Langit menangis
Tetesan air matanya perlahan membasahi bumi di bawahnya, membasahi makhluk-makhluk yang kehausan, membasahi tanah-tanah yang kering tak terawat, termasuk membasahi seorang anak manusia yang tengah menengadahkan mukanya ke arah langit
Berdiri di tengah lapang yang sudah sepenuhnya basah oleh air mata Sang Langit, termasuk membasahi seluruh tubuhnya yang terbalut warna putih dan abu. Ia menutup matanya seakan menikmati tetes demi tetes air mata yang berjatuhan di sekujur tubuhnya. Bibirnya tersenyum, nampak ada gurat merah di sudut bibirnya itu. Rambutnya yang cokelat kini semakin gelap tersapu air mata Sang Langit
Tangan kanannya masih setia memegang sebuah bola basket berwarna oranye, sedangkan tangan kirinya bersandar tenang di dadanya yang terlihat bidang. Sekali lagi ia tersenyum ....
"Ren ..."
Suara lembut itu menyadarkan anak manusia tersebut. Ia perlahan membuka mata, melihat langit yang sangat kelabu di hadapannya
"Ren ..."
Suara itu kembali menggema, suara lembut itu seketika membungkam riuhnya suara air mata Sang Langit namun tak sedikitpun membuat anak manusia itu bergerak
Tak lama terdengar suara langkah mendekat, sebuah langkah yang bercampur dengan gemericik suara air yang sukses membuat anak manusia itu tertarik memalingkan wajahnya dari Sang Langit
"Kau ..."
Akhirnya sebuah suara keluar dari bibir anak manusia tersebut disambut dengan senyum manis anak manusia lainnya di hadapannya
"Aku kembali ..."
