CA 1: Casandra Yaksa

777 30 5
                                        

"Caca!" wanita berumur 20 tahun itu menoleh saat namanya terpanggil. Caca mendengus, kala melihat sahabatnya lah yang kini tengah berlari di koridor. Padahal koridor sedang dipenuhi Mahasiswa-mahasiswi di Fakultas Management.

"Caca, Gue panggil dari tadi juga." Caca diam tidak menanggapi omelan sahabatnya itu, sudah biasa dan rasanya Caca sudah kebal dengan segala omelannya.

"Ih Caca, Lo kok tega sih sama Gue?" Caca tersenyum, lalu menatap sahabatnya itu dengan wajah yang berubah menjadi jutek.

"Kenapa sih Flo?" wanita bernama Flo itu tersenyum, menumpukan tangannya di atas bahu Caca. Gadis bernama Flo itu adalah gadis paling ceria yang pernah Caca kenal seumur hidupnya, dan Caca bersyukur bahwa gadis itu adalah sahabatnya sejak kecil, yang tidak akan meninggalkannya walau Caca dalam keadaan apapun. Bahkan saat Caca berada dalam titik terendah dalam hidupnya sekalipun, keceriaan Flo mampu membangkitkan semangat dalam hidup Caca agar tetap berlanjut.

"Lo jadi enggak? Ke toko bunga Gue?" Caca mengangguk mengiyakan, hari ini Dia sudah janji pada sahabatnya itu. Dan Omelan Flo akan berlanjut jika Ia membatalkannya sepihak.

"Pas sekali, kemarin Nyokap baru saja mendatangkan bunga anggrek yang Lo cari." mata Caca berbinar mendengar kata anggrek, bunga yang menjadi favoritnya sejak Ia kecil dan menjadi bunga favorit juga untuk seseorang.

"Yang benar?" Flo berdecak. Seolah pertanyaan Caca saat ini menyudutkan Flo, bahwa wanita itu sedang berbohong.
"Lo enggak percaya sama Gue?" ketusnya pada Caca.

Caca tersenyum.
"Lo memang suka bangetkan bohongi Gue, biar Gue datang ke toko buat temani Lo?" Flo tertawa geli, sejujurnya memang benar apa yang diucapkan Caca padanya kali ini.

"Iya sih, tapi kali ini beneran Ca! Suer Gue enggak bohong." Caca mengangguk percaya, apalagi melihat Flo sampai mengacungkan kedua jarinya dengan ucapan sumpahnya itu.

"Oke, entar Kita ke toko bunga." Ucap Caca menenangkan Flo, Flo merangkul bahu Caca. Karena Caca tidak mungkin menolak dirinya, walau Flo membohongi wanita berambut panjang sepinggul itu.
"Sip, oh ya dimana curut satu?" Caca tertawa mendengar panggilan sahabat prianya itu, terkadang Caca tidak mengerti kenapa pria dengan nama Mario itu mau berpacaran dengan Flo, sedangkan Flo memanggil pria itu bahkan seenak jidatnya.

"Mario masih ada kelas tambahan." Flo cemberut mendengar jawaban Caca.
"Kenapa muka Lo?" Tanya Caca tidak mengerti dengan segala jenis perubahan ekspresi Flo yang bisa begitu saja tiba-tiba.
"Masa Dia lolos lagi hari ini." Caca mengerutkan dahinya, semakin tidak paham dengan ucapan dan hubungan yang dijalani keduanya.

"Lolos?" Flo mengangguk tegas dengan wajah sudah sangat gemas, seolah dia berbicara. ‘Awas nanti kalau ketemu Gue!’.

"Dia sudah janji sama Gue kalau mau traktir Kita nanti sore" Caca hanya mampu terkekeh, perkara makan juga Flo tidak ada toleransi. Dan anehnya, Flo juga tidak pernah gemuk, walau makan begitu banyak. Serta Mario yang tidak pernah mempermasalahkan, bagaimanapun kelakuan Flo yang lahap terhadap makanan.

Mereka berdua berjalan ke arah parkiran sepeda, yah sepeda adalah teman mereka saat ke Kampus. Jarak yang tidak terlalu jauh membuat mereka memutuskan untuk ke Kampus bersepeda. Caca meletakkan map berisi keperluannya ke dalam keranjang depan sepedanya, lalu buku-buku penunjang kelas umumnya hari ini.

"Gue yakin, Dia bakal happy banget hari ini." Caca menggelengkan kepalanya, sepertinya sepanjang perjalanan ini Caca harus mendengarkan omelan Flo yang tidak akan berhenti, sebelum wanita berambut ikal gantung itu menghajar Mario.

"Lo kasih tahu Dia, biar Dia datang ke toko saja." saran Caca, dengan cepat Flo mengotak-atik ponselnya sebelum kembali memasukkannya ke dalam tasnya. Keduanya juga belum mengayuh sepeda sampai Flo mengirim pesan pada Mario, karena tidak mungkin juga bermain ponsel ketika mereka sedang mengayuh sepeda.

Sincerity Of LoveStories to obsess over. Discover now