Brummm... Brummm... Brummm
Raungan dari sebuah mesin motor berkapasitas 500 cc bergaya bobber kesayangan ku, motor yg hampir ku kendarain setiap hari untuk menghatam jalanan kota.
Rahmat febriansyah itulah namaku, seorang laki-laki yang dilahirkan di sebuah desa kecil di kab.Simalungun, Sumatra Utara, saat ini aku tinggal di ibukota, bukan ibukota negara ini melainkan ibukota provinsi dimana aku dilahirkan.
Tak ada yang menarik dihari ini, tak seperti kejadian pada seminggu yang lalu, kejadian yang membuat ku mengingat kembali apa yang perna terjadi padaku sekitar 7 atau 8 tahun yang lalu.
~seminggu yang lalu
01:47 itu lah angka yang tertulis pada jam digital di speedometer mobil ku, dan 01:45 itulah angka yg tertulis pada jam tangan digital yang telah menemani kegiatan ku pada 3 bulan belakangan ini.
Kuhentikan laju mobil ku di belakang daris putih disebuah perempatan, sengaja ku hentikan laju mobil ku karena ku lihat lampu lalu lintas yang berada di tiang itu telah berubah menjadi warna merah. Sebenarnya aku bukalah orang yang selalu taat aturan berlalu lintas apa lagi disaat malam hari. Aku gak tau apa yang membuat ku begini, mungkin karena kondisi jalannan yang sepi pada malam hari.
Suasana di malam eh salah pagi ini terlihat sedikit berbeda, entah apa yang membuat ku merasa kalau malam ini sedikit berbeda. Entah apa yg membuat ku merasa kalau pagi ini terasa berbeda.
Dari kejauhan terdengan suara knalpot racing abal-abal. Tak lama terlihat pula segrombolan motor bebek dari arah kiri yang diterangi oleh cahaya lampu jalan yang sedikit redup. Kulihat terus segrombolan motor bebek tersebut yang ku yakini bahwa suara dari kenalpot racing abal-abal yang kudengar berasal dari motor-motor itu.
Seketika aku sadar dan melihat ke arah lampu lalu lintas yang memberiku kode untuk berhentik kini telah berubah menjadi kode untuk jalan, dan aku pun melanjutkan perjalananku, aku berbelok ke kanan. Mobil ku pacu dengan kecepatan sedang lebih kurang sekitar 40 - 50 km/j.
Sudah cukup jauh jarak ku dari persimpangan tempat ku melihat segrombolan motor tadi. Tiba-tiba dari belakang terdengar kembali suara kenalpot racing abal-abal lagi, dan kali ini mereka menyalip mobil ku dari kanan dan kiri. Hal itu membuat ku sedikit emosi karena itu sangat berbahaya.
"Bodat", hanya itu lah kata yang ku ucapkan ke arah luar mobil ku, entah mereka mendengar nya atau tidak setidaknya itu berhasil membuat ku meluap kan sedikit emosi ku.
Sudah sekitar 10 meter jarak mereka dari mobil ku, tiba-tiba dari sebelah kanan aku kembali di salip oleh sebuah motor yang telah sedikit di modif ala-ala thailook yang ditunggangin oleh dua pemuda yang sedang tertawa terbahak-bahak, hal ini lah yang membuat ku mengingat sedikit masa lalu ku.
01:50 itu lah angka yang tertulis kembali di speedometer mobil ku. Tiba-tiba muncul niat ku untuk mengikuti kemana mereka pergi. Ku imbangi kecepatam motor mereka dengan mobil ku yang kira-kira hanya sekitar 60 km/h. Tak lama aku mengikuti motor itu dan akhinya mereka pun berhenti di sebuah jalan yang cukup terkenal dengan kegiatan yang terjadi pada malam hari, yaitu balap liar. Hal itu membuat ku semakin mengingat kan ku terhadap masa lalu ku.
Laju mobil ku perlambat dan ku lewati motor-motor yang telah terpakir rapi di Pinggir jalan sepanjang 100 m lebih. Muncul kembali niat ku untuk menonton balapan liar yang telah sangat lama tidak ku tonton. Kuparkirkan mobil ku di pinggir jalan. Mungkin sekitar 100 m jarak dari mobilku ke motor terakhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
STANG BECAK
Teen FictionBukan dari seberapa cepat kau melaju, melainkan seberapa stabil kau melaju. - Stang Becak Tak ada jalan tanpa sebuah hambatan, jika sebuah jalan tidak memiliki hambatan maka kendaraan yang melalui jalan itu akan kesulitan untuk dikendalikan. - Di...
