Langit mulai menguning, udara malam mulai hinggap bahkan sebelum timur benar-benar gelap. Induk-induk burung yang tadinya berkicau membawa gaduh kini mulai hening dan mulai menata selimut untuk tidur. Pastinya, setelah memastikan bahwa anak-anaknya tidak lapar lagi.
Sesore itu.
Dan dirinya masih berkutat dengan sepedanya. Mengabaikan senja yang sebentar lagi sudah akan pulang. Sesekali Bocah Raven itu tampak berdecak kesal. Merasa marah pada dirinya sendiri. Dirinya sendiri yang terlalu lemah. Bukan, bukan untuk bertarung. Dia bahkan masih anak-anak, yang mungkin masih terus harus diberitahu letak kaus kakinya.
"Sudahlah!"
Seekor kucing hitam tampak berlari terbirit saat bocah itu membanting sepeda birunya ke tanah. Kesal, lelah dan ... tidak terima. Dia marah, dia merasa sangat buruk. Untuk sesuatu yang entah apa saat bahkan di usianya yang mungkin masih harus berjinjit untuk mengayuh sepedanya.
"Hei, kalian tahu? Ada danau yang indah di bawah bukit. Ayo kita kesana!"
"Bunga-bunganya juga sedang bagus-bagusnya, lho!"
"Ayo cepat!"
"Apa?! Kau siapa? Kau ... kau Uchiha Sasuke, bukan?"
"Apa? Ikut kami? Tidak salah?"
"Kau bahkan tidak bisa naik sepeda! Karena setiap hari kau berangkat naik mobil, 'kan? Dan juga saat pulang pun orang itu selalu menjemputmu!"
"Pergi, kau! Jangan ikuti kami! Kami juga tidak akan pernah mau mengikuti mobil mahalmu itu!"
Entah dimana titik permasalahan yang membuatnya merasa kesal. Ia ingin menyangkal, tapi ia juga tidak punya sangkalan di sakunya. Itu benar, dirinya hanya seorang--entah siapa, yang selalu berangkat dan pulang sekolah bagai anak raja.
Tidak ada yang mau menjadi anak raja--yang istananya selalu sepi bahkan ketika volume televisinya sudah di angka paling tinggi. Sasuke menghela napas, memandang ke bawah. Ke arah sepedanya yang teronggok tak berdaya. Ia benci, saat ia dianggap berbeda. Ia benci saat mereka selalu memandangnya tanpa menghampirinya. Ia juga benci saat ... perusahaan--entah apa itu, lebih di anak-emaskan oleh Ibunya.
Tidak, ibunya tidak jahat. Hanya ... dua puluh empat jamnya tidak cukup banyak jika harus dibagi lagi untuk menemaninya mengerjakan PR, bermain petak-umpet, atau seperti sekarang. Dia terlalu sibuk, bahkan Sasuke ragu, kapan ibunya tidur saat ia bahkan belum pulang ketika Sasuke mulai mengantuk, atau sudah pergi bahkan saat Sasuke belum memakan sarapan paginya.
Usianya hampir tujuh tahun, tanpa dijelaskan lagi kalian sudah paham kenapa dirinya belum menguasai salah satu keahlian ini, bersepeda. Ia sebut keahlian karena memang sejak dulu ia hanya tahu duduk diam dengan sabuk pengaman sembari memandang ke arah luar jendela. Klise.
Dan Sasuke ragu ia menyukainya.
"Hai, kamu!"
Ia tersentak. Seorang gadis kecil mendekat. Sesuatu terasa menyilaukan dalam artian sesuatu terasa aneh saat memandang gadis itu. Sasuke hanya diam saat rambut merah muda pucat gadis kecil itu beterbangan tertiup angin senjakala yang agak membawa gigil.
"Ayo, biar aku ajari!"
Tunggu, apa?
"Apa?"
"Aku saja yang mengajari!" jawabnya sebelum menguntai senyum. Tampak manis, ah, m-maksudnya rambut merah mudanya. Sasuke menggeleng pelan. Tanpa berkata apapun dia meraih sepedanya, berniat pergi. Tapi sesuatu menghentikan gerakannya. Tentu saja gadis kecil itu. Apa lagi? Siapa lagi?
Sasuke menoleh, menatapnya.
Gadis kecil itu tersenyum, ia melepaskan cengkramannya di sepeda biru itu.
"Siapa?"
Gadis kecil pemilik iris sebening telaga itu mengernyit. "Apa?" tanyanya.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
"Namamu siapa?"
Dia tersenyum mendengar pertanyaan Sasuke. Surai merah jambunya tampak amat lembut walau mungkin terakhir disisir tadi pagi. Tetap saja tak menutup kesan indah yang membingkai wajah bulat kemerahannya.
"Sakura."
TBC
Direvisi. ✔️
Love you..
Melodya27
YOU ARE READING
Blooming Up My Flower
Fanfiction"Tinggalkan saja aku!" "Aku akan menderita." "Biarkan saja aku sengsara!" "Aku yang akan sekarat." "Biarkan aku terluka!" "Aku juga yang akan sakit." "Biarkan aku jatuh!" "Mungkin, aku akan ikut mati." "Kenapa?!" "Karena kau adalah bunga milikku!" P...
