjalan memasuki toko untuk membeli minuman.
"Ini minumlah, kamu pasti cape" aku memberikan minuman kepada Jun Goo, dia mengambilnya kemudian meneguknya perlahan.
"Enak kan, itu minuman kesukaanku setelah kopi" ujarku.
"Kenapa kamu menyukainya ?" tanyanya.
"Mmm, aku menyukai soda karena aku suka gelembungnya dan rasanya lidahku seperti kesemutan saat aku meminumnya" Jawabku.
"Bodoh, jangan terlalu banyak minum soda ini tidak baik" kata Jun Goo dia menyudutkan matanya.
Aku mengangguk pelan, entah kenapa jika saat bersama Jun Goo aku menjadi berbeda, rasanya aku selalu mengikuti apa yang Jun Goo katakan, sedikit canggung juga.
"Baiklah, ayo kita pulang"
Jun Goo berdiri di hadapanku ia mengeluarkan tangannya padaku, aku merasa sangat heran. Tanpa berfikir panjang aku langsung meraihnya.
Jun Goo menaiki sepedaku, kali ini dia menggoesnya lebih baik. Jarak rumahku dan cafe tidak terlalu jauh, hanya sekitar 2 km. Sepedaku mendarat tepat di depan pagar rumahku.
"Baiklah, sudah sampai, terimakasih tumpangannya" Jun Goo tersenyum, bibirnya yang tipis membuat lengkungan senyumnya begitu sempurna.
"Nae, sama-sama terimakasih juga sudah memboncengku"
"Kalau begitu aku pergi dulu, Annyong Hae Soo" Jun Goo melambaikan tangannya padaku, dia berjalan menuju rumahnya jarak rumahku dengannya tidak terlalu jauh, kita bertetangga.
Suasana di rumahku sangat sepi, kelihatannya ayah belum pulang, tak lama kemudian suara motor ayah terdengar jelas.
"Ahh, itu pasti motor ayah" aku bisa menebaknya suara sekuter kecil milik ayah sudah kukenal sejak lama.
"Ayah,, kenapa ayah pulang sampai malam begini" tanyaku.
"Iya nak, tadi di pabrik banyak sekali pekerjaan, jadi ayah lembur" jawab ayah sambil memarkirkan motornya.
"Sudahlah, ayo kita masuk"
Aku tinggal bersama ayah, ibuku sudah meninggal sejak aku berusia 7 tahun dikarenakan ibu terkena serangan jantung, nyawa ibu tidak bisa diselamatkan, sejak saat itu aku dan ayah memutuskan untuk pindah ke Seoul, disini kami mengadu nasib mencari pekerjaan. Karena banyak sekali industri yang berdiri di kota ini.
Ayah bekerja di perusahaan gandum milik group Gwanseon, ayah bekerja disana sudah hampir 12 tahun, dulu saat masa-masa sulit menimpa keluarga kami ayahku rela menjual darahnya untuk bisa bertahan hidup.
Begitu besarnya perjuangan ayah, oleh karena itu aku sangat menyayanginya.
YOU ARE READING
The Coffee Of Love
Teen FictionMASIH DALAM PROSES PENGEDITAN ^^ "kamu tahu apa perbedaan kamu dengan kopi ini ?" tanya ku. "mmm,, apa ?" jawab Min Joon "kalau kopi rasanya pahit, kalau kamu ....." "pasti manis" Min Joon berkata sangat keras, sesekali dia tersenyum padaku. "bukan...
