Jemarinya kini sibuk mempertemukan kuas dan kanvas. Menggores setiap warna-warni yang terdampar di pallet. Iya, kini ia sedang melukis. Melukis dengan segenap jiwa yang rapuh. Jiwa yang bahkan tak mampu dikata rapuh. Jauh. Jauh dari kata rapuh, retak. Lebih dari remuk, bahkan hancur. Entah apa namanya. Belum ada kata yang mampu mendefinisikan rasa itu.
Matanya sedang meneteskan buih-buih air yang kemudian berlabuh di kanvas. Iya, lukisannya tekena hujan yang ia ciptakan sendiri, setelah sekian lama halilintar menggelegar dalam dirinya. Dalam pikirannya. Lamunannya. Jiwanya yang hancur. Sehancur-hancurnya.
PLAKK!! Kuasnya melayang begitu saja. Lukisan wanita yang baru setengah jadi itu dibiarkan menantinya melukis lagi. Warna-warni dalam pallet pun tak dihiraukannya lagi. Ia hanya berlari, lalu melepas diri. Menghempaskan tubuhnya pada kasur bunga-bunga pelelap tidurnya. Telungkup. Gerimis matanya semakin menjadi-jadi. Deras. Bibir yang hendak berkata-kata itu tak sanggup mengungkapkannya. Ternganga, namun tak terdengar kata. Meraung-raung. Tapi hanya bisikan.
Tak hanya itu. Jemari yang tadinya dengan lembut menggores kanvas, kini agresif. Menarik, meremas, mengepal apa saja yang di hadapannya. Bantal, selimut, seprai, boneka kelinci bermata satu kesayangannya sekalipun. Tempat tidurnya berantakan. Seprai, selimut, guling, hingga apa yang ada di meja. Semua hilang bentuk dan melambung kesana kemari. Entah seperti apa bentuk hatinya di dalam sana. Yang pasti jauh lebih parah dibanding kondisi kamarnya yang kini layak mendapat julukan KAPAL PECAH itu.
Swastamita. Begitulah nama wanita penyuka senja itu. Wanita yang begitu gemar melukis. Wanita penyelamat berhati mulia. Juga seorang Mahasiswi Fakultas Teknik Arsitektur yang baru pagi tadi wisuda. Yang sedang frustasi dengan konflik hidupnya, melempar kuasnya lalu menangis, menjerit, telungkup dalam kasur bunga-bunganya. Entah berapa lembar tisu yang menggumpal, menjadi penadah air matanya siang itu. Ia tak peduli. Hanya butuh ketenangan. Melepas seluruh emosi, dan memegang kendali.
Seperti ingin teriak, namun air mata jatuh jauh lebih deras sehingga suara tertahan menjelma bisikan. Tapi, pada siapa ia berbisik? Pada angin pilu yang menemani kesedihannya kala itu.
Dua jam lewat tanpa permisi. Dan Tami masih di posisi yang sama. Juga dengan gumpalan tisu yang kian bertambah jumlahnya.
“Aku benciiii!!! AAAAAH..!!!!” Ia berhasil teriak. Tangisnya tak kunjung reda. Ia beranjak, merengkuh kertas tulis dan penanya. Lalu..
Semesta, mengapa Tuhan menciptakan makhluk sepertiku. Yang dengan berat hati bersyukur. Yang selalu meminta lebih. Yang gemar mengharap dan tak peduli akhirat. Yang diselimuti iri dengki pada mereka yang berkecukupan. Sedang mereka yang lebih kekurangan tak pernah letih menggapai impian. Aku lelah menjadi diriku sendiri, semesta. Aku tak lagi ingin bersama alam raya. Aku ingin bersama angkasa. Menikmati setiap rasi bintang yang beredar. Meninggalkan seluruh masalah hidup yang tak henti-hentinya menerobos setiap jiwa yang luang. Aku ingin pergi, semesta. Sekarang juga!
Tes.. buih air matanya masih saja berjatuhan. Seperti ingin memudarkan tulisan yang baru saja dibuatnya. Tulisan berisi aduan pada semesta. Tak apa. Emosinya menurun sekian persen. Tami merasa lebih tenang. Ia bangkit, meninggalkan kertas dan penanya berserakan di meja bersama buku-buku bacaan lainnya.
Iya, Tami gemar membaca buku sejak kecil. Terlebih buku bacaan seperti Pentalogi Bumi, Bulan, Matahari karangan Tere Liye. Atau buku bacaan karangan Boy Candra, Genta Kiswara, dan sebayanya. Tami gemar membaca novel. Mulai dari novel penulis tua bertopik impian dan politik, hingga penulis muda bertopik cinta. Itu semua berkat Mami Fetty yang tak pernah lupa mengajaknya ke toko buku setiap minggu pagi.
“Mami, aku ingin membeli buku berjudul Geez dan Ann karangan Rintik Sedu, yaa, Mam..”
“Nggak kebalik kamu ngomongnya, nak? Rintik Sedu..itu, judul bukunya?”
“Bukan, Mam.. Jadi, dia awalnya penulis wattpad yang diangkat jadi novel. Nama penanya Rintik Sedu, namanya dia Nadhifa Alya Tsana. Terus, judul bukunya Geez dan Ann. Itu buku pertamanya, lho, Mam. Tapi sudah sangat terkenal dan menjadi topik hangat para pembaca novel.”
“hem.. gitu..”
“Tami ada baca sih, Mam. Kutipannya. Jadi, tokoh Geez disitu dia seperti dewa, Mam. Dia tau berbagai hal tentang Ann. Dia juga selalu memberi kejutan kepada Ann dengan cara tak terduga. Hingga Ann selalu menyebutnya “Dewa Kejutan”. Salah satunya, ketika Ann baru saja pindah ke Jogja dan disuruh Neneknya membeli bunga untuk arisan. Lalu di toko bunga itu ada bunga lily dan dia ingin membelinya. Dia ingin membeli bunga lily karena teringat akan analogi bunga lily yang Geez berikan padanya.” Tami menghela nafas.
“Ketika baru saja ingin membelinya, ternyata si pemilik toko bunga langsung mengetahui tentangnya. Bahkan si pemilik toko mengatakan padanya bahwa Geez sudah membayar seluruh bunga lily itu untuknya, Mam. Gak kebayang, kan Mam? Bagaimana bisa Geez melakukan itu. Terus, setelah itu si pemilik toko memberi secarik surat pada Ann, dan ternyata itu surat dari Geez. Keren kan, Mam? Bagaimana bisa Geez tau jika Ann akan membeli bunga di toko itu. Banyak kejutan seperti itu, Mam. Ada juga yang, ketika Ann ingin memesan hotel. Tiba-tiba pemilik hotel mengatakan bahwa Geez sudah membayarkan untuknya selama tiga puluh hari, dan lagi-lagi si pemilik hotel memberikan surat dari Geez untuk Ann. Seru banget ceritanya. Tami harus baca, Mam. Nggak boleh ketinggalan.”
Sepanjang jalan Tami terus bercerita. Semua kalimatnya tadi sungguh tak mengenal tanda baca. Semua tanpa titik koma. Setiap kata baris runtut, urut, namun saling menuntut. Seolah tidak sabar ingin keluar dari bibir Tami, dan ingin segera masuk celah lubang daun telinga Mami Fetty. Lucu, ya.. Mami Fetty pun, tak pernah bermalas-malasan mendengar setiap bait kisah-kisah anaknya.
Hari minggu adalah hari yang dalam sebuah buku cerita hanya ada dua tokoh. Iya, Tami dan Mami Fetty. Kalaupun bertambah, mungkin hanya pemilik toko buku, kasir eramart, atau penjual es krim langganannya, yang hanya menjadi tokoh pendukung. Hari minggu benar-benar hari bersenang-senang untuk keluarga beranggotakan dua orang perempuan itu. Mereka berdua sangat menyukai hari minggu. Tanggal berapapun itu, dan sejak zaman dahulu.
Dan kini, posisi Tami berdiri depan jendela. Tangannya berpegangan pada tralis gelombang jendela kamarnya. Tami menatap langit. Khayalan tentang hari minggu bersama Maminya tadi sedang terapung-apung bebas di udara. Imajinasinya terbawa setiap angin yang berdesir memanggilkan senja untuknya. Senja yang akan segera tiba tuk menyapa dan memberi belas kasih padanya. Yang kan membantunya meredakan pilu sebab masa lalu. Tragedi 23 tahun lalu yang baru ia ketahui hari ini, siamg tadi. Tragedi yang menyedihkan, menyakitkan. Membuatnya mengamuk sampai sekarang.
Kini tangannya bergerak menghapus buih air mata yang kan segera berlabuh di bibir yang membentuk setengah lingkaran itu. Iya, Tami adalah wanita pengagum senja. Selalu menyisakan sepercik waktunya hanya untuk menyaksikan senja. Baginya, senja itu penenang. Senja itu puncak dari segala keindahan yang semesta miliki. Senja itu langit jingga yang membahagiakan. Senja itu hebat, mampu mempertemukan siang dan malam walau sesaat. Senja itu penangkal rindu. Dan masih banyak lagi definisi senja dalam kamus hidupnya.
Malam telah tiba. Semilir angin berhembus menerobos kamar Tami lewat celah tralis. Entah apa sebab Tami tak menutup jendelanya malam itu. Waktu masih menunjukkan pukul 20.00 p.m, tapi Tami sudah terlelap dengan mata sembabnya. Keadaan kamarnya belum berubah. Masih tetap layak dijuluki kapal pecah. Tak ada orang yang berani mengetuk pintu kamarnya sepanjang waktu di hari itu. Bahkan, seorang Mami Fetty sekalipun. Hari itu benar-benar hari yang menyedihkan, hari yang memilukan. Mengecewakan.
***
Di ruang tamu, seorang Mami Fetty gelisah. Sepiring nasi goreng dan segelas air mineral yang disediakan Mbak Utik; pembantu rumah tangga, belum disentuhnya sama sekali. Pikirannya penuh. Wajahnya benar-benar mencerminkan kegelisahan seorang ibu. Bagaimana tidak? Hal yang sekian lama diwanti-wanti, kini terjadi. Seperti kejutan. Kejutan perayaan hari kesedihan, mungkin. Yang pasti, kejutan ini menghadiahkan kemarahan besar putri semata-wayangnya.
Sejak tadi ia hanya berdiri, berpangku tangan. Melangkah, lalu berbalik. Sesekali memandangi pintu kamar buah hatinya, Tami, yang tertutup rapat sejak tragedi siang tadi. Kemudian beralih memandangi gambar dirinya bersama Tami ketika di puncak gunung Dempo, bertahun-tahun tahun lalu.
Di foto itu, ia berdiri memeluk Tami yang duduk di ayunan. Mereka tertawa melepas penat bersama, seakan menjadi orang paling bahagia seluruh alam semesta. Di belakangnya terpampang panorama alam sekitar gunung Dempo yang mengagumkan. Langit biru yang cerah diselimuti gumpalan awan putih. Udara sejuk menuip bunga-bunga yang bermekaran, seakan mengusir kupu-kupu nan hinggap di atasnya. Dua merpati yang melintas pun sibuk berkejar-kejaran. Di bawahnya, luas hamparan ladang petani tersusun rapi. Membentuk setiap lekuknya sendiri.
Di sana, di hadapan ribuan tanaman teh, petani yang menggendong bakul saling bertegur sapa. Menikmati setiap petikan dengan secuil obrolan. Imajinasikan saja bagaimana keindahannya. Seberapa hangatnya seisi alam raya bertegur sapa. Tiupan udara dengan bunga-bungaan. Langit biru dengan gumpalan awan, bahkan petani dengan ladangnya sekalipun. Damai, tentram, membahagiakan. Sama halnya dengan jiwa dan perasaan Mami Fetty waktu itu. Saat dimana definisi bahagia tergambar penuh di sana. Di foto yang berusia lebih dari 5 tahun itu. Dan kini, sambil berdiri ditengah kegelisahan, Mami Fetty merindu. Merindukan hal yang bertolak belakang dengan kejadian hari ini. Hari yang paling Tami benci.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Swastamita
Non-FictionSwastamita. Siapakah ia? Pahlawan? Malaikat? Bahkan puteri kerajaan? Tidak. Bukan itu semua. Ia hanyalah seorang tunas negeri yang dibesarkan dengan kasih sayang lembut dan perhatian. Ia adalah semburat senja dari langit kesekian yang semesta t...
