Prolog

19 2 0
                                        

Takdir itu tidak adil. Mempertemukan dua anak manusia yang begitu dini namun memiliki jalan pikiran yang diluar nalar. Waktu itu tidak sopan. Datang tiba-tiba dengan memberi kesempatan bagi dua anak manusia membuka hati yang selama ini terpendam. Memang begitu seharusnya roda berputar.

Memang terpaut jarak, tapi tidak sejauh kelihatannya. Lebih baik disimak kalimat setelah ini. Dikenalkan oleh temannya teman, dan teman mengenalkan padanya. Rumit, kan? Kiranya seperti itulah takdir dan waktu, merumitkan kehidupan tentram dua pintu yang terkunci rapat.

Jika bukan karena sosok teman, entah apa jadinya kisah ini bermula. Sudah jadi makanan sehari-hari kaum milenial menghadapi lika-liku labirin yang selalu dimodifikasi. Lembaran ini dimulai dari dunia maya. Mungkin sudah basi. Tapi tidak ada salahnya menuliskan cerita sepenjang alur yang akan berakhir.

Apa yang terjadi bila dia tidak pernah memainkan gim itu? Akankah hatinya terasa hampa bila kala itu tidak mengiyakan permintaan Disla? Bagaimana jika senja tempo hari dia tidak berjumpa dengan Disla? Apa yang harus dia lakukan jika Disla tidak menawarkan bantuan? Mungkinkah pintu hatinya tidak terbuka bila malam itu tidak mendengar isak tangis Disla? Mengapa semuanya tentang Disla?

Apa yang terjadi jika pagi itu ia datang terlambat? Akankah ia menyesal seumur hidup bila menolak untuk mengenal sosok Mifis? Bagaimana bila akhirnya ia pulang lebih awal dan batal berjumpa dengan Mifis? Apa yang harus ia lakukan bila tidak menawarkan bantuan pada Mifis? Mungkinkah hatinya tetap terkunci rapat jika tidak menangis dihadapan Mifis malam itu? Mengapa semuanya tentang Mifis?

Disla MifisWhere stories live. Discover now