• SEQUEL MONOKROM •
-cover by chaarfianti-
Karena kamu, aku rindu.
Karena aku, kamu jauh.
Karena dia, aku dan kamu kecewa.
Kisah ini seperti sediakala, sama saja. Ujung-ujungnya, hanya kepergian yang mau tidak mau harus aku terima. Kamu selalu berko...
Sangatbodoh ketika aku mengharapkan kamu kembali yang bahkan nggak akan pernah bisa kembali. Kamu udah pergi terlalu jauh sampai kamu lupa arah untuk pulang. Dan yang buat aku paling kecewa adalah kamu yang terlanjur nyaman di sana.
🍃🍃🍃
SANDI berdiri di antara rak-rak buku yang membuatnya tidak nyaman, menghirup baunya saja membuat kepala cowok jangkung itu pusing.
Sekarang, dia sudah di depan rak buku Fisika—pelajaran dengan ribuan rumusnya yang membuat saraf di kepala terasa ingin pecah jika memaksa untuk memahaminya.
Benar-benar bukan Sandi yang sebenarnya; pergi ke toko buku. Tidak ada sebab lain, cowok itu hanya terpaksa mengingat dia sudah menginjak level tertinggi di sekolah, yaitu kelas dua belas.
Lebih lagi, dia yang memilih Fisika sebagai salah satu mata pelajaran yang akan diujiankan secara nasional April mendatang.
Dia sendiri bingung mengapa memilih mata pelajaran itu, padahal disuguhkan pilihan lain; Kimia dan Biologi. Tapi kata teman-temannya, cowok selalu unggul dalam bidang hitungan. Bodohnya, Sandi percaya saja. Dasar Sandi!
"Mba, Mba, buku Fisika yang paling lengkap buat persiapan ujian nasional yang mana, ya?" Sandi memutuskan untuk bertanya pada seorang cewek sebayanya yang sedang berdiri sambil membaca buku di tangannya.
Saat orang yang dipanggil cowok itu menoleh, Sandi menyeringai geli melihat wajah cewek yang tidak diketahui namanya itu menatap Sandi dengan penuh amarah.
"Apa lo bilang? Mba? Nama gue Saras! Ulangi coba!"
Sandi menaikkan tangan ke udara. "Nggak jadi deh, Mba. Permisi." Buru-buru cowok itu menjauh sebelum cewek tadi melahapnya hidup-hidup.
Sementara cewek bernama Saras itu semakin marah karena Sandi terlihat dari wajahnya yang memerah.
Sandi kebingungan. Diperiksanya satu per satu buku di rak Fisika di depannya. Ada satu buku yang cukup tebal berhasil menarik perhatiannya.
Biasanya kan buku anak pintar itu bukunya tebal-tebal. Pasti yang ini, nih! Sandi meraih buku itu hingga membuat celah di sana memperlihatkan sisi lain di seberang.
Keningnya berkerut mendapati cewek yang tadi marah-marah kepadanya sedang menceritakan kekesalannya pada seseorang. Yang sedang diperhatikan Sandi saat ini bukan cewek yang tadi, melainkan cewek lain yang sedang memunggunginya.
Sandi menyengir lebar saat cewek itu meliriknya dengan kesal. Kemudian, dia menyapa bermaksud meledek, "Halo, Mba Saras."
Saras berdesis. "Ayo, Dar, kita pergi. Kesel gue di sini. Masa gue dipanggil Mba!"
Saras menarik temannya yang baru saja hendak menoleh ke belakang jadi tertunda. Sandi memperhatikan cewek itu, dia semakin penasaran saat mendengar Saras memanggil temannya itu dengan sebutan 'Dar' membuat Sandi teringat pada seseorang.
"Dar? Hmm ... Dara?" gumamnya bertanya.
Detik berikutnya, cowok itu menggeleng cepat. Nggak mungkinlah. Ngaco gue! Sandi melanjutkan pencariannya untuk segera menemukan buku Fisika yang menjadi tujuannya masuk ke ruang keramat itu.
Sekali lagi, siapa yang tahu ke mana dan bagaimana takdir akan mempertemukan apa yang seharusnya dipertemukan?
🍃🍃🍃
•
•
•
Publish aja dah, kelamaan. Ini sequel-nya Monokrom, ya! Selamat membaca!
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.