"Davin, come on!" Wanita cantik itu nampak mendesah frustasi. Ia menatap lelah putra semata wayangnya. Di tangannya terdapat satu stel pakaian yang seharusnya sudah melekat di tubuh mungil Davin.
Bocah 2 tahun itu menggeleng lucu. Bukannya mendekat ia malah berlari menjauh. Memasang ekspresi mengejek ibunya. Emily menghela nafas panjang.
"Baiklah, kau tidak akan mendapat ice cream. Ingat itu, boy" Ucap Emily lalu memilih menjatuhkan tubuhnya di sofa. Davin mengerjapkan matanya lucu. Ia perlahan mendekat kearah ibunya.
"Au eskim mi.." rengek bocah 2 tahun itu. Emily memasang wajah acuh, menggoda putranya. Davin menarik-narik ujung pakaian Emily, agar ibunya itu mau menatapnya.
"Oh boy! Kau belum mengenakan baju?"suara serak yang terdengar sedikit berat itu memasuki indra pendengaran sepasang ibu dan anak.
Davin menolehkan kepalanya. Binar bahagia hadir di wajahnya. Ia merentangkan tangannya, meminta gendong pada pria itu. "Papapa" celotehnya lucu seraya mengusap dagu pria itu.
Pria dengan rahang kokohnya itu tersenyum manis menatap bocah kecil dalam gendongannya. Sesekali ia kecup gemas sepasang pipi gembil Davin.
"Mike, kau sudah datang"Kata Emily seraya bangkit berdiri. Ia berjalan mendekati Mike yang masih menggendong putranya.
"Aku tak ingin melewatkan hari terakhir bersama kalian" Senyum simpul terbit dari bibir pria itu. Emily mendesah tertahan. Ia mengusap pundak Mike lembut.
Mike menatap Emily teduh. Ia tersenyum manis. Sorot matanya menghangatkan jiwa wanita itu. Lalu kemudian, Mike membawa Davin ke sofa -tempat duduk Emily- lantas meraih pakaian Davin.
Ajaibnya, bocah kecil itu menurut kala Mike memakaiakannya baju. Berbeda halnya dengan Emily tadi.
"Papapa.. Pin au eskim"
"Apa boy? Ice cream? Okey, kau akan mendapatkannya"
***
Matahari terlihat bersinar begitu terik. Namun itu tak menyurutkan semangat tiga anak manusia itu. Davin, bocah 2 tahun itu nampak sangat bahagia di gendongan Mike. Sementara Emily mengikuti dengan senyumannya.
Emily selalu bersyukur karna Mike hadir di kehidupannya. Menjadi secercah terang dalam gelapnya hidup yang sempat ia alami. Menjadi satu-satunya orang yang selalu ada disisinya, tak peduli apapun. Mike, begitu sempurna untuk Emily. Namun Emily merasa tak cukup untuk seorang Mike.
Pria 25 tahun yang telah sukses dengan karirnya, menjadi salah satu arsitek muda yang terkenal di California. "Hey, kau baik-baik saja?" Emily tersentak dari lamunannya. Ia mengulas senyum manis.
"Mimimi tusu" rengek Davin seraya menyodorkan kedua tangannya. Sesekali ia mengucek mata sipitnya.
"Kau mengantuk sayang?" Emily mengambil alih Davin dari gendongan Mike, yang kemudian Mike membawanya menuju sebuah tempat duduk lengkap dengan kanopinya. Emily duduk lalu membuka kancing bajunya, memberikan apa yang diminta putranya.
Mike tersenyum melihatnya. Hatinya terasa sejuk entah karna apa. Emily yang merasa di perhatikanpun menolehkan kepalanya.
"Mike, kenapa?" tanya Emily lembut. Mike menggeleng kan kepalanya dengan senyuman. "Aku hanya suka melihatmu memberi Davin ASI. Terasa begitu menenangkan"
Emily terkekeh mendengar jawaban polos Mike. Tangannya tergerak mengusap pipi Mike sejenak sebelum kemudian beralih mengusap puncak kepala Davin yang mulai terlelap itu.
"Em.. Apa kau yakin akan kembali ke Indonesia?" pertanyaan Mike membuat gerakan Emily terhenti. Ia menatap sendu kearah putranya.
"Ya, ini sudah terlalu lama Mike. Aku ingin putraku mendapat pengakuan dari keluargaku. Ini sudah 2 tahun lebih aku pergi dan menyembunyikan semua ini"
"Apa mereka akan menerima Davin dengan baik?" Emily mengangguk ragu.
"Aku berharap begitu, Mike"
"Maafkan aku tak bisa menemanimu ke Indonesia. Aku harus berangkat ke Las Vegas untuk memantau proyek terbaruku" Emily mengangguk mengerti.
"Uruslah pekerjaanmu, Mike. Dan, jangan terlalu larut bekerja. Kau juga harus memikirkan masa depanmu. Kau setidaknya harus mulai berkencan" Mike tertawa keras mendengar penuturan Emily.
"Aku akan berkencan, Em"
***
Di bagian lain dari dunia, tepatnya di negri gingseng Korea Selatan terlihat sekelompok pria tengah berkumpul di sebuah ruangan dengan salah satu sisi tembok terbuat dari kaca.
Sekiranya lima pria itu, terlihat mengulang beberapa kali gerakan koreonya. Peluh menetes pada paras tampan kelima pria itu. Namun, itu tak mampu menyurutkan semangat mereka.
"Break" salah seorang pria dengan kaos putih polos dan celana trainingnya itu berteriak lantang. Kala dirasanya latihan telah cukup. Dengan begitu, empat orang lainnya mulai meraih air mineral masing-masing. Melepas dahaga mereka.
"Aku ada informasi. Jadi, hari ini adalah hari terakhir kita latihan untuk musim ini. Kita diberikan waktu bebas sekitar dua minggu. Manfaatkan waktu itu sebaik mungkin, karna setelahnya kita harus mempersiapkan album baru"
Raut bahagia tercetak jelas di wajah lima pria itu. Mereka mulai memikirkan rencana menyenangkan untuk mengisi waktu liburnya. Meski hanya dua minggu, namun itu merupakan waktu yang cukup untuk mereka melepas penat atas segala kesibukan yang begitu membelenggu.
"Baiklah, kurasa cukup untuk hari ini"
***
- To be continue..
Wahh 700 kata gaess 😂😂😂
I hope you like this story guys.
Maafkan jika masih terdapat banyak kesalahan.
Luv,
Calon masa depannya Jackson Wang
Aleta 💕
YOU ARE READING
My Son
Romance"Davin itu putraku. Tidak peduli apapun, dia putraku. Darah dagingku. Dia janin yang aku rawat selama 9 bulan lamanya. Yang kemudian aku pertaruhkan nyawa agar dia dapat melihat indahnya dunia. Dia anakku!" Emily Vamesti Prada . . . "Bagaimana mu...
