"Ayah, jangan tinggalkan aku sendiri. Ibu, aku ini putrimu, mengapa kalian pergi begitu saja??"
Seorang gadis terisak-isak memeluk lututnya, di belakang kerumunan orang yang berwajahkan kesedihan. Sesorang pernah mengatakan, mengapa saat menangis dan tak mampu kau tahan lagi, kamu memeluk lutut? Karena kamu akan merasa damai dekat dengan ibumu, seperti 17 tahun lalu di kandungan ibu.
Baru kemarin malam, Airi merayakan ulang tahunnya yang ke 17. Tak ada kata sweet seventeen baginya sekarang. Setelah beberapa jam yang lalu, sebuah truk muatan barang menabrak mobil hitam milik ayah ibunya.
"Bukankah ini saatnya, Nona?" Kata Hogh pada Airi yang masih shock atas apa yang sedang menimpa batinnya.
"Iya, terimakasih Pak Hogh", jawabnya sembari menuju mobil limousine yang terparkir disamping makam.
Rumah besar bertembok batu sebagian ini, telah sepi ditinggalkan segelintir orang yang melayat pemakaman ayah ibu Airi. Sekarang hanya ada dua, Airi tinggal bersama seorang pengawal bernama Hogh. Pria paruh baya yang berkumis tebal meskipun hitamnya pudar.
DUARR!!
...
Clap...Clap...
Kilat dan suara gemuruh petir, menambah keabuan suasana rumah itu. Terpencil di ujung kota, dengan jalan tanah berumputkan ilalang. Ke abstrakan suasana yang membuat bulu kuduk berdiri, sedangkan dia hanya berdua di bangunan seluas 2 hektar itu.
"Ayahh.." rintihan dari bibir Airi keluar saat iya tertidur. Suara petir yang tak kunjung berhenti menyamarkan rintihan Airi, membuatnya tergugah malam itu. Waktu menunjukan pukul 23.56. Sangat sepi, tanpa suara apapun. Hanya dengungan di telinga Airi bersama hujan deras dan lantunan suara kabut malam hari.
Dibalik kain putih penutup jendela kamarnya, terlihat sebuah bangunan yang kehadirannya baru saja dia ingat. Dengan mata sipit nan lebam karena air mata, ia terus memandangi tempat itu. Meskipun tak begitu jelas di pandangannya.
"Apapun yang terjadi, jangan pernah dekati ruangan itu!!"
Begitulah kata ayah Airi beberapa tahun lalu, saat Airi sempat tanpa sengaja bermain di pelataran gudang tua itu.
Perkataan ayahnya, membuat Airi semakin menimbun rasa penasaran pada tempat berpintu tinggi itu. Jendela yang selalu tertutup. Yang kadang terdengar desiran suara aneh dari dalamnya.
Ciit.. ciit..
Suara dencitan berasal dari sepatu airi yang menginjak lantai kayu. Gelap dan hanya bercahayakan senter. Dengan hati-hati dan waspada, Airi mulai melangkahkan kaki di dalam gudang putih tua itu. Sangat hening. Entah apa yang ia pikirkan, hingga ia begitu nekat memasuki ruangan yang tak terlihat menyenangkan.
Searah jarum jam pukul 1, Airi melihat sebuah pintu kayu yang berukir rapi. Disampingnya terdapat sebuah lampu minyak yang berdebu seakan lama tak digunakan, padahal hampir setiap hari ayah selalu datang ke tempat ini. "Ada apa dengan tempat ini?"
Tangannya yang putih mulai tertarik untuk membuka rahasia dibalik pintu itu. Sedikit lagi, tahanlah gemetarmu itu. Jantungnya berdebar karena sesuatu. Apa itu? Belum sempat ia menyentuh gagang pintu, tiba-tiba…
"Nona??!"
"Pak Hogh…" ia terkejut ketika membalikkan badan dan Pak Hogh sudah berdiri di hadapannya. Airi menyembunyikan tangannya kedalam saku bajunya. Tentu saja dengan ekspresi yang mulai panik, atau mungkin sudah terjadi.
YOU ARE READING
OUR HOUR (Waktu Kita)
Teen FictionAiri adalah seorang gadis berusia 17 tahun yang kini hidup seorang diri sepeninggal orang tuanya. Suatu hari, di balik gunungan buku di gudang, ia menemukan sebuah bingkai kosong yang telah berdebu. Cerita ini akan berlanjut dengan petualangan Airi...
