"aku tahu, yang membahagiakan dan pantas di kenang itu tak harus berasal dari hal besar, cukup senyum tulus dari orang yang berharga, siap menghantarkan mu ke atas awan"
***
Bus yang ku tumpangi melaju cepat membelah derasnya hujan di januri dan gemerlapnya malam di kota pahlawan. Ku bersihkan seragam putih ber name tag "Alendia A" dari tetesan air hujan yang sebelumnya telah hinggap, setelah terasa bersih aku pun menarik tas gendong dari punggung untuk duduk di pangkuan ku.
Aku bergumam lirih " kenapa hari ini hujan nya sangat deras".
Untuk menghilangkan rasa bosan dan penat, tangan ku merogoh buku kecil tipis bersampul hijau dan sedikit cemilan dari dalam tas gendongku. Tak kupedulikan bebarapa pasang mata yang melirik ke arahku setelah mendengar bunyi "kresek-kresek" dari pembungkus kentang yang baru saja di buka, sudah kebiasaan memang, membawa beberapa cemilan ketika aku keluar dari kost ku untuk sekedar bepergian atau untuk berangkat ke sekolah. Setidaknya dua atau tiga potong dari camilan yang kubawa dapat mengganjal perut ku yang sering kali merasa ingin di isi.
Ku buka buku kecil tipis yang sebelumnya telah ku keluarkan, sebenarnya buku ini hanyalah buku berisi lelucon yang kupinjam siang tadi dari teman karena penasaran melihat dia cengengesan tak jelas. Tangan yang kedinginan ini mencoba membolak-balik beberapa halaman, namun setelah seperkian menit tak kutemukan hal yang lucu sama sekali, entahlah mungkin selera humor ku sangat rendah. Akhirnya kuputuskan untuk menaruh kembali buku tersebut ke dalam tas.
Ku alihkan fokus ku untuk menikmati perjalanan. Yah meskipun aku sudah hapal dengan daerah yang di lewati bus ini.
Seperti biasa, bus yang kutumpangi selalu membawa banyak penumpang, begitupun hari ini .
Dari pakaian yang mereka kenakan aku bisa menebak sebagian profesi atau siapa mereka. Ada segerombalan remaja yang berdiri di samping pintu masuk mengenakan pakaian yang sama sepertiku, rok ataupun celana putih abu-abu dengan atasan putih tetapi memakai bet sekolah berbeda. Di sebelah nya duduk beberapa orang memakai kemeja dan beberapa memakai blezer yang kutebak mereka adalah pegawai atau pekerja kantoran yang baru pulang setelah seharian bekerja. Ada pula beberapa pasang orang tua yang mungkin sedang bepergian atau pulang. Tak lupa pula ada beberapa anak kecil dengan pakaian lusuh membawa plastik bungkus permen sambil memainkan sebuah alat musik dari tutup botol, ya mereka adalah pengamen kecil. Sedangkan aku sendiri adalah anak SMA yang duduk di belakang setelah pulang dari kegiatan ekstra yang melelahkan.
Bus yang kutumpangi berhenti di halte, segerombolan anak punk naik sambil cengar-cengir, ada para penjual makanan yang ikut naik juga, dan yang terakhir laki-laki berperawakan tinggi yang tak mau ketinggalan bus. Dari sekian banyak penumpang di bus hari ini yang cukup menarik perhatian ku adalah laki-laki yang baru saja naik tersebut. Bukan karena wajah nya yang rupawan, melainkan karena setelan pakaian dan barang yang ia kenakan. Celana jeans dan atasan kemeja setengah formal, jam tangan victorinox swis army berwarna biru navi, sneakers jebolan merek terkenal, serta tas gendong ber merk, sukses membuat nya menjadi pusat perhatian seluruh penumpang.
Yah, bagaimana tidak, mereka pasti berfikir "bagaimana bisa seseorang yang terlihat kaya menaiki bus seperti ini".
Aku tersenyum miring melihat beberapa gadis SMA lain yang cekikikan berusaha menarik perhatiannya, serta wanita berpakaian kantoran yang sejak laki-laki tersebut naik, ia berusaha memperlihatkan senyum termanisnya.
"oh ayolah, apakah mereka pikir pemuda tersebut akan tertarik, mengapa mereka berusaha sekali menarik perhatian nya" bisik ku dalam hati.
YOU ARE READING
Remember The Rainy Season in January
Teen FictionAlendia Arista gadis pemberani yang tak kenal jatuh cinta, tiba-tiba bertemu sesosok laki-laki yang membuat nya terkagum, Revan Pratama . Berawal dari pertemuan di dalam bus saat hujan di bulan januari, Alendia mulai merasakan getaran yang menyesaka...
