Imagination Weapon adalah senjata yang muncul dengan membayangkan bentuk yang diinginkan dengan kekuatan sihir, walaupun kebanyakan senjata yang muncul adalah cerminan dari hati, sifat, masa lalu, ataupun masa depan pemiliknya. Puluhan tahun yang la...
Aku melihat ke arah lingkaran sihir yang berada tepat di depanku. Aku membuatnya untuk mengirim Celia ke masa lalu.
"Terima kasih Mama karena sudah membantuku. Sudah cukup, aku bisa meneruskannya sendiri."
"Apa kau yakin soal ini?" Tanya mama ku padaku.
"Hm, tentu saja." Kataku sembari tersenyum.
"Begitu. Tapi jika kau gagal...."
"Jika gagal, maka sudah pasti aku akan benar-benar kehilangan segalanya."
Mama ku terdiam, matanya berkaca-kaca seperti akan menangis. Aku membuat pilihan yang sulit. Awalnya mama ku tidak mengizinkanku, tapi setelah aku bersikeras untuk melakukannya akhirnya mama ku mengizinkannya.
"Lagi pula ini adalah pilihan yang aku buat, pilihan yang aku buat karena kesalahanku."
Aku melihat kertas yang saat ini sedang kupegang. Kertas ini berisi mantra sihir yang aku buat. "Semua ini demi dirinya" kata-kata itulah yang selalu terpikirkan olehku.
"Papa, Celia sudah siap!"
Suara Celia yang memanggilku, dia berlari kearahku lalu langsung memelukku.
"Hm, baguslah."
"Celia jangan tinggalkan kakek,"
Papa ku berlari mengejar Celia. Karena sejak tadi, papa ku lah yang menemani Celia mandi dan memakaikan pakaiannya
"Huh ... huh..., Kau benar-benar jahat ya, Celia."
"Hihihi, bukankah sudah Celia katakan kalau kita akan berlomba lari, kakek!" Celia sangat bersemangat mengatakannya.
"Kalau begitu waktunya berangkat, Celia."
Aku memaksakan diriku untuk tersenyum. Ini saatnya berpisah dengannya, dan aku tidak akan pernah bisa melihatnya lagi dalam waktu yang cukup lama.
"Ummu, Celia sudah siap!" Dia memberiku hormat seperti seorang veteran.
"Celia, bukan 'Ummu' tapi 'roger!' yang benar."
Itu kebiasaan papa ku, dia selalu mengajari Celia untuk selalu mengatakan 'Roger'. Keluargaku ini memang terlihat aneh. Kenapa dia membuat Celia terlihat seperti seorang veteran? Aku benar-benar tidak mengerti
"Hooo. Roger!"
Celia masih saja bisa tersenyum disaat seperti ini, padahal aku akan melakukan sesuatu yang kejam padanya tapi dia masih saja bisa tersenyum?
"Kalau begitu ini pesan dari nenek sebelum Celia pergi,"
Mama-ku berjalan menghampiri Celia lalu berjongkok dan memegang bahu Celia,
"Ingatlah untuk tetap selalu tersenyum, karena apapun yang terjadi nenek akan selalu berada di pihak Celia."
Mama ku tersenyum, tapi aku tahu dia berusaha menahan air matanya,
"Terima kasih, nenek."
"Kalau begitu nenek permisi dulu. Bye-bye, Celia."
"Bye-bye, nenek!"
Mama ku langsung pergi keluar diikuti papa ku. Aku yakin mama ku sedang menangis sekarang, dia berusaha menahannya di depan Celia. Celia terus memandangi mama-ku yang pergi keluar dari ruangan ini.
"Celia tidak keberatan 'kan dengan ini?"
"Ummu, lagi pula ini demi kebahagiaan papa 'kan? Jika papa bahagia, pasti Celia juga akan bahagia."
Lagi-lagi dia mengatakan kalau ini demi kebahagiaanku. Memang benar ini keinginanku, tapi aku tidak ingin memaksakannya.
"Hm, kau benar. Ini demi kebahagiaan kita berdua." Aku mencoba tersenyum.
"Ummu, Celia akan berusaha menyelamatkan masa depan kita. Celia rela mempertaruhkan semuanya."
Dia tersenyum dengan lebar, sial aku benar-benar tidak bisa menahan air mataku. Kata-katanya benar-benar mengingatkanku padanya.
"Terima kasih, Celia. Kalau begitu berdirilah di sana."
Aku menyuruhnya untuk berdiri di tengah-tengah lingkaran sihir yang aku buat.
"Roger!"
Dia pun langsung berjalan kesana dan berhenti ditengah-tengah lingkaran sihir itu.
"Kau sudah siap?"
"Roger!" Teriaknya dengan semangat.
"Jangan lupa mengembalikan kertas yang papa berikan tadi ke papa yang ada di masa lalu ya."
"Roger!"
Aku pun langsung merapalkan mantra sihir. Lingkaran itu mulai memancarkan cahaya. Sepertinya dengan begini sudah baik, pikirku. Disaat aku hampir selesai merapalkan mantra sihirku, aku melihat senyuman lebar Celia. Tanpa kusadari, aku meneteskan air mataku. Semakin banyak menetes, hingga akhirnya aku tidak bisa menahan isakkan ku.
"Papa, jangan menangis. Celia akan baik-baik saja kok."
Melihatnya yang sedang berusaha menghiburku aku jadi tidak punya pilihan lain selain berusaha untuk tetap tersenyum.
"Roger."
Celia tertawa mendengarku mengatakan itu, sepertinya dia sangat senang mendengarnya. Ini mungkin akan menjadi yang terakhir kalinya aku melihat senyumannya dan tawanya. Karena keegoisanku, aku kehilangan senyumannya, senyuman yang sangat berharga untukku.
"Bye-bye, papa."
Setelah mengatakan itu Celia langsung menghilang tanpa meninggalkan jejak. Aku menangis sendirian sekarang. Dengan ini aku kehilangan segalanya bagiku. Aku tidak mempunyai apa-apa lagi. Kehidupanku benar-benar sudah berakhir....
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.