Bab 1

141 16 25
                                        


Kim Yoo Ra

Sebenarnya tadi aku berencana membeli beberapa bungkus snack di minimarket, aku membutuhkannya selama menonton berlusin-lusin DVD drama Korea menjelang akhir pekan. Namun ketika hendak membayar belanjaan, aku baru ingat telah menggunakan kartu debit sebagai pembatas novel dan aku tidak punya uang sepeser pun. Lalu ketika kembali ke apartemen demi mengambil kartu debit itu, sekarang aku malah kehilangan kunci apartemenku.

Astaga. Aku sial sekali.

Aku terduduk lemah di lantai yang dingin dan bersandar pada pintu. Aku harus bagaimana sekarang? Tanpa sadar aku membenturkan bagian belakang kepalaku pada pintu, meski sedetik kemudian aku tersentak karena merasakan bagian itu berdenyut-denyut menyakitkan. Aku memegangi bagian belakang kepalaku sambil berusaha menahan tangis.

"Kau kenapa?"

Aku mengangkat kepalaku mendengar suara itu. Aku mengerjapkan mata karena silau begitu cahaya lampu menyorot tepat di atas kepala orang yang bertanya padaku barusan.

"Kau tidak apa-apa?"

"Eh?" Aku menatap anak perempuan itu bingung. Siapa dia? Rasanya aku baru pertama ini melihat wajahnya. Ah, mungkin dia salah satu penghuni baru di kamar apartemen samping, seperti yang sudah diceritakan Paman Ichiro tadi sore.

"Kau tidak apa-apa?" ulang anak itu, kali ini sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. "Hei, kau kan Oneesan yang tadi terlihat panik saat akan membayar belanjaan?"

"Ah, ya, mungkin kau benar." Kataku sedikit malu, seraya menyamarkan gerakan mengusap-usap kepalaku yang sakit akibat kubenturkan tadi dengan pura-pura merapihkan rambut. Anak perempuan itu berjongkok persis di hadapanku, aku lantas menyadari bahwa kedua mata anak perempuan itu sangat besar dan indah. Tidak seperti mata orang Jepang pada umumnya, walau sepertinya ia bisa berbahasa Jepang dengan lancar.

"Aku tidak apa-apa." Jawabku. "Hanya saja sepertinya aku akan mati beku di sini karena kunci apartemenku hilang." Anak perempuan itu terkesiap saat mendengar kalimatku barusan, terutama karena kata mati. Aku tersadar dan buru-buru menatap anak itu sambil memaksakan senyum. "Hei, aku hanya bercanda!" Kataku menenangkan.

Tapi tentang kehilangan kunci apartemen sih, aku sama sekali tidak bercanda. Tambahku dalam hati. Dan mati beku di koridor ini juga sepertinya bukan bercanda, mengingat malam ini aku tidak bisa tidur di tempat yang layak dan hangat.

Demi Tuhan, aku berjanji untuk selalu membawa ponselku kemana pun setelah ini. Paling tidak, jika saat ini aku memegang ponsel, mungkin benda itu bisa mendatangkan bala bantuan. Yah, mungkin saja. Di saat-saat seperti ini, aku sangat merindukan keluargaku. Terutama pada Sora dan Nara.

"Kunci apartemenmu hilang?" tanya anak perempuan di depanku. Aku mengangguk sedih. Anak perempuan itu lalu mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebar. "Kenalkan, namaku Kyoko."

Sebelum menerima uluran tangan itu, aku menghela napas. Mungkin akan lebih menyenangkan berkenalan dengan anak perempuan bermata besar ini dalam keadaan normal. Maksudku, tidak dalam keadaan terancam mati beku seperti ini. Sekarang berkenalan dengan tetangga baru adalah keinginanku yang paling akhir. Tapi lantas aku mengulurkan tangan juga, menjabat tangan Kyoko sambil berkata, "Aku Yora. Senang berkenalan denganmu."

"Nah, ayo kita ke apartemenku. Kau bisa tidur di sana kalau kau mau." Kata Kyoko dengan senyuman lebarnya yang tidak juga hilang.

"Eh?" Aku menatap Kyoko bingung. Apa anak ini benar-benar akan memberiku tempat menginap untuk malam ini? Aku menimbang-nimbang dalam hati. Tapi di atas segalanya, apakah aku masih punya pilihan lain?

THREE WINTERSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang