1

9.1K 338 12
                                        

Retera POV

Mataku terbuka, tak sadar aku tertidur sangat lama. Kulihat dari cendela, langit telah gelap, para bintang tak hadir dalam gelapnya malam. Cuaca malam hari ini sangat dingin. Mungkin akan terjadi hujan pikirku. Kukenakan mantel hitam tebal favoritku, kusempatkan pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi untuk menghangatkan tubuhku. Kulangkahkan kaki ke balkon tempat favoritku, disini aku selalu menikmati kesendirianku. Sepi sudah menjadi teman lamaku.

Namaku Retera Noba, Seorang gadis yatim piatu. Usiaku menginjak 16 tahun, orangtuaku meninggal dalam kebakaran yg melahap habis rumahku, dan menyebabkan dua nyawa berharga melayang, kejadian itu terjadi saat aku berusia 10 tahun. Kini aku tinggal bersama Bibi Milan Loka, dia keluargaku satu-satunya yg masih ada, bersama anak laki-lakinya Vanuga Loka, usianya lebih tua 2 tahun dariku. Dia adalah kakak terbaik menurutku. Dia masih berstatus sama denganku,siswa di High School Alamena. Alamena adalah kota dimana aku tinggal sekarang. Dulu ketika orangtuaku masih hidup aku menetap di perbatasan kota Lema yg penduduknya sebagian besar berkebun, bisa disebut rumahku terletak dipedesaan, berbeda dengan sekarang, aku harus hidup ditengah hiruk pikuk ibukota.

Hampa, kata itu selalu ada dibenakku. Meskipun Bibi Milan dan Nuga selalu ada untukku tapi aku masih terlalu kesepian. Aku selalu berfikir kenapa aku masih diberi kehidupan? Kanapa, sedangkan aku tak bisa menghidupkan kehidupan itu sendiri.

Tak terasa kuhabiskan dini hariku, sekarang sudah pukul 5. Aku harus bersiap siap ke sekolah.

"Re, kau sudah bangun nak," itu sudah menjadi kebiasaan bibi Milan untuk membangunkan dan membuatkan sarapan untukku dan Nuga.

"Sudah bi, kau jangan khawatir ponakanmu ini adalah gadis yang rajin," teriakku dalam kamar mandi. Aku tidak habis fikir bibi Milan selalu baik padaku. Wanita yang sudah berkepala empat itu sangat perhatian padaku melebihi pada anaknya sendiri. Aku sangat menyayangi keluarga keduaku kini.

"ya ya, aku tahu itu. Bergegaslah jika kau tak mau bodyguardmu menjitakmu dengan tangan besinya," ocehnya sambil tertawa. Bodyguard yang ia maksud adalah Nuga, kakak yang menyebalkan dan overprotectif kepadaku. Dia sangat gengsi jika ia harus mengakui kalau dirinya menyayangiku. Dia selalu memakai alibi bahwa ibunya akan memarahinya jika dia tidak menjagaku.

Setelah 10 menit aku berkutik didalam kamarku, aku bergegas untuk manyamil sarapanku, semangkuk sereal yang lezat.

"kau ini seperti bayi unta lapar," protes Nuga saat aku menyuput habis sereal dalam cawan.

"Kau tau lah bayi unta akan makan lebih untuk memahami ocehan dari bayi naga sepertimu," ledekku.

"aww," rintihku setelah terkena jitakkan tangan besi Nuga.

"Sudahlah kalian ini, bergegaslah telat baru tau rasa," omel bibi Milan.

Kamipun berangkat bersama, di dalam mobil Nuga menyetir sambil mengoceh yang tidak jelas yang membuatku semakin sebal. 'Dasar tua menyebalkan' gerutuku dalam hati.

Sekarang kami sudah sampai di depan gerbang Sekolah Alamena.
Sekolah yg menampung berbagai siswa pintar kalangan menengah atas. Sekolah yang dijuluki 1001 lorong, tak sedikit yang tersesat saat menjadi siswa baru disini. Karna banyaknya koridor yg bernuansa sama, yang membedakan hanya papan nama diatas pintu yg terdapat disetiap ruangan.

Setelah mobil kami terparkir, setiap mata memandang kearah kami. Nuga selalu menjadi sorotan para bitch disini. Membuatku sangat risih, karena tak jarang aku mendapat surat cinta dan bunga yang sengaja dititipkan kepadaku untuk Nuga sialan.

Aku segera mengambil langkah menuju ruang kelasku, sebelum para bitch itu menghadangku. Aku sangat muak, terlebih jika aku menolak permintaan mereka, mereka akan membullyku habis-habisan. Aku heran apa yang membuat mereka kagum dan menjadikan Nuga sebagai idola mereka.

ReteraWhere stories live. Discover now