Gaun Pengantin

98 1 0
                                        

"Ternyata kamu gak berubah ya.."

"Apa?"

"Iya, masih kamu yang kekanak-kanakan seperti dulu.."

"Dan kamu juga gak berubah."

"Maksudnya?"

"Ya, masih tetap mencintaiku..."


GAUN PENGANTIN

Written by: aprilliouz

"Bangun woi!" Pagi itu entah ke berapa kalinya suara menggema. Kuyakini bahwa itu suara mamaku. Ya. wanita yang sama yang melakukan hal ini sejak aku kecil. Ya, membangunkanku pagi-pagi maksudnya. Aku tidak malas kok. Semalaman aku baru melakukan hal-hal penting.

"Kerjaan main game terus. Kamu sadar ngga, kamu sebentar lagi mau nikah!"

"Aduh ma. Aku kan semalem bikin tugas.."

"Tugas apaan? Jangan bohong. Mama semalam denger jelas kok.." Lagi-lagi suara itu tinggi. Tinggi sekali bahkan hingga membuat kupingku bergetar.

"Mama cantik deh. Aku hari ini mau pergi ke luar. Mama mau titip apa?"

"Ah kebiasan kamu ini. Ya udahlah.." Mama akhirnya memaklumi. Walau rayuanku itu tak sepenuhnya membuat hatinya luluh.

Tak banyak bicara, aku akhirnya memilih untuk mencium pipinya sekilas kemudian berlari menyambar handuk. Dan bisa kulihat Mama tersenyum karena perlakuanku itu.

"Ma, airnya kok kecil?" Aku merasa ada yang tidak beres dari shower yang mengguyur tubuhku ini.

"Sabar. Mama lagi nyiram bunga dulu.." Ah tentu saja. Aku lupa dengan kebiasaan yang sering Mama lakukan di hari senin pagi itu. Mama adalah pensiunan dari sebuah perkantoran. Dan kini ia menikmati masa tuanya dengan merawat tanaman-tanaman dan hewan peliharaan. Aku sendiri sekarang sudah kerja. Beruntung kini sedang liburan dan mempersiapkan pernikahanku. Mungkin kalau aku lebih jarang lagi untuk pulang, rumahku ini akan berubah menjadi hutan.

Papaku sudah meninggal setahun yang lalu. Memang rasanya cukup mendalam dan membuat kami merasa kehilangan. Papa adalah orang yang bisa menjadi suntikan semangat dalam keluarga. Namun tak apa. Bukankah semua orang akan meninggal? Mau tak mau hari itu akan tiba. Aku hanya berharap aku tak kehilangan Mama secepat Papa.

Tak mau lama berlarut-larut, aku akhirnya kembali melanjutkan aktivitasku mandi dan bersiap untuk segera berangkat.

"Mau kemana kamu hari ini?" tanya Mama. Lagi-lagi tak memberiku kesempatan untuk mengenakan bajuku dulu.

"Mau ketemu sama temen SMA ma.."

"Ooh iya. Eh, sekalian. Kamu cari bunga gih buat keperluan kamu nanti.." Ujar Mama sambil masih menyiram bunganya. Kali ini adalah jenis tanaman euphorbhia.

"Apaan? Bunga yang sama kayak yang mama siram?"

"Huss. Kamu itu suka sembarangan. Masa bunga buat nikahan kamu mau pake bunga yang berduri macam gini.." Mama menyentilku. Aku terkekeh.

"Pake bunga tulip ya.. sama mawar. Warnanya yang merah sama putih aja."

"Oke Ma siap.."

Aku akhirnya mengiyakan sembari membuka lemariku. Mencari pakaian yang pas untuk aku kenakan hari ini.

"Kamu tuh ya. harusnya kamu tuh dipingit. Dulu waktu Mama mau nikah sama Papamu, Mama tuh gak boleh kemana-mana lho. Pamali"

"Yeeh Mama. Apaan. Gak nyambung. Lagian aku kan laki-laki.."

MantanStories to obsess over. Discover now