Cahaya matahari semakin menyurut tiap detiknya menimbulkan goresan merah pada langit sebagai pertanda senja. Malam akan segera tiba namun sepertinya orang-orang tak ingin beristirahat barang sejenak, keramaian malah semakin membeludak seiring hari telah berganti. Gadis itu juga termasuk di dalamnya, masih dengan seragam sekolah yang berantakan, rambut yang kusut serta tas yang diseret paksa terlihat kontras dengan orang-orang disekeliling yang memakai pakaian rapi bersama teman, pacar, ataupun keluarga.
Gadis itu menoleh sekilas ke belakang dan menemukan seseorang mengikutinya namun sama sekali dihiraukan, ia kembali melanjutkan langkah kemudian berbelok sedikit menuju tempat yang agak sepi. Matanya bergerak gelisah, kakinya tepat berhenti di belakang rumah hantu untuk menunggu orang itu berbicara padanya.
"Kamu lebih baik pulang, ini sudah malam. Kasihan ibumu pasti khawatir." Gadis itu berbicara setelah orang itu berdiri dihadapan dengan menundukkan wajah.
Mata hitam berbingkai kacamata dengan bulu alis yang tebal itu terlihat mengkerut bingung.
"A..ku ti...dak akan pu...lang se...belum ka...mu ikut pu...lang, Naila." Kata itu terucap pelan bahkan hampir tidak terdengar.
Gadis yang dipanggil Naila mendengkus kasar, ia melempar tasnya membentur dada orang itu. Tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang bukan karena tidak kuat menahan beban melainkan karena terkejut akan perbuatan Naila.
"Kamu lebih baik pergi, Vin! Aku akan pulang sendiri jika aku mau, tapi untuk sekarang, belum. Aku bukan anak kecil yang perlu diawasi bahkan aku bisa menjaga diri lebih dari kamu!" Naila terlampau kesal, nadanya membentak dan meluap-luap, belum selesai amarahnya mereda akan masalah yang datang dalam hidupnya kini bertambah manusia lain yang hadir untuk mengganggunya.
Naila kembali mendorong bahu orang itu menjauh darinya, namun tenaganya sama sekali tidak membuat orang itu berpindah tempat. Senyum Naila semakin terangkat kala melihat orang itu semakin menunduk dalam.
"Kamu tahu, Kevin Andrawijaya, aku sama sekali tidak membutuhkanmu. Kamu lihat sendiri bahkan aku lebih mampu menjaga diriku dibandingkan kamu sendiri. Kamu memang memiliki fisik seperti laki-laki tapi sikapmu seperti perempuan yang hanya mampu menunduk dan meminta maaf saat orang menginjak harga dirimu, kamu tidak ubahnya seperti orang pengecut yang tidak bisa melawan seperti halnya laki-laki pada umumnya."
Naila berucap dingin matanya menyorot menatap tajam laki-laki yang kini mendongak balas menatap dengan wajah pias. Namun seperti yang Naila duga tak ada balasan sama sekali, mulut laki-laki itu bungkam seribu bahasa, sepersekian detik setelah menatap ia kembali menunduk. Naila semakin marah karenanya, lelaki itu masih keras kepala berdiri dihadapannya setelah diperlakukan kasar sekalipun.
"Pergilah...biarkan aku sendiri, Kevin! Kamu tuli atau gimana sih. Aku bilang pergi! Aku akan pulang jika aku mau, jangan menyusahkan dirimu sendiri dengan mengikuti kemanapun aku pergi. Ingat kamu tidak akan dibayar melakukan ini, jika aku jadi kamu aku akan pulang, makan, mandi dan tidur. Tapi sayangnya aku punya urusan saat ini."
Naila merebut tas yang tadi ia lemparkan pada Kevin dan kembali berjalan cepat tak menghiraukan apapun lagi karena lelaki itu sekarang tak mengikutinya lagi. Tujuannya harus segera dituntaskan, tak ingin terlalu lama menunda. Ia harus segera bertemu seseorang dan menyelesaikan urusannya.
Naila akhirnya sampai di depan rumah sederhana yang sudah tua di makan usia, cat dindingnya sudah mengelupas dengan banyak genting yang berjatuhan hingga menimbulkan lubang di rumah tersebut, jika hujan mungkin rumah itu sudah tidak tertolong lagi. Langkahnya mantap berjalan masuk, menimbulkan deritan dari pintu kayu saat pintu itu berhasil dibuka.
Naila membawa uang hasil pekerjaannya paruh waktu untuk diberikan pada seseorang yang selalu mengganggu hidup keluarganya. Orang itu ternyata sudah duduk seperti menunggu kedatangan Naila dan menyambutnya dengan senyuman yang membuat Naila merasa muak.
YOU ARE READING
Surrender
Teen FictionAda sebuah kalimat yang begitu melekat dalam ingatannya yang diucapkan tepat pada dini hari dengan begitu datar tanpa perasaan; "Jika kamu sangat mencintaiku, cintailah aku sampai kamu bosan." •••••••••• Kevin Andrawijaya diciptakan Tuhan dengan beg...
